MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH ENAM


__ADS_3

Ali berjalan kian cepat menelusuri aspal hitam yang dingin di tengah gelap malam.


Tubuhnya mulai menggigil. Ternyata jarak tempuh dari kediaman Yadi ke tempatnya lumayan jauh juga.


Tapi saat ini tujuannya adalah sebuah rumah batu yang memiliki cerobong asap.


Kenapa jalanan ini seperti tak berujung? Dimana rumah batu bercerobong asap itu, ya Allah?


Ali yang sendirian dibawah cahaya bulan yang temaram mulai merasa ketakutan.


Takut kalau waktunya telah habis dan tiba-tiba malam berganti pagi. Karena Ali mendengar sayup-sayup suara ayam jantan berkokok pertanda hari menjelang berganti.


'Kukuruyuuuuk...'


'Kukuruyuuuuk...'


Suaranya berubah tempat. Berarti ayam itu ada di beberapa titik.


Ali menatap langit kelam.


"Ya Allah, jangan biarkan Aku melintasi waktu yang seharusnya kucapai untuk bertemu seseorang di rumah batu bercerobong asap. Tolonglah hamba-Mu ini ya Allah!"


Ali mempercepat langkahnya.


Matanya dibelalakkan agar tidak ada yang terlewat.


Ali memicingkan dua bola matanya. Kemudian membulat lebih besar agar Ia memastikan kalau penglihatannya tidaklah salah.


"Cerobong asap! Ya, benar!" pekiknya mulai menyadari kalau asap putih yang mengepul di langit gelap itu adalah asap yang berasal dari cerobong. Dan...


Dan rumah yang bercerobong itu terbuat dari tumpukan batu kali yang tersusun rapi.


Ali kian mempercepat langkahnya seiring hatinya yang lega.


"Alhamdulillah hahh hahh..."


Kini Ia bahkan berlari menuju rumah itu lalu,


Tok tok tok


Tok tok tok


"Assalamualaikum! Assalamualaikum..."


Sepi, tidak ada jawaban.


Peluh Ali membasahi pelipisnya. Butiran-butiran sebesar biji jagung itu segera dilapnya dengan pangkal lengan.


"Assalamualaikum..." seru Ali, kali ini lebih kuat suaranya.


"Waalaikum salam..."


Hahhh...


Lega hati Ali.


Ada jawaban terdengar dari balik pintu rumah kecil namun kokoh itu.


Krieeet...


Sesosok tubuh pria tua nan kurus dengan tubuh melengkung seperti sedang ruku'.


"Ali?!?"


"Saya Ali, Eyang! Hik hiks hiks..."


Ali seperti bisa mengetahui kalau sosok pria tua renta itu adalah Eyangnya. Ia langsung merangkul kakek tua itu dan jatuhkan diri di lantai hingga posisi kepalanya jatuh ke perut sang kakek.


"Bangun, Nak! Kita harus kembali menutup pintu rumah ini dengan segel!"


Ali terkesiap. Seketika Ia tersadar.


Eyangnya seperti sedang dalam kurungan.


Krieeet...

__ADS_1


Pintu rumah kembali ditutup Toro dan...


Ali terbelalak kaget.


"Di_dimana ini, Eyang?" tanyanya dengan suara gagap.


Ali melihat pemandangan sekeliling dengan ekor matanya yang tajam.


Suasana hutan yang gelap gulita. Sangat gelap dan bukan lagi seperti di desa Kandut yang luas dan lapang jalan beraspal.


Bau aroma tanah yang basah membuat Ali menghela nafasnya sejenak. Seperti habis diguyur hujan.


Rumah Toro pun kini hanyalah terbuat dari potongan bilah-bilah bambu yang diseset sembarang. Karena ukurannya yang tidak sama satu dengan yang lain. Sangat sangat sederhana dan hanya ada satu bale reot tanpa alas sebagai hamparannya.


"Eyang tinggal di sini selama bertahun-tahun?"


Toro mengangguk sambil tersenyum.


Pertanyaan cucunya membuat Toro mengambil sebuah kitab kuning tebal bertuliskan huruf Arab gundul.


"Dunia ini sudah sangat tua. Apalagi para penghuninya kini nyaris tidak peduli dengan Bumi tempat mereka tinggal dan berpijak. Bumi sakit. Sekarat. Butuh obat untuk menguatkan dirinya agar terus menopang para manusia yang justru berubah menjadi sekumpulan pengikut setan yang sangat bernafsu menghancurkannya."


Ali menelan ludah.


Ucapan Eyangnya benar.


Ali terkesiap. Jemari halus sehalus sutra membelai ujung kepala hingga terasa kesejukannya.


"Eyang... Apa yang telah terjadi?" tanya Ali.


"Aku berseteru dengan bapak mertua ku sendiri dan saudara ipar, Le!"


Ali menarik nafas panjang.


Sedikit demi sedikit mulai faham cerita-cerita yang bagaikan potongan puzzle dari pak Setan, pak Kadus Toha, Keti dan juga Simbah Marsinah. Bahkan cerita Yadi juga beberapa orang yang sekedar obrolan santai saja dengannya.


Toro menceritakan tentang dirinya.


Tentang rasa cintanya pada Suminah, gadis desa yang alim dan pandai mengaji itu.


Tentang dirinya yang hanya seorang anak yatim piatu tiada Ayah juga Ibu.


Tuhan mendengar doanya.


Tuhan kabulkan pula tanpa banyak hambatan yang berarti.


Bahkan setelah menikah, kehidupan rumah tangga mereka melesat cepat bak roket.


Memiliki istri seorang pejabat pemerintahan yang bergelimang harta tentu saja membuat Toro jauh lebih santai dari pemikirannya.


Ia yang memiliki orang tua berkemampuan tinggi diatas rata-rata manusia normal pada umumnya justru mulai tertarik mengikuti jejak sebagai seorang berjulukan orang pintar.


Toro yang mendapatkan ilmu magis hanya lewat mimpi itu pun meminta Suminah istrinya untuk mendukungnya.


Sebenarnya Suminah tidak mendukung sepenuhnya.


Kehidupan dunia lain itu berbeda dengan kehidupan dunia fana.


Manusia saja tidak bisa dipercaya omongannya apalagi makhluk astral yang tak kasat mata yang memang Allah ciptakan dari api yang panas.


Bergelut dengan ilmu-ilmu gaib dan berteman dengan para jin, setan juga bangsa iblis membuat Suminah seringkali was-was walaupun justru Hayuh, Bapaknya sangat mendukung profesi baru Toro sebagai orang pintar nomor satu di kampung yang jadi wilayah kekuasaannya.


Ternyata, pepatah di atas langit masih ada langit itu benar adanya.. Toro mengalami sendiri makna dari pepatah kuno itu.


Tuhan menguji Keimanannya.


Seorang pria yang usianya sepuluh tahun lebih muda dari Toro datang ke kampung yang dipimpin pak Hayuh. Konon katanya dia adalah keturunan asli kampung sini yang merantau ke kota belasan tahun lalu.


Kandut namanya.


Kandut mengaku lahir di kampung ini.


Kandut adalah pribadi yang humble. Jauh berbeda dengan Toro yang introvert dan kurang suka mengobrol dan kumpul bersama Hayuh serta sesepuh-sesepuh lain.


Toro lebih suka berdiam diri di rumah. Membaca buku dan tirakat selain membantu orang-orang yang mendatanginya meminta bantuan.

__ADS_1


Kandut awalnya yang hanya seorang pemuda fakir bahkan hanya punya baju dibadan, menjadi pesuruh Hayuh di kantor Kelurahan.


Pemuda itu dengan cepat berhasil masuk kedalam lingkungan pemerintahan karena sifatnya yang baik, periang, ceria dan ringan tangan.


Kandut selalu bergerak cepat jika ada orang yang menyuruhnya terutama jika orang itu adalah Hayuh.


Sama seperti Toro, diam-diam Kandut juga memadu kasih dengan putri Hayuh dari selir atau istri siri Hayuh yang ada di kampung sebelah.


Seorang pesinden karawitan yang terkenal ajian semar mesem-nya, memiliki putri tunggal yang akhirnya dinikahi Kandut.


Hayuh yang ternyata sangat memfavoritkan Rihanah, istrinya yang bahenol itu akhirnya termakan hasutan dari seorang dukun. Katanya tampuk kekuasaannya tidak akan bertahan lama jika dirinya terus berfokus pada Toro, menantu kesayangan Hayuh yang kalem dan tidak neko-neko itu.


Jika Hayuh masih ingin menjadi orang yang berkuasa di kampung itu, maka Ia harus beralih kepada Kandut karena ilmu-ilmu supranatural Kandut jauh lebih mumpuni dibandingkan ilmunya Toro.


Begitu katanya.


Hayuh memikirkan semalaman nasib dirinya.


Ia tidak mau jadi orang biasa.


Ia tidak sanggup membayangkan dirinya yang lengser dan perlahan dilupakan warga tak lagi dipandang luhur oleh mereka.


