
"Aku ucapkan terima kasih, dan sekarang kamu boleh pergi karena aku tidak ingin putriku melihatmu ada di sini dan mengawasinya." Titah bu Sulastri kepada prajurit yang ada di sampingnya itu, kemudian prajurit itu segera kembali ke tempat persembunyiannya semula.
Tak lama setelah itu, Fiya kembali dengan membawa beberapa ekor cacing tanah yang ia bungkus dengan daun jati supaya cacing itu tidak berlarian kesana kemari. Saat sampai di depan ibunya, Fiya menunjukkan cacing itu dengan cara membuka lipatan daun jati yang ia bentuk saat mencari cacing-cacing yang sedang menggemburkan tanah di sekitarnya.
"Ibu.. lihat ini, aku sudah mendapatkan beberapa cacing yang gemuk-gemuk. Pasti ikan-ikan di sungai nanti akan langsung lapar saat melihat mereka." Fiya berucap dengan gembira dan tangannya terulur ke depan untuk menunjukkan cacing hasil tangkapannya tadi.
Ibu Fiya hanya tertawa kecil melihat tingkah laku putrinya itu, kemudian ia dan Fiya pergi ke sungai yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka. Setelah berjalan kurang lebih sekitar lima belas menit, Fiya dan ibunya sudah sampai di tepi sungai yang akan menjadi tempat mereka mencari lauk untuk hari ini.
~ Nah, kira-kira seperti ini ya penampakan sungainya ๐
"Ibu, ayo kita segera turun ke bawah. Aku sudah tidak sabar untuk menangkap beberapa ikan." Ajak Fiya dengan antusias. Sementara ibunya masih mempersiapkan dua alat pancing yang akan ia gunakan nantinya.
"Tunggu dulu nak.. hati-hati, batuan sungai itu sedikit licin." Ucap Bu Sulastri dengan sedikit berteriak karena Fiya kini sudah turun dan berada di pinggiran sungai yang tidak terlalu deras itu.
"Iya Bu, aku pasti akan berhati-hati." Balas Fiya yang kini mulai duduk di tepian sungai dan membiarkan kakinya sedikit terendam air yang masih belum tercemar oleh limbah pabrik sehingga air tersebut masih terasa segar saat menyentuh kulit.
Sungai itu biasanya juga digunakan untuk mencuci karpet yang ada di surau ataupun dari masjid yang ada di desa Fiya maupun desa-desa tetangga. Dikarenakan air di sungai itu melimpah dan juga terus mengalir oleh karena itu, air sungai itu suci dan juga mensucikan.
__ADS_1
"Nyaman sekali rasanya berendam di sungai ini.. airnya masih tergolong jernih, meski warnanya sedikit keruh karena membawa endapan lumpur dari atas sana." Fiya menoleh ke arah barat dan melihat jika di sana ada sebuah bendungan yang dibuat untuk menahan air sungai supaya jika ada hujan deras dan airnya meluap dapat diantisipasi dengan bendungan tersebut.
Bu Sulastri kemudian turun dan mendekati putrinya yang masih asyik memainkan kakinya di air sungai itu.
"Ayo nak, sudah bermain airnya nanti bisa-bisa kamu kedinginan lho." Bu Sulastri mengingatkan putrinya itu supaya berhenti bermain dengan air di sana.
"Iya Bu, sungai ini sangat nyaman jika digunakan untuk berenang. Sayangnya, hari ini airnya tidak terlalu tinggi." Ucap Fiya dengan mata uang terus memandangi air yang mengalir melewati batuan yang ada di depannya itu.
"Hust.. jangan coba-coba berenang sendirian Fi, itu berbahaya. Terlebih lagi sungai ini pernah memakan korban jiwa." Ucap Bu Fiya dengan tegas untuk memperingatkan putri tunggal nya itu untuk tidak sembarangan berenang di sungai. Karena kita tidak pernah tahu makhluk apa saja yang ada di dasar sungai tersebut. So, kita harus selalu berhati-hati ya kawan-kawan. Kita harus berpikir dua kali untuk melakukan suatu hal, karena kita tidak pernah tahu kapan bahaya akan datang.
