Mutiara Mimpi Gadis Desa

Mutiara Mimpi Gadis Desa
Bunga yang Cantik


__ADS_3

Malam kian larut, kini waktu telah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Fiya yang sudah mulai mengantuk mulai duduk di atas tempat tidurnya. Namun, ia masih enggan memejamkan matanya karena terus teringat memori yang datang menghampiri di siang hari tadi.


"Huft, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Fiya menghela nafas panjang dan mencoba berpikir apa yang sebaiknya ia lakukan untuk mengatasi persoalan yang sedang melandanya itu.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benaknya. "Apakah Ibu mungkin tahu sesuatu tentang ini?" Gumam Fiya sembari menggigit tangan kanannya, ia berharap jika ibunya akan mengetahui tantang hal yang selama ini ia alami.


"Tapi, apakah aku harus bertanya pada ibu? Ataukah tidak..? Ya aku harus bertanya.. kalau tidak aku bisa penasaran terus!" Fiya berbicara sendiri, ia yang tadi awalnya duduk kini mondar-mandir di kamarnya. Memikirkan bagaimana ia mulai mengatakan hal ini pada ibunya.


"Ah sudahlah, ini sudah malam.. Lebih baik aku tidur saja." Fiya akhirnya memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang telah lelah itu. Ia melempar tubuhnya asal ke kasur itu, kemudian ia menangkup wajahnya dengan bantal yang biasa ia gunakan untuk tidur.


Lima menit kemudian, sudah tidak ada tanda-tanda pergerakan dari gadis remaja itu. Seperti ia sangat lelah dengan kejadian yang menimpanya hari ini. Sehingga ia bisa terlelap dengan cepat, mengarungi lautan mimpi yang luas itu.


...***...


Sementara di tempat yang berbeda namun di waktu yang sama, Rizki sedang asyik dengan pikiran nya sendiri. Ia bahkan sampai memegang pena dan selembar kertas untuk mencatat hasil deduksinya yang telah ia rancang selama lebih dari satu jam.


"Akhirnya.. aku menemukannya!!" Rizki sedikit berteriak gembira ketika hasil kerja kerasnya membuahkan hasil manis. Setelah lebih dari satu jam ia membuat deduksi, akhirnya Rizki berhasil menarik kesimpulan dari 'kasus' yang ia tangani itu.


"Tapi.. Jika ini benar, apakah ini ada kaitannya dengan anak dari Jawa Tengah itu?" Kiki berucap dengan nada penasaran, hasil deduksinya merujuk pada kejadian yang terjadi ketika mereka duduk di bangku SMP. Namun, kejadian apakah itu?


~ Eitss rahasiaa... Nanti dulu ya kasih taunya😆

__ADS_1


"Mungkin saja, karena anak itu memang terlihat sedikit abnormal. Tapi mengapa dia bisa sampai melakukan ini?" Rizki masih bertanya-tanya kenapa sosok yang ia maksud' itu bisa ikut andil dalam kejadian 3-4 tahun yang lalu.


Mengenai sosok yang Rizki bicarakan ini memang ada di bab awal yang kawan-kawan, Jadi kalau kalian teliti.. pasti bisa menebaknya. Tapi, author memang belum mengungkap identitasnya😉


"Sudahlah.. aku tidak bisa melanjutkan ini, presentase baterai di kepalaku sudah 5%. Jadi, lebih baik aku tidur dulu.. pasti besok bisa menemukan jawaban dari semua ini." Rizki pun mulai memejamkan matanya, kertas yang ia pegang tadi kini berada di samping tubuhnya yang mulai mode isi daya tersebut.


*


*


*


Malam yang panjang pun berlalu, bulan yang tadinya bersinar terang kini mulai meredup dan digantikan dengan cahaya sang Surya yang menghangatkan bumi dari dinginnya malam itu.


"Hari ini sejuk sekali.. aku merasa akan mendapatkan sesuatu yang indah hari ini." Fiya masih menikmati sejuknya udara pagi itu. Karena desanya yang tergolong berada di dekat kaki Gunung, jadi tidak diragukan lagi jika aroma oksigen dan juga aroma khas dari tumbuhan masih bisa dirasakan dengan jelas.


