
Malam yang panjang telah berlalu digantikan sang Surya yang mulai bangun dari tidur panjangnya.
Di sebuah rumah sederhana di Desa Kencana, Fiya nampak sudah selesai membersihkan diri dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya hari ini. Hari ini adalah hari Rabu, yang artinya mereka harus mengenakan seragam khas Smariduta.
"Apakah aku tadi bermimpi lagi??" Fiya bicara pada dirinya sendiri di perjalanan menuju sekolahnya.
"Tidak.. tidak mungkin, aku tidak mungkin bermimpi lagi!" Lagi-lagi Fiya bingung dengan kejadian yang dialaminya semalam.
...~Flash back on~...
"Berhenti... jangan lari!!!" Suara derap kuda bersahutan di tengah hutan yang gelap itu. "Tidak... tidak, kenapa aku berada di sini lagi??!" Fiya berusaha untuk lari dengan sekuat tenaganya.
"Aku, tidak boleh berhenti!! Aku harus terus berlari dari sini! Aku harus segera melarikan diri dari mereka." Fiya berlari hingga ia sampai di sebuah tepi danau yang sangat luas.
Danau itu terlihat bersinar karena bulan purnama malam itu sedang bersinar terang. "Tidak,, aku harus pergi ke mana lagi?? Apa aku harus melompat ke danau ini?" Fiya kebingungan karena ia sudah terpojok di pinggir danau, sedangkan pasukan berkuda itu telah hampir sampai disana.
__ADS_1
Tak ada pilihan lain, akhirnya.. "Byuurr.."
Fiya melompat ke dalam danau tersebut, ia berusaha menahan nafas sekuat tenaga. Ia samar-samar mendengar suara dari atas danau.
"Aku yakin gadis itu berlari ke sini.."
Seorang dengan pakaian yang terlihat aneh dan masih menunggang kuda tampak mengedarkan pandangannya ke seluruh mulut danau itu.
"Prabu, apakah kita harus pergi sekarang? Nampaknya kita telah kehilangan jejaknya?" Ucap seorang prajurit kepada atasannya itu.
"Baik, kurasa hari ini memang belum saatnya." Laki-laki itu segera menarik tali kuda dan menuntunnya untuk meninggalkan danau tersebut. Namun tiba-tiba.. ia mendengar suara dari dalam danau.
Ternyata Fiya yang sedari tadi bersembunyi dengan menenggelamkan dirinya di dalam danau tersebut telah menghabiskan seluruh stok oksigen dari dalam paru-parunya.
"Yang Mulia.. jangan-jangan." Ucap salah seorang prajurit yang juga mendengar air di dalam danau tersebut mengeluarkan suara yang terdengar seperti ombak kecil yang ditimbulkan akibat ikan yang besar.
__ADS_1
"Akuu.. aku tidak bisa menahannya lagi "
Wajah Fiya terlihat membiru, ia mulai kehilangan kesadarannya, dan perlahan tenggelam di Danau. Kemudian...
...~ Flash Back Off~...
"Tidak.. tidak mungkin" Fiya tetap tidak percaya dengan mimpinya tadi malam. Meskipun ia hanya bermimpi, namun kenapa saat terbangun ia seperti seseorang yang hampir berhenti menghembuskan nafasnya. Wajahnya memucat dan ia tersedak air yang cukup banyak. Saat terbangun dari tidurnya ia lansung memuntahkan air dari hidung dan mulutnya.
"Apa jangan-jangan, aku tadi malam benar-benar pergi ke hutan?!"
"Ahh tidak mungkin kan? Pasti itu hanya sebuah mimpi saja, hanya sebuah 'Bunga Tidur' iya kan?!" Fiya mencoba menenangkan dirinya sendiri yang sejak tadi terus memikirkan apa yang telah ia alami tadi malam.
Tanpa terasa Fiya sudah sampai di depan gerbang sekolahannya itu. Ia segera turun dari sepedahnya dan menuntunnya menuju lapangan parkir di sebelah timur sekolahnya itu.
Hari ini Fiya datang lebih awal, ia sudah sampai di sekolahnya jam 6 pagi. Bukan tanpa alasan Fiya berangkat pagi-pagi. Karena hari ini ia harus mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan bertanding mewakili sekolahnya dalam Pertandingan antar SMA ternama yang digelar di sekolahnya.
__ADS_1
"Hah, kebetulan sekali ia sudah datang sepagi ini. Jadi, aku tak perlu menunggunya terlalu lama."
Ternyata kedatangan Fiya telah ditunggu-tunggu oleh seorang wanita yang yang berdiri tak jauh dari gerbang utama sekolahnya itu.