
"Aneh sekali.. kenapa tiba-tiba bunga itu menghilang begitu saja..?" Fiya masih bertanya-tanya dalam hatinya, ia masih tidak percaya jika bunga itu lenyap begitu saja.
Bunga cantik yang nampak seperti bunga melati itu sepertinya bukan bunga biasa, seperti itu sebuah pesan rahasia untuk Fiya. Dan, si pengirim pesan kini sedang mengawasi Fiya dari atas Pohon Agasia besar yang tidak jauh dari ladang Fiya. Sosok yang memakai pakaian dengan warna biru laut itu nampak tersenyum tipis, saat Fiya berhasil menerima pesan yang ia kirimkan.
Kemudian sosok itu turun dari pohon dimana ia mengawasi Fiya sesaat setelah ia melihat Fiya dan ibunya pergi menjauh dari tempat tadi. Pria itu kemudian mengeluarkan bunga melati yang berwarna ungu dengan gradasi putih itu. Tapi, dia tidak mengeluarkan bunga itu dari saku ataupun kantong celananya. Melainkan ia mengangkat tangan kanannya, kemudian dari tangan itu muncul cahaya dan tampaklah Bunga melati yang baru saja dilihat oleh Fiya.
~ Ohh ternyata kamu toh yang kerjain Fiya sama ibunya. 🤣
Sosok itu kemudian mengikuti Fiya dengan sangat pelan, ia bahkan tidak mengeluarkan suara dari langkah kakinya karena ia menggunakan ajian sriti angin. Jadi, ia bisa berjalan dan juga melompat dari tempat yang sangat tinggi, dan memanjat tebing dengan cepat bagaikan angin yang mengalir begitu saja.
Hingga sampailah pria itu di balik sebuah tanaman perdu yang cukup tinggi, ia mengawasi semua gerak-gerik Fiya yang sedang membantu ibunya menanam biji sawi di lahan yang sudah disiapkan sebelumnya. Fiya nampak terlihat lebih cantik ketika mengenakan baju biasa dan berkebun dengan ibunya. Sosok pria itu tanpa sadar memperlihatkan senyum yang penuh dengan rasa bahagia, entah kenapa sosok itu merasa bahagia saat melihat Fiya tersenyum dengan lepas dan juga bebas menjalani hidupnya seperti layaknya orang normal.
Kemudian, raut wajah lelaki itu berubah ketika terlintas di benaknya bahwa ia telah membuat Fiya menelan Mutiara Jiwa Putih miliknya, sehingga membuat ingatan gadis itu di masa lalu kembali kepadanya tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Namun, sosok itu tidak memiliki pilihan lain. Jika ia membiarkan Fiya tidak sadarkan diri di alam bawah sadarnya maka itu akan berdampak pada raga kasarnya yang berada di dunia nyata. Jadi, mau tidak mau ia harus menggunakan Mutiara Jiwa Putih itu untuk menyelamatkan jiwa Fiya yang sedang berkelana di alam lain. Namun, sebagai konsekuensinya ia harus kehilangan sebagian kekuatannya dan efek dari Mutiara itu akan secara perlahan mengembalikan ingatan Fiya.
"Semoga kamu akan terus tersenyum seperti ini, aku tidak ingin melihat senyuman itu memudar dari wajahmu yang cantik." Gumam sosok itu yang tidak lain adalah Pak Ardi. Ia sudah sejak dini hari tadi memantau rumah Fiya dari kejauhan, namun apa maksud di balik tindakannya itu?
Pak Ardi tidak bisa membiarkan Fiya mengalami masalah karena sekarang ingatannya sudah mulai kembali padanya, yang artinya 'Takdir' yang sudah diramalkan itu tidak bisa dicegah lagi.
Tiba-tiba dari belakang Pak Ardi muncul sosok lelaki dengan di tangannya memegang sebuah pedang yang masih lengkap dengan sarungnya. Sosok itu mengenakan pakaian yang terlihat kuno dengan menggunakan kain berwarna coklat tua yang melilit pinggangnya. Lelaki itu juga mengenakan sebuah benda yang mirip sabuk namun ia kenakan di badannya dan juga ia membawa surat yang ditulis di atas daun rontal. Surat itu digulung dengan rapi dan diikat menggunakan tali berwana keemasan yang menunjukkan jika itu bukan surat biasa.
"Yang Mulia, saya membawa surat dari Adipati yang Anda tugaskan di wilayah selatan. Saya juga membawa laporan bahwa ada pergerakan yang mencurigakan dari kelompok di bagian barat." Lelaki yang berpakaian kuno seperti seorang prajurit itu nampak memberi hormat kepada pak Ardi, kemudian ia menyerahkan surat itu kepada pak Ardi.
__ADS_1
Pak Ardi menerima surat itu dan ia nampak terkejut setelah selesai membaca isi dari surat yang dikirim oleh prajurit di sampingnya itu. Ia kemudian meminta prajurit itu untuk ganti mengawasi Fiya karena ia akan pergi ke suatu tempat.
