Mutiara Mimpi Gadis Desa

Mutiara Mimpi Gadis Desa
Lampu Hijau


__ADS_3

Akhirnya setelah menempuh perjalanan mereka hampir setengah jam, Fiya pun sampai di rumahnya. Dan tentu saja kedatangan Fiya disambut dengan hangat oleh Bu Sulastri, seorang yang selalu menunggu kepulangan Fiya di rumah.


Bu Sulastri nampak tersenyum ketika melihat kedatangan putrinya dan juga Rizki. Tentu saja Bu Sulastri sudah tidak asing lagi dengan sosok yang sekarang berjalan beriringan bersama Fiya itu, mengapa tidak dari dulu Rizki selalu berteman baik dengan Fiya. Serta keluarga Rizki selalu membantu Bu Sulastri dan Fiya ketika ada masalah. Jadi, Bu Sulastri sudah menganggap Rizki sebagai Putranya sendiri.


"Assalamualaikum Bu.." Fiya dan Rizki kompak mengucapkan salam berbarengan, kemudian secara bergiliran mereka mencium tangan Bu Sulastri sebagai tanda menghormati beliau.


"Waalaikumsalam, ayo nak Rizki masuk dulu. Kebetulan tadi ibu sudah memasak makanan kesukaan kalian, jadi kalian makan dulu gih.. Ibu mau memberi makan ternak dulu." Titah Bu Sulastri kepada kedua remaja yang berada di depan rumahnya itu.


"Terimakasih Bu, tapi saya mohon maaf saya harus segera pulang. Karena ibu saya juga sudah mengunggu di rumah." Ucap Kiki dengan sopan, sebenarnya ia ingin sekali untuk menerima undangan Bu Sulastri, tapi ketika di sekolahnya tadi ibunya mengirimkan pesan kepada Rizki untuk segera pulang ke rumah. Jadi Rizki tak memiliki pilihan lain selain sesegera mungkin pulang ke rumah.


"Baiklah nak kalau begitu, tapi lain kali jangan lupa mampir ya." Jawab Bu Sulastri dengan ramah, ia tahu benar jika Rizki adalah anak yang patuh dan berbakti dengan kedua orang tuanya. Oleh karena itu Bu Sulastri tidak keberatan jika Rizki berteman dengan Fiya. Selain itu kedua pihak keluarga juga sudah mengenal sejak lama, jadi mereka sudah seperti saudara meskipun tidak sedarah.


~ Ciyeee udah dapat lampu Hijau nihh🤭


"Baik Bu, kalau begitu Kiki permisi dulu. Terima kasih untuk undangannya, InsyaAllah Kiki akan mampir di lain hari."


Jawab Rizki dengan sopan kepada ibu sahabatnya itu.


"Iya nak, hati-hati di jalan yaa. Kalau sore begini banyak yang kebut-kebutan, jadi lebih baik alon-alon sing penting kelakon, tur ya selamet teko omah." Bu Sulastri mewanti-wanti Rizki untuk berhati-hati saat perjalanan pulang, dikarenakan pada jam sore seperti itu banyak sekali kendaraan yang melaju dengan kecepatan yang tinggi. Karena pada waktu itu juga berbarengan dengan orang-orang yang dalam perjalanan pulang ke rumah mereka setelah seharian penuh bekerja.


"Nggih Bu, Terima kasih. Kiki pamit dulu nggih.. Assalamualaikum.." Rizki berpamitan dengan Kedua wanita yang ada di depannya itu dengan ramah dan senyum yang ia buat semanis mungkin.

__ADS_1


Wah-wah memang harus gitu ya Ki sebagai calon mantu yang baik dan sopan.😆


Fiya yang melihat interaksi keduanya pun hanya tersenyum simpul, ada rasa hangat yang masuk di hatinya. Meskipun ia telah 'kehilangan' sosok ayah sejak usianya lima tahun. Namun Rizki selalu membuatnya tersenyum dengan tingkah-tingkah konyolnya. Oleh karena itu, persahabatan mereka bisa bertahan begitu lama.


Karena, bersahabat dengan orang yang memiliki frekuensi sama dengan kita, biasanya tidak akan mudah dipatahkan oleh pihak ke tiga. 😉


"Hati-hati ya Kii.. " Fiya juga turut mengantar kepergian Rizki sampai si halaman rumahnya. Ia melambaikan tangan kepada Rizki saat lelaki itu sudah akan melenggang pergi dari kawasan rumahnya.


