Mutiara Mimpi Gadis Desa

Mutiara Mimpi Gadis Desa
Balas Dendam?


__ADS_3

Ternyata kedatangan Fiya telah ditunggu-tunggu oleh seorang wanita yang yang berdiri tak jauh dari gerbang utama sekolahnya itu.


"Kenapa kau ada disini?" Tanya Fiya ketika melihat Vio sudah bersiap menyambut nya di gerbang masuk ke sekolah.


"Aku memang sengaja menunggumu.. Untung saja kau cepat datang, kalau tidak aku pasti sudah karatan." Vio berucap dengan nada yang tidak mengenakkan di telinga Fiya.


"Ternyata kau sudah menjadi penggemarku ya?" Fiya balas mengejek gadis tersebut.


Vio nampak kesal dengan kelakuan Fiya yang menurutnya mulai berani padanya.


" Kau sudah mulai berani rupanya ya.. "


Vio berucao dalam hatinya. Ia semakin membenci gadis yang menurutnya telah merebut sesuatu yang adalah miliknya.


Siapa lagi kalau bukan Rizki. Vio sudah menganggap jika Rizki itu adalah 'sesuatu miliknya' dan jika barang itu sudah menjadi miliknya, maka dia akan menyingkirkan segala sesuatu yang menghalanginya untuk mendapatkan hal tersebut. Termasuk juga Fiya, ia menganggap Fiya seperti tanaman benalu yang mengganggu nya.


Padahal, ia sendiri yang tidak sadar bahwa dirinya lah yang menjadi benalu di sini.


Peribahasa yang tepat bagi dia sekarang ialah 'kayak di dalam tempurung'.


Ia bersikap seolah mengetahui segalanya, tapi ternyata dialah yang paling tidak berpengetahuan. Itulah situasi yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana Vio saat ini.


"Sudahlah aku tak ingin bermain-main denganmu, jadi sekarang tolong menyingkir lah. Karena sebentar lagi akun harus segera pergi ke Aula untuk gladi bersih." Ucap Fiya sembari berlalu melewati Vio yang berdiri dengan arogan di depannya itu.


"Apa kau tak ingin mengetahui kebenaran tentang ayahmu?"


Fiya terkejut. Ia tak menyangka jika Vio akan mengungkit tentang Ayahnya.

__ADS_1


" Aku tak perlu meladeninya. Karena sebentar lagi Bu Crystal akan datang. aku harus segera pergi menemuinya."


Fiya tak memedulikan Vio yang terlihat kesal karena ia telah mengabaikannya.


"Kau tunggu saja nanti. Aku pasti akan membalaskan dendam ku!" Vio bergumam dengan menatap Fiya dari belakang dengan tatapan penuh kebencian.


.


.


.


.


Fiya sekarang sudah sampai di Aula, ia sampai di Aula Wandira tepat waktu. Hampir saja ia terlambat untuk mengikuti gladi bersih hari ini.


"Huft.. untung saja aku tidak meladeni gadis itu, jika tidak bisa tamat riwayaktu hari ini."


Fiya adalah orang yang sangat menghargai waktu, jadi ia akan merasa sangat rugi karena baginya 'time is gold '


.


.


.


.

__ADS_1


Dua jam telah berlangsung, dan sekarang gladi bersih sudah selesai dilaksankan dalam Aula itu. Fiya nampak membersihkan meja tempat duduknya dan membereskan buku-buku serta alat tulis yang is gunakan tadi.


Tak jauh dari Fiya ada seseorang yang mengawasinya sedari Fiya memasuki Aul situ. Disampingnya berdiri seorang yang terlihat tak asing lagi. Rupanya ia adalah sesok yang mengawasi Fiya kemarin. Saat apel pembukaan 'Kejuaraan' dimulai. Ternyata ia juga terus mengawasi Fiya hari ini. Apakah ada maksud dibalik tindakannya ini?


"Akhirnya... hari ini selesai juga, aku harap saat pertandingan nanti aku bisa melakukan yang terbaik. Fightingg !! " Fiya menyemangati dirinya sendiri supaya ia dapat melakukan yang terbaik untuk mengharumkan sekolah tercintanya ini.


Fiya melihat jam tangan kecil berwarna navy yang dipadankan dengan warna putih tulang yang melingkar di tangan mungilnya, ia mengangkat tangan kirinya hingga membentuk sudut 75°dan berpikir apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Baiklah.. sekarang saatnya kembali ke kelas dulu.. " Fiya berucap pada dirinya sendiri dan bersiap menuruni anak tangga yang menghubungkan Aula dengan lantai utama di Sekolah tersebut. Sekolah Fiya memang memiliki tiga lantai. Dan kebetulan kelas Fiya berada di lantai pertama sekolah tersebut. Dan sekarang Fiya masih berada di aula, tepatnya di ruangan utama SMA ternama nya ini.


.


.


Fiya mulai melangkahkan kakinya menuruni anak tangga itu. Tempat itu terlihat sedikit gelap, karena cuaca di luar memang sedikit masuk. Jadi cahaya matahari tidak dapat menembus dan menerangi bumi ini seperti biasanya.


"Kenapa hari ini terasa aneh ya,, awan-awan itu terlihat seperti akan terjadi badai yang kencang saja. Akun rasa hari ini akan turun hujan yang lebat. " Fiya meramal hujan yang akan terjadi hari ini. 'seperti mbak R*ra aja Ayy kamu ini' 😆


Tak lama setelah Fiya mengatakan itu,, terdengar awan-awan hitam di langit itu mulai menumpahkan segala kesedihannya.


"Ohh tidak apa yang harus aku lakukan.. Kenapa jadi benar-benar hujan..? " Fiya nampak kebingungan. Padahal hari ini dia akan mengikuti 'lomba menguliti katak' tapi malah hujan deras.


"Gimana iniii.. seharusnya aku tadi gak bilang gitu.. terus nanti gimana lombanya kalau ujan gini? Kataknya nanti alik profesi jadi 'penyanyi' dong kalau ujan deras.. Aduhh, masa' iya lombanya diundur?? " Diya merutuki dirinya sendiri karena telah memanggil si 'hujan' jadi ia tak bisa melaksanakan lombanya. Karena lomba itu akan dilakukan di luar ruangan.


Belum selesai Fiya berbicara sendiri. Tiba-tiba


ada sebuah tangan yang cukup besar menyentuh pundaknya dari belakang.

__ADS_1


Dan reflek Fiya pun berteriak seperti seorang yang bertemu dengan spesies tak kasat mata


"Aaaaa Ada Tangan Buntungg.... "


__ADS_2