"Terima kasih atas laporan yang sudah kamu berikan, dan aku minta tolong kamu menggantikan aku mengawasi gadis itu. Dan ingat jangan sampai kamu ketahuan oleh siapapun, nyawa gadis itu sangat penting. Jadi, aku berharap kamu akan menjaga keselamatannya selama aku pergi ke wilayah barat." Titah pak Ardi dengan nada yang tegas kepada prajurit tadi.
"Baik Yang Mulia, Anda tidak perlu khawatir. Saya akan menjaga Yang Mulia Putri dengan segenap kemampuan saya." Jawab Prajurit itu dengan menunduk kan kepalanya dan tangannya ia satukan dengan tangan kanan menggenggam tangan kirinya yang ia kepalkan, nampak seperti seorang anak buah yang memberi hormat kepada atasannya.
"Aku percayakan tugas ini padamu." Ucap pak Ardi, kemudian ia segera pergi dari sana dengan cepat. Beberapa detik kemudian ia sudah tidak nampak lagi di sana. Dan, prajurit itu tadi mengemban tugasnya untuk menjaga keselamatannya Fiya dengan segenap kemampuan dan juga nyawanya.
~ Wah-wahh.. sebenarnya Fiya itu siapa yaa? Kok nyawanya begitu penting.
Iya dong kan Pemeran Utama🤭
*
*
*
"Baiklah Bu, kita sudah selesai dengan ini. Kalau begitu ayo kita segera berangkat memancing." Ajak Fiya dengan nada yang begitu bersemangat untuk mengajak ibunya memancing di sungai yang tak jauh dari rumahnya itu.
"Iya.. iya nak, aku kalau gitu kita berangkat. Eh, tunggu dulu kamu sudah bawa umpannya atau belum?" Tanya Bu Sulastri kepada putrinya itu, ia sepertinya sudah bisa menebak jika putrinya belum sempat mencari umpan untuk ikannya nanti.
"Oh iya.. yahh, aku lupa belum cari umpan. Kalau begitu aku cari cacing dulu ya Bu? Ibu tunggu sebentar di sini, aku akan segera kembali dengan membawa beberapa cacing." Kemudian Fiya bergegas pergi untuk mencari beberapa cacing untuk umpan memancingnya tadi.
__ADS_1
Saat Fiya sudah mulai menjauh dari tempat itu, Bu Sulastri memandang sebuah pohon yang ada di sana. Kemudian ia berkata dengan nada yang pelan namun penuh penekanan.
"Keluarlah! Aku ingin bicara sebentar denganmu." Ucap Bu Sulastri yang tak lain ditujukan kepada prajurit yang sedang mengawasi dan menjaga mereka sejak tadi.
Tak lama, prajurit itu turun dan memberi hormat kepada Bu Sulastri. Prajurit dan Bu Sulastri nampaknya sudah saling mengenal, namun apakah Fiya mengetahui ini? Sepertinya Fiya belum mengetahui ini karena Bu Sulastri dnegan sengaja menunggu Fiya pergi untuk berbicara dengan prajurit itu.
"Hormat pada Yang Mulia, maaf hamba sudah lancang dengan mengawasi Yang Mulia tanpa meminta ijin terlebih dahulu." Prajurit itu nampak berlutut dan meminta maaf kepada Bu Sulastri.
"Bangunlah, aku tidak masalah dengan itu. Aku hanya ingin bertanya apakah 'dia' yang sudah menyuruhmu?" Tanya Bu Sulastri kepada prajurit itu dengan ekspresi yang sulit di artikan.
"Benar Yang Mulia, hamba diberi perintah olehnya." Prajurit itu menjawab pertanyaan Bu Sulastri layaknya seorang Prajurit yang memberi laporan kepada Ratunya.
"Kalau begitu saat dia kembali nanti, katakan padanya untuk menemui ku saat tanggal 13 Bulan ini, di tepi hulu sungai yang ada di sana." Perintah Bu Sulastri pada prajurit itu dan tangan kanannya menunjuk ke arah barat laut.
"Baik Yang Mulia, hamba akan menyampaikan pesan ini kepada beliau."
Jawab prajurit itu dengan sopan dan ia tak berani menatap wajah Bu Sulastri.
"Aku ucapkan terima kasih, dan sekarang kamu boleh pergi karena aku tidak ingin putriku melihatmu ada di sini dan mengawasinya." Titah bu Sulastri kepada prajurit yang ada di sampingnya itu, kemudian prajurit itu segera kembali ke tempat persembunyiannya semula.
Wahh.. ternyata latar belakang Fiya bukan berasal dari keluarga biasa. Tapi, sebenarnya siapakah identitas dari Alifiya Rahmawati ini?
☘️Penasaran nggak?😆 Tapi maaf ya bagi yang penasaran harus menunggu beberapa bab lagi untuk mengetahui identitas asli dari Alifiya ini yaa, jadi tetap ikuti kisah 'Mutiara Mimpi Gadis Desa' ini ya para pembaca tercinta. ;)
__ADS_1