
"Aku yakin.. aku tak pernah kehilangan ingatan. Namun, kenapa aku merasa tidak asing dengan tempat yang baru saja aku lihat..?" Fiya bergumam di hatinya. Ia masih merasa aneh dengan kejadian yang baru saja ia alami.
April yang melihat sahabatnya melamun akhirnya menepuk pundak Fiya dengan sedikit keras. Fiya yang terkejut akhirnya tersadar melihat ke arah April dengan tatapan yang menunjukkan jika ia sedang memikirkan sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Aku.. aku harus kembali dulu ya, apakah tidak apa-apa kita lanjutkan nanti?" Fiya bertanya pada April. Ia merasa tidak enak hati untuk meninggalkan sahabatnya itu, namun dia harus segera mencari tahu ingatan siapa yang baru saja melintas di kepalanya.
"Iya Fi tidak apa-apa, kita lanjutkan besok saja yaa. Kamu sepertinya kurang sehat, apakah tidak sebaiknya kita pergi ke UKS saja?" Tanya April pada akhirnya karena melihat wajah Fiya yang sedikit pucat.
"Tidak.. aku tidak apa-apa, aku akan kembali ke kelas dan melihat sesuatu." Jawab Fiya dengan cepat, karena baru saja ada sesuatu yang terlintas di benaknya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu sampai ke depan kelas." April merasa tidak tega jika membiarkan Fiya kembali ke kelas sendirian. Apalagi, jarak antara kelas dan masjid itu cukup jauh.
"Iya, terima kasih kamu sudah menghawatirkan aku." Jawab Fiya merasa terharu karena April, sahabatnya sejak duduk di bangku SMP ini begitu mengerti dirinya. Dan juga ia merasa jika April sudah seperti saudaranya sendiri.
~ Jadi kawan-kawan, lebih baik kita memiliki satu sahabat yang baik. Daripada memiliki seribu teman biasa.
Akan tetapi, memiliki seribu teman lebih baik daripada memiliki seorang musuh.
...***...
__ADS_1
Kita kembali lagi ke tempat Pak Ardi ya kawan-kawan.
Dan, si pemilik HP itu pun merasa tidak terima, tanpa Ba Bi Bu ia melayangkan sebuah tinju mentah ke arah Pak Ardi. Dan pukulan itu menuju ke wajah Pak Ardi, dengan cepat ia menangkis pukulan mentah dari ketua preman tersebut. Tanpa aba-aba, Pak Ardi langsung membalas pukulan yang diberikan pria itu tadi, dan pukulannya tepat mengenai perut pria tersebut.
Pria tersebut sampai terpelanting ke belakang dan menghantam tembok dengan kekuatan yang besar sampai menyebabkan tembok itu mengalami keretakan yang sering. Jadi, bisa dibayangkan seberapa kuat pukulan yang baru saja di berikan oleh Pak Ardi.
"Berani sekali kau melukai Bos kami!!" Teriak salah seorang anak buahnya yang masih berusia tiga puluh tahunan. Ia kemudian berlari ke arah Pak Ardi, dan melayangkan tendangan menggunakan kaki kanannya. Tanpa di duga, pak Ardi menangkap kaki tersebut dengan salah satu tangannya. Dengan cepat, ia memutar kaki pria itu hingga membuatnya jatuh berguling-guling ke atas tanah seraya memegangi kakinya yang terasa patah.
~ Makanya jangan main-main sama pemeran utama 😆
"Ada yang ingin maju lagi!!" Teriak Pak Ardi dengan lantang. Teriakan itu layaknya auman seekor singa jantan. Sangat mengerikan!!!
Orang-orang itu pun tidak berani maju, mereka menyadari jika orang yang ada di hadapan mereka ini bukanlah lelaki sembarangan. Seperti nya lelaki ini memiliki tenaga dalam yang kuat. Sehingga sedari tadi ia masih tegap berdiri, tak goyah sedikit pun dari tempatnya.
"Keputusan yang sangat bagus! Aku peringatkan lagi kepada kalian, ingat baik-baik foto gadis itu. Jika kalian sampai berani memandang gadis itu sedetik saja. Aku akan datang dan mematahkan leher kalian! Kalian dengar itu bukan?!!" Pak Ardi memperingati para preman bayaran itu untuk tidak mendekati Fiya, apalagi punya niat buruh padanya.
~ Wah-wah posesif sekali ya kak,
Di depan cuek, tapi di belakang care benget. sweet sekali kan guyss🤭
__ADS_1
"Baik.. baik.. kami tidak akan berani untuk mengganggu gadis itu." Jawab seorang dari mereka.
"Dan, satu lagi.. kalian akan bekerja untuk Raya bukan? Dia yang sudah menyuruh kalian untuk merencanakan penculikan ini, iya kan!?" Tanya Pak Ardi, lalu ia meminta penjelasan kepada mereka tentang rencana yang sudah disiapkan oleh Raya untuk melukai Alifiya.
Pak Ardi mendengar kan penjelasan mereka dengan seksama, sesaat setelah itu ia terlihat sangat marah saat menderita bagaimana rencana yang sudah disiapkan oleh Raya untuk melukai gadis kecilnya itu.
"Berani sekali dia ingin melukai 'Putriku'
Aku pasti akan memberi pelajaran untukmu. Tapi tidak hari ini ! " Pak Ardi bergumam dalam hatinya, kemudian ia segera pergi dari tempat itu untuk kembali lagi ke sekolah.
*
*
*
Sementara Fiya kini sudah berada di dalam kelasnya, ia membuka tasnya dan mencari kotak pensil kesayangan. Ia membuka kotak itu dan menemukan sesuatu yang ia cari.
Dan, benda yang ia cari ialah gelang dengan liontin kerang kecil yang di dalamnya sudah ada sebuah mutiara berwarna putih yang diberikan oleh Pak Ardi.
__ADS_1
"Apa mungkin, ini ada kaitannya dengan Mutiara aneh yang diberikan oleh Pak Ardi kemarin?"
Gumam Fiya yang merasakan aura tidak biasa dari mutiara berwarna putih itu. Fiya selalu merasa jika mutiara ini bukanlah mutiara biasa, ada suatu kisah yang melatar belakangi terbentuk nya mutiara putih dengan sinar yang indah itu. Fiya tak menyadari jika ia akan segera memulai perjalanan baru dalam hidupnya, dimulai dengan misteri dari memori yang akan kembali lagi padanya dan latar belakang terbentuknya "Mutiara Jiwa Putih" ini.