
" Tidak!! Aku harus pergi sekarang juga! "
Fiya amat terkejut saat mendapati ada darah merah segar yang menetes di atas mejanya. Tanpa basa-basi ia langsung bergegas pergi dari tempat duduknya. "Jangan.. kumohon jangan sekarang!" Fiya berlari sambil sesekali air mata mengalir dari sudut matanya itu.
Beruntung saat itu sedang tidak ada guru yang mengajar di kelasnya. Jadi Fiya bisa langsung pergi dari kelasnya tanpa harus membuat alasan pada gurunya. Dan Rizki juga sedang ada panggilan ketua kelas, oleh karena itu tidak ada orang lain yang mengetahui jika di meja duduk Fiya terdapat setetas darah segar yang tiba-tiba jatuh dari atas
"Bagaimana ini!! Apa aku harus pergi dari sekolah ini dulu? Jika aku tetap berada di sini maka mereka pasti akan terkena akibatnya!" Fiya terlihat panik, ia berlari menuju koridor sekolah, di sana hanya terdapat beberapa siswa yang duduk dan berbincang, Namun tiba-tiba dari dalam ruang laboratorium biology, ada tangan yang menariknya untuk masuk ke dalam sana.
"Tidak!! Ah si...." Belum sempat Fiya melanjutkan kata-katanya ia sudah dibekap oleh tangan lelaki itu. "Diam, jangan sampai bersuara!" Lelaki itu berbisik di dekat telinga Fiya. Kemudian Fiya mengangguk pertanda jika ia mengerti perintahnya.
Siapa sih sosok misterius ini..?
__ADS_1
Dua menit kemudian, Fiya mencium bau darah menyeruak datang. Jantung gadis tersebut berdetak tidak karuan dibuatnya.
"Kumohon, selamatkan Hambamu ya Rabb" Fiya berdoa supaya ia dapat menghindari bahaya yang sedang menginginkan nyawanya itu.
Pria yang bersama Fiya pun mengeluarkan sebuah batu kerikil berwarna biru kehitaman yang berukuran sebesar manik kalung. Lelaki itu menggelindingkan batu kerikil itu di dekat pintu laboratorium biology itu.
"Arghhh lari kemana mangsaku tadiii!!"
Sosok itu mengeluarkan suara yang sangat menakutkan di pendengaran Fiya. Ia berusaha sekuat tenaga untuk menahan tangisannya. Mengetahui gadis yang ada di sampingnya ini ketakutan, Ia pun mendekap gadis tersebut ke pelukannya dengan erat.
Fiya akhirnya bisa bernafas dengan lega lagi. "Syukurlah hari ini aku bisa selamat" Fiya amat bersyukur karena hari ini ia bisa selamat dari sosok yang menginginkan nyawa dan darah dari gadis tersebut.
__ADS_1
Ya, Fiya memang sudah tahu, kalau dirinya lah yang diincar oleh sosok menyeramkan tadi. Karena ini bukanlah kali pertama Fiya mengalami hal ini. Ia berpikir jika semua ini akan berakhir dengan cepat. Namun ia tidak menyangka bahwa "kejadian yang dulu" barulah awal dari kisah hidupnya yang tidak biasa.
"Apakah kau baik-baik saja? Kau tidak terluka 'kan?" Tanya lelaki yang telah membantu Fiya lolos dari bahaya pagi ini. "Iya, aku baik-baik saