
Usia dua puluh tahun, masih sangat muda untuk ukuran pria. Kondisi kejiwaan dan juga status pekerjaan masih labil. Diajak nikah teman sekolah dasar bahkan tanpa ada hubungan pacaran sebelumnya, tentu saja membuat Ali kelimpungan.
Malam panjang, Ia tak dapat tidur meskipun sekejap.
Sesekali duduk di atas kasur tipis. Membuka pin kode ponselnya dan kembali membaca chattan panjangnya dengan Katrina alias Keti.
Gila bener si Laila! Dia gak mikir panjang apa, ngajak gue nikah?! Ya Allah... bukan gue ga mau. Bukan gue cowok munafik. Bukan... Tapi, gue beneran belum siap lahir batin. Asli rasanya kayak Laila ngajak holiday ke neraka!
Sriiinggg
Sriiinggg
Sriiinggg
Pukul satu dini hari.
Tiba-tiba lampu bohlam lima Watt yang super redup itu berkedip-kedip.
Sontak Ali terkejut sekali.
Brakkk
Tiba-tiba terdengar suara pintu yang dibuka paksa.
"A_apa itu???"
Brak brak brakkk
Ali menahan nafasnya.
Ga mungkin ada rampok masuk rumah ini kan? Mau ambil apa mereka di rumah butut yang nyaris rubuh ini?
Ali bangkit berdiri.
Tersadar kalau Ia harus berjiwa ksatria karena Ia adalah seorang laki-laki sejati.
Perlahan Ia melangkah ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Mengintip dengan pelan dari celah-celah daun pintu untuk melihat ada apa diluar.
Yadi?!?
"Ali Akbar! Keluarlah!!!"
Ali terkesiap. Ternyata Yadi memang datang ke rumah kontrakan orangtuanya lewat cermin ajaib yang ada di dalam lemari kusamnya.
__ADS_1
Krieeet...
"Yadi. Ternyata kau masih hidup. Dan hebatnya kamu bisa sampai sini, berhasil keluar dari cermin ajaib."
"Hehehe... hehehe..."
Yadi tertawa terbahak-bahak padahal tidak ada yang lucu.
"Hebat kan, Aku? Dimensi mana yang tak kuobrak-abrik cuma untuk mencari keberadaanmu yang fasik."
"Hei!?! Tak salah kau mengatai keberadaanku fasik? Bukankah itu seharusnya ditujukan kepadamu dan juga kakekmu Embah Kandut? Kalian... sudah mati. Secara kasat mata, kami kaum manusia sudah tidak bisa melihatmu dengan mata telanjang. Tapi kalian pintar sekali menghasut pengikut kalian yang buta mata buta hati. Dan memanfaatkan mereka untuk kidung-kidung pujian penguat roh kehidupan kalian yang sudah Allah angkat!"
"Hahaha... itulah Kehebatan Embahku! Dan seharusnya kau dan Eyangmu menerima kenyataan itu!"
"Kami selalu menerima ketetapan Allah Ta'ala! Kami tidak akan jadi orang yang ingkar akan nikmat Illahi baik itu qodo dan qodar, baik atau pun buruk. Semua datangnya dari Allah."
"Hm... Sudahi kotbahmu yang bikin telingaku gatal! Serahkan tiga kitab Sistem Galaksi Kehidupan yang ada padamu, wahai manusia pencuri! Dulu..., Eyangmu mencuri cermin ajaib yang berhasil Embahku dapatkan dari tirakatnya. Sekarang cermin itu ada padamu. Ambillah! Manfaatkan semaksimal mungkin untuk merubah hidupmu yang apes terus menerus. Tapi kembalikan tiga kitab Sistem Galaksi Kehidupan itu. Biar Aku yang pegang!"
Ali tersentak.
"Tidak! Aku tidak memegang ketiga kitab berseri itu! Bahkan cermin ajaib pun baru kuketahui ada di dalam lemari pakaian keluargaku!"
Yadi tertegun.
Ia seperti sedang menerawang Ali. Dan terkejut melihat aura kejujuran Ali yang terdeteksi seratus persen tiada kebohongan.
"Dimana buku itu?" tanya Yadi maupun Ali secara berbarengan.
Keduanya saling bertatapan.
Tak ada yang memegang buku itu. Ali dan Yadi sama-sama tidak ingin disalahkan karena memang tidak memegang ketiga kitab.
"Tunggu! Bukannya kau sudah mati kena petir di pertarungan terakhir kita?" tanya Ali menelisik.
"Aku masih hidup, Ali! Meskipun cukup lama tubuhku terbaring tak berdaya selama berminggu-minggu, tapi lihatlah sendiri. Aku, Yadi cucu Embah Kandut masih berdiri tegak dan masih sanggup untuk tarung one by one denganmu!"
"Hm. Ternyata Allah masih memberimu kesempatan hidup. Untuk memperbaiki kualitas hidupmu yang selama ini hanya jadi bayangan hitam Embah Kandut."
"Ck. Jangan sok suci menasehatiku tentang kualitas hidup. Urusi saja hidupmu. Apakah sudah berkualitas atau belum. Jangan sok jadi orang paling benar, tapi kenyataannya dirimu dipenuhi dengan rasa sombong, karena merasa paling benar. Padahal Eyangmu juga tak lebih dari seorang laki-laki yang pandai memanfaatkan keadaan. Eyang buyutku sendiri adalah orang terpandang yang selalu Ia manfaatkan selama ini. Alih-alih mengobati Eyang buyut, Eyang Toro justru minta bayaran dinikahkan dengan Simbah Uti Martinah. Dasar akal bulus! Dan sekarang sifat sok suci namun rakus itu turun kepada cucunya!"
Ali tersenyum. Yadi masih terus menyerang mentalnya dengan cerita-cerita masa lalu Eyang yang kurang baik.
Ia tidak terlalu pedulikan itu. Yang Ia pedulikan kini adalah perubahan yang baik yang harus Ia lakukan. Untuk kebaikan hidupnya di masa mendatang.
__ADS_1
Barangsiapa yang ingin menuai keberkahan, maka taburlah kebajikan. Barangsiapa yang ingin mendapatkan kesusahan, semailah sesuka hati perlakuan buruk, kebencian dan iri hati dengki.
Tuhan Maha Baik.
Diberinya kita manusia pada pilihan-pilihan. Dan setiap pilihan pasti ada konsekuensinya.
"Kamu masih ingin menebar bibit kebencian dan dendam kesumat agar permusuhan ini terus berlanjut beratus-ratus episode? Itukah maumu? Tidakkah kau lelah harus terus bertingkah seperti itu? Bukankah sebaiknya kita sebagai sepupu saling berpegangan tangan? Tolong menolong dalam kebajikan. Saling menarik jika salah seorang dari kita terjelembab. Bukankah hidup seperti itu lebih damai dan tentram?"
"Cih! Pandainya kau merangkai kata! Benar-benar titisan Eyang Toro!"
"Apa gunanya perseteruan ini? Untuk apa? Untuk membuat susah para keturunan kita dimasa mendatang? Atau untuk pembuktian kalau kita sudah saling menjatuhkan satu sama lain padahal ada darah yang sama mengalir di tubuh kita?"
"Stop! Hentikan ceramahmu! Kalau kau mau jadi imam Mahdi, pergilah ke arah Barat. Disana sedang marak aliran sesat. Siapa tahu pengikutmu yang bodoh, akan membukakan jalan untuk kau jadi orang nomor satu!"
"Aku tidak ingin jadi orang nomor satu! Aku... tidak butuh pengakuan seperti Embahmu yang haus kedudukan dan kekayaan.. Aku hanya ingin hidup tenteram. Bahagia, damai sejahtera."
"Amitaba! Hahaha... Teruslah berpura-pura menjadi orang baik! Lanjutkan! Karena di kehidupanmu ke depan, Aku bisa melihat dirimu yang akan jadi superstar! Hahaha..."
"Astaghfirullahal'adziiim..."
Yadi membalikkan tubuhnya.
"Aku pergi. Akan kucari ketiga kitab Sistem Galaksi Kehidupan yang masih belum kutemukan. Saranku, gunakan Cermin Ajaib yang ada di tanganmu, selagi masih ada kesempatan untuk merubah hidup menjadi lebih baik!"
"Yadi, tunggu!!!"
Tapi Ali kurang cepat. Tubuh Yadi sudah masuk ke dalam Cermin Ajaib yang ada di balik pintu lemari pakaian Ali.
Tubuh tinggi besar Yadi hilang tertelan Cermin tanpa Ali tahu kemana perginya.
Ya Tuhan! Apakah kisah ini harus terus kulalui? Berapa lama lagi? Harus terus beratus-ratus episode kah seperti kata si Yadi? Apakah ini nasibku? Benarkah ini takdirku? Satu masalah pergi, masalah lain datang berganti.
Ali memukul-mukul kepalanya untuk menyadarkan diri.
Ia tak ingin kisah ini lanjut. Ingin segera tamat. Dan berakhir bahagia seperti kisah Pangeran Dan Cinderella.
Haruskah Aku menerima ajakan nikah Laila agar kisah yang tak masuk akal ini berakhir? Apakah Laila memang benar jodohku? Atau... Keti? Bukankah di kehidupan mendatang Aku menikah dengan Keti dan akan memiliki anak? Haish... Cermin Ajaib ini terlalu membuatku semakin galau dengan kisah kasih yang tak kunjung usai!
Ali menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tipis.
"Adaaawww!" pekiknya yang lupa kalau saat ini bukan lagi di kamar mewah rumah warisan Eyang Toro yang berkasur empuk, tinggi dan tebal.
BERSAMBUNG
__ADS_1