"Siap Ay!" Jawab Rizki dengan tangan seperti memberi hormat, diselingi dengan kekehan kecil yang semakin membuat Rizki nampak tampan di hadapan para gadis di luaran sana.


"Eh iya, kamu nanti jangan terlalu pikirkan yang tadi sore. Aku tidak ingin kamu memaksakan diri untuk mengingat nya. Aku yakin suatu saat memori itu pasti akan kembali lagi." Rizki memberi nasihat kepada sahabatnya itu. Dia tidak ingin Fiya sampai memaksakan diri dan akhirnya malah jatuh sakit. Karena teman-teman, sebagian besar jenis penyakit itu datang dari diri sendiri. So, kita harus selalu positif thinking supaya tidak mudah sakit.


"Baiklah, aku mengerti.. tapi jujur aku masih sedikit penasaran, kenapa ingatan itu bisa lenyap dari kepalaku. Apakah aku dulu pernah menabrak sesuatu yang keras, misal tiang bendera gitu.. Kok bisa-bisanya ada ingatan yang kabur dari kepala ini?!" Fiya bertanya pada dirinya sendiri dengan ekspresi seperti orang yang sedang bereksperimen dengan bahan kimia berbahaya. Serius amat neng😆


Dan, Rizki pun langsung mendapat tatapan tajam dari Fiya, setajam silet.


Rizki yang mendapat tatapan maut itu pun langsung mati kutu. Ia tahu benar jika Fiya sudah mengeluarkan tatapan itu, artinya mode 'singa betina' akan segera diaktifkan.


Tanpa basa-basi lagi Rizki langsung pergi dari sana. Jika tidak, dia pasti akan menjadi mangsa empuk bagi singa betina itu.


"Eh, eh iyaa aku lupa jika harus segera pergi. Sampai jumpa besok Ayy." Rizki langsung melajukan sepedanya untuk pergi dari sana. Dan Fiya hanya menghela nafas kemudian tersenyum kecil.

__ADS_1


"Heii hati-hati jangan kebut-kebutan..!" Ucap Fiya sedikit berteriak karena Rizki sudah main pergi saja. Iya lah gimana gak langsung pergi orang tatapan Fiya tadi aja sudah siap menguliti mangsa di depannya.


Rizki yang mendengar samar-samar Fiya yang menghawatirkan dirinya itu membuat dia tersenyum malu-malu kucing. Awas ya Kak Rizki, jangan sampai direbut orang lhoo, harus gercep yaa.


"Dasar anak itu.." Fiya tersenyum simpul saat melihat Rizki mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan ibu jarinya. Isyarat jika Rizki akan hati-hati saat mengendarai kendaraan nya itu.


Fiya yang sudah melihat Rizki menjauh dari jalan di depan rumahnya itu pun segera masuk ke dalam untuk membersihkan diri dan mengisi ulang tenaga uang sudah ia gunakan selama sehari penuh yang melelahkan itu.


*


*


*


Matahari kini digantikan oleh bulan, dan awan-awan tadi digantikan oleh jutaan bintang yang bertaburan di luaran sana. Malam mulai datang menyapa, dan dinginnya udara malam membuat para binatang di sana masuk kembali ke sarangnya. Dan kini di luaran sana digantikan oleh para makhluk nokturnal yang sedari siang tadi sudah mempersiapkan diri (tidur) untuk menjemput mangsanya.


Fiya yang kini duduk di depan meja belajarnya, membuka lagi diary nya itu. Ia masih penasaran dengan apa yang terjadi. Lalu, ia membuka tas sekolahnya tadi dan mengambil belang berliontin kan kerang laut itu.


"Apakah.. semua ini ada hubungannya? Mengapa aku merasa jika kotak jati berukiran indah itu ada kaitannya dengan mutiara putih yang ada di dalam sini." Gumam Fiya sambil menoel-noel cangkang kerang yang berukuran kecil itu, berharap jika ia mau terbuka. Ternyata kerang yang sudah tinggal cangkang itu tidak mau membuka mulutnya untuk menunjukkan mutiara di dalamnya.


~ Iya lah Kak Fiya, nanti kamu takut kalau kerang nya kebuka sendiri🙂

__ADS_1


Sampai sini dulu ya teman-teman, jangan lupa kasih hadiah bunga mawar buat author yaa 🌹😘


__ADS_2