โ๏ธLebih baik mencegah daripada mengobati bukan?
Bu Sulastri kemudian memberikan satu pancingnya kepada Fiya, dan dengan cepat Fiya memasang umpan yang sudah ia tangkap beberapa saat yang lalu.
~ Semoga kamu dapat beristirahat dengan tenang ya cing, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Dan sepertinya kisah perjalanan sampai di sini dulu ya cing..๐ฅบ
Maafkan author yang memilihmu untuk menjadi umpan ๐ ๐ญ
~ Oke, kita kembali lagi ke cerita.
__ADS_1
Fiya dan ibunya kini sudah mulai memancing di sungai yang tidak terlalu dalam itu. Mereka memilih untuk memancing di kotak-kotak yang ada di sungai tersebut, karena di dalam sana terdapat banyak ikan yang bersembunyi.
Dan benar saja, baru tiga menit Fiya melemparkan pancingan itu. Ia sudah merasa jika ada yang menarik kailnya tersebut. Tentu saja dengan cepat Fiya balik menarik pancing itu dan terangkat lah seekor ikan yang berwana merah dengan sedikit warna orens di kepala dan juga siripnya. Ikan itu berukuran lumayan besar dengan lebar hampir sama dengan telapak tangan orang dewasa.
Kalau di tempat author ikan itu namanya iwak abang. Dan ya, "abang" di sini maksudnya merah ya kawan-kawan, karena kebanyakan spesies dari ikan itu berwarna merah dan mereka juga merupakan predator bagi ikan-ikan kecil dan juga udang di sungai. Jadi tak heran jika populasinya cukup banyak di sungai itu. Bentuk ikan itu seperti ikan nila namun pada bagian punggungan terdapat sirip yang menyerupai duri-duri yang tajam untuk pertahanan dirinya.
"Ibu lihat, aku sudah dapat satu ekor!" Ucap Fiya dengan gembira kepada ibunya karena dengan waktu cepat ia sudah berhasil menangkap seekor ikan.
"Alhamdulillah nak, kamu taruh saja ikan itu di wadah yang ada di atas sana. Ati-ati karo ri ne iwak iku, landep kui rine, ojo ngasi ngeneki tangan." Bu Sulastri menasehati putrinya supaya ia hati-hati saat melepas ikan itu dikerenakan 'duri' ikan itu memang tajam, dan dapat melukai tangan jika kita tidak berhati-hati saat memegangnya.
"Inggih Bu, aku akan berhati-hati saat melepasnya." Balas Fiya kini sudah berada di dekat wadah yang digunakan untuk menaruh ikan hasil tangkapannya tadi. Tapi benar saja, saat Fiya mencoba melepas ikan itu dari kailnya ikan merah itu menggeliat dan tanpa sengaja sedikit melukai jari manis Fiya yang tengah melepaskan ikan itu.
"Aw, ternyata duri ikan ini memang tajam. Pantas saja ia jadi predator di ekosistem sungai ini." Ucap Fiya saat melihat jari manis tangan kanannya sedikit mengeluarkan darah, luka itu tidak terlalu besar hanya seperti tertusuk jarum saja.
Fiya segera membersihkan luka itu dengan menghisap darah nya, dengan mulut supaya darah yang keluar dari jarinya dapat berhenti dengan cepat.
Fiya membuang asal darahnya tadi ke rerumputan yang ada di sampingnya.
Setelah merasa lebih baik, Fiya turun dan menghampiri ibunya lagi untuk menangkap beberapa ikan yang lain. Tanpa disadari oleh Fiya, ada sesuatu yang merayap untuk mendekati tempat di mana Fiya membuang darah yang keluar dari jarinya itu. Nampaknya darah Fiya telah mengundang kehadiran sebuah makhluk yang tidak biasa.
__ADS_1
~ Sampai di sini dulu yaa guys, dan maaf kemarin author tidak up dikarenakan saat mencari ide malah kebablasan tidur๐๐
Alhasil idenya datang di hari berikutnya ๐