Hayuh tidak siap lahir batin.


Akhirnya Ia memutuskan untuk ikuti saran Kandut, menantunya dari anak Rihanah pesinden karawitan itu.


Dari situlah awal bencana demi bencana berdatangan menghantam kehidupan Toro Margens.


Empat anak Toro yang masih kecil-kecil justru dijadikan tumbal makanan setan untuk mempertahankan kekuasaannya agar bisa seumur hidup bahkan kalau bisa sampai turun ke anak cucu. Itu keinginan terkuat Hayuh saat ini hingga lupa diri, hilang akal sehat.


Perseteruan kian memanas setelah itu meskipun Toro mengalah dengan membawa Suminah menjauh dari kampung dan membuka lahan hutan untuk huniannya selanjutnya.


Melihat Toro yang masih bisa hidup tenang, Kandut menghasut Hayuh kembali.


Kampung baru yang dibangun Toro diambil alih kepemimpinannya dan berhasil diganti nama kampungnya dengan nama desa Kandut.


Pukulan yang sangat telak pastinya bagi Toro yang pada awalnya tidak ingin melawan.


Toro akhirnya harus menghentikan langkah Hayuh terutama Kandut, si biang kerok.


Pertarungan berhasil Ia menangkan. Meskipun mertuanya harus gugur bersama dengan si dukun jahat Kandut.


Namun ternyata semua tidak berakhir sampai di situ.


Kandut rupanya sudah memprediksi dengan membangun benteng-benteng pertahanan yang terdiri dari lapisan para pengikutnya yang sudah dicuci otaknya hingga manut dan terus setia mendukungnya bahkan meskipun roh Kandut telah berada di alam lain.


Kandut masih ada di atas angin. Manusia zombie itu berhasil mendapatkan sebuah cermin ajaib yang ditarik dari tirakatnya empat puluh hari empat puluh malam dengan tinggal di atas pohon.


Sebuah cermin ajaib, yang bisa mengabulkan keinginan si pemiliknya merubah nasib buruk menjadi nasib baik.


Dimana cermin ajaib itu adalah hasil buatan seorang ilmuwan hebat Negeri Atlantis sebelum tenggelam di dasar bumi bagian lautan terdalam sekitar sembilan ribu tahun sebelum Masehi.


Cermin itu adalah bukti kesombongan manusia yang merasa mampu mengalahkan Tuhan dengan merubah takdir yang sudah digariskan lewat sebuah perjalanan waktu yang berhasil para manusia jenius ungkap kala itu.


Ada satu tirakat yang dipercaya paranormal atau pemilik ilmu supranatural, kalau memang benar ada suatu kehidupan yang dinamakan adikodrati. Yaitu kehidupan yang tidak dapat dijelaskan dengan hukum alam.


Kehidupan dimasa mendatang yang bisa ditarik untuk dipakai di dunia saat ini.


Contoh kecilnya seperti ilmu penarik rezeki yang lebih dikenal sebagai penarikan uang gaib lewat ritual mistis. Itu memang benar ada dan hanya satu dua orang pintar saja yang bisa melakukannya. Selebihnya, itu hanya orang-orang sok pinter yang iseng dan menipu.


Beruntungnya Toro berhasil menarik cermin ajaib yang ada di tangan Kandut tanpa sepengetahuannya. Dan menyembunyikannya di rumah besar Toro serta ditutupi oleh ajian ilmu sirep sehingga tidak bisa dilihat oleh orang-orang biasa.


Ali tertegun dengan mulut ternganga mendengar cerita panjang Toro Margens.


"Eyang...! Ali bahkan sudah beberapa kali masuk ke dalam cermin ajaib itu, Eyang! Ali bahkan telah merubah beberapa part kesedihan dalam hidup Ali dan orang sekitar. Imbasnya..., kini Ali linglung dan mendapatkan nasib buruk yang lain!"


"Kamu berhasil masuk ke dalam cermin ajaib itu, Ali?"


Toro menatap wajah cucunya dengan perasaan takjub.


Ternyata cucunya memang bukan orang sembarangan.


Toro berdoa dalam hati, semoga Ali bisa amanah dan membuka tabir cermin ajaib yang disinyalir adalah jalan pintu portal dunia lain yang disebut system Galaksi Kehidupan.


"Ali dan Keti bahkan menemukan sebuah buku panduan system Galaksi Kehidupan!"

__ADS_1


"System Galaksi Kehidupan??? Ternyata,... kalian lebih banyak tahu dari yang Aku bayangkan!"


BERSAMBUNG


__ADS_2