
Sementara di sisi lain, tepatnya di luar ruangan kelas tersebut. Nampak seorang gadis yang tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Ia terlihat jelas jika sedang menahan amarahnya. Dan tangan kiri kirinya terlihat menggenggam sesuatu yang tidak nampak dari luar. Benda yang ia genggam di tangan kirinya itu seperti berukuran kecil sekali. Mungkin hanya sebesar butiran kelereng.
~Eittss bukan butiran debu ya gayss😆
"Aku tidak mau tahu, aku menginginkan gadis itu di sana pukul tujuh nanti. Bagaimana pun caranya, culik dia! Jika perlu kalian bisa menggunakan obat bius. Tapi yang pasti, aku ingin gadis itu tetap hidup!!" Gadis itu berucap dengan nada yang lirih namun penuh penekanan. Dan siapakah yang akan ia culik? Apakah itu Fiya, wahh gak betul ini.
Dan, pria yang ada si seberang telepon pun menjawab. "Jangan khawatir nona, serahkan tugas ini pada kami. Kami pasti akan melaksanakan dengan rapi." Terdengar suara orang dewasa dari balik telepon gadis itu. Sepertinya mereka sudah terlatih untuk melakukan penculikan.
"Baik aku akan mengirim kan foto gadis itu."
Jawab Raya dengan senyuman licik menghiasi wajah cantiknya.
~Sepertinya Fiya dalam bahaya nih teman-teman😣
.
.
Raya yang melangkah kan kakinya ke arah barat tidak menyadari jika sedari tadi ada mata tajam yang mengawasinya. Ia mengawasi gadis itu dengan tatapan seekor singa yang siap mendekap mangsanya.
__ADS_1
"Berani sekali kamu ingin melukai milikku! Kamu ingin bermain-main dengannya, jadi aku yang akan mempermainkan dirimu terlebih dahulu!! Tunggu saja kedatanganku !! "
Ucap sosok pria yang menatap tajam Raya dari kejauhan. Pria itu kemudian segera pergi menuju parkiran guru untuk mengambil motor sport berwarna hitam miliknya. Ia segera memakai jaket kulit kesayangannya dan melenggang pergi menuju keluar sekolah. Nampaknya lelaki itu mempunyai rencana kejutan yang ia siapkan untuk Raya dan orang suruhannya tadi.
~Bisa pada nebak kan, siapa sosok misterius inii. 🤭
*
*
*
"Fiyaaa aku sudah mencari kamu sejak tadi tahu,, ternyata kamu lagi duduk di sini.. " Ucap gadis cantik yang baru datang dan duduk di samping Fiya itu. Kebetulan Fiya sedang duduk sendirian dan kondisi masjid sudah tidak terlalu ramai. Karena solat dhuhur berjamaah sudah selesai dilaksanakan sekitar satu jam yang lalu.
"Kenapa kamu mencariku cantik?? Sepertinya ada udang di balik bakwan nihhh." Tanya Fiya dengan nada yang terdengar menebak-nebak tujuan gadis di sampingnya itu.
"Kok tau sih.. hehe." Gadis itu nampak menunjukkan senyum pepsodent dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Tuhh kan benar.. aku ini bisa membaca pikiranmu itu." Fiya tersenyum manis karena ia bisa menebak pikiran teman baiknya itu. Siapa lagi kalau bukan April, gadis cantik yang menjadi primadona di kelasnya.
__ADS_1
"Masa' sih.. Jangan-jangan kamu punya indera ke enam yaa." Tebak April dengan wajah yang terlihat lucu. Ia nampak tidak percaya jika Alifiya memiliki indra ke enam.
"Bercanda lah.. masa iya aku bisa baca pikiran, aku cuma menebaknya saja kok." Jawab Alifiya diselingi dengan tawa kecil karena melihat tingkah lucu sahabatnya itu.
"Ah.. begitu,, aku kira kamu benar-benar bisa membaca pikiranku. Kann aku sampai lupa apa tujuanku kemari." Jawab April dengan tangan kanannya mengetuk-ngetukkan pena yang di genggamnya tadi ke kepalanya sendiri.
"Lagian kamu ini masih muda, cantik, tapi kok pelupa..? " Fiya berucap dengan nada yang terdengar memuji, membawa April terbang ke Angkasa.. lalu menenggelamkannya ke dasar Samudera. 😆
"Ck.. ini juga gara-gara kamu.. kan aku jadi lupa mau tanya apaa." Jawab April tak mau kalah. Ia jadi lupa mau bertanya apa karena terkejut saat mengira Fiya bisa membaca pikiran orang.
"Ya sudah.. kamu ingat-ingat dulu gih, aku mau kembali ke kelas. Soalnya aku mau ambil buku Diary ku dulu.
" Iya deh, aku tunggu di sini yaa.. Cepet balik, takut sendirian." Ucap April dengan mulut yang mengerucut sebal karena ia di tinggal sendirian di sana.
"Lahh orang ini di teras masjid, ngapain takut."
Jawab Fiya yang tertawa kecil melihat tingkah lucu April yang terlihat manja ini di depannya.
Fiya kemudian menuruni tiga anak tangga yang menjadi pembatas antara teras masjid dan tanah di bawahnya. Ia segera memakai kembali sepatu berwarna navy dengan gradasi merah kesayangannya. Setelah selesai memakai alas kaki, Fiy bergegas kembali ke kelas untuk mengambil buku Diary nya.
__ADS_1