"Hari ini begitu cerah, apakah sebaiknya aku mengajak ibu untuk menangkap ikan di sungai sana?" Gumam Fiya ketika melihat cuaca yang tidak terlalu panas. Dan juga, udara di sana terasa sedikit dingin. Sungguh sesuai untuk menikmati keindahan alam itu dengan memancing ikan di sungai. Apalagi, sungai itu terletak tidak jauh dari rumahnya dan juga masih tergolong sungai yang jernih karena belum terkontaminasi oleh sampah dan zat kimia dari industri pabrik seperti yang ada di kota-kota besar di luaran sana.


"Yaa itu ide yang sangat bagus! Tapi, di manakah gerangan ibuku tersayang itu?" Tanya Fiya dengan pandangan mengedar menuju seluruh penjuru rumah itu, dengan tangannya di letaknya di atas kedua alisnya, mencoba mencari keberadaan ibunya itu.


"Mungkin ini sudah pergi ke kebun, lebih baik aku menyusul nya saja," Fiya pun bergegas menuju kebun milik keluarganya yang terletak di belakang rumah sederhana mereka. Langkanya terhenti ketika ia sudah sampai di sebuah kebun yang penuh dengan tanaman yang nampak dirawat dengan baik.

__ADS_1


Anggap saja kebunnya mirip dengan kebun Opah ya kawan-kawan😆


"Akhirnya aku sampai juga, tapi ibu dimana yaa?" Fiya bertanya-tanya kemudian matanya menangkap gambar yang tidak biasa.


"Waw indah sekali.. Dan, baunya pun juga harum, tapi kenapa aku belum pernah melihatnya ya? Apakah ibu baru saja menanam bunga ini..?" Tanya Fiya sedikit heran karena ia baru melihat bunga cantik dengan kelopak berjumlah tujuh itu dengan warna putih dan gradasi ungu mulai bagian tengah dan memudar saat sampai di bagian pinggir. Ia yang awalnya berdiri kini mulai menekuk lututnya untuk melihat bunga itu lebih dekat lagi.


"Tunggu sebentar.. kenapa, aku merasa tidak asing dengan bunga ini.. Apa aku pernah melihatnya di tempat lain?"


Belum sempat Fiya melanjutkan kata-katanya, ia dikejutkan dengan suara yang memanggil nya dari arah Utara.


"Fiya.. Apa yang kamu lakukan di sini?"


Sontak saja Fiya terkejut kemudian membalikkan badannya menuju sumber suara itu, dan ternyata ibunya lah yang memanggilnya.


"Aa.. itu Bu,, aku tadi ingin mencari ibu, tapi aku malah mengagumi keindahan bunga cantik ini." Fiya menunjuk tempat yang ditumbuhi bunga cantik tadi. Dan menoleh untuk melihat kembali bunga yang telah membuatnya terpesona itu.


"Loh.. loh,, kok hilang... Tadi, aku jelas melihat ada bunga yang cantik tumbuh di sini Bu." Fiya tentu saja terkejut dengan apa yang ia lihat, padahal jelas-jelas tadi ia melihat bunga kecil itu tumbuh di sana. Dan sekarang secara tiba-tiba bunga itu sudah meng-ghoib saja.


Ibu Fiya hanya tersenyum menanggapi tingkah putrinya itu. Kemudian ia mengajak Fiya untuk membantunya dulu menaman biji sawi di kebunnya.


"Sudahlah, kita cari saja bunganya nanti. Ayo bantu ibu menaman biji sawi ini dulu." Ajak bu Sulastri kepada anak gadisnya itu.

__ADS_1


"Nggih Bu, aku akan membantu ibu menanamnya." Fiya berucap kemudian mengikuti ibunya dari belakang.


"Aneh sekali.. kenapa tiba-tiba bunga itu menghilang begitu saja..?" Fiya masih bertanya-tanya dalam hatinya, ia masih tidak percaya jika bunga itu lenyap begitu saja.


__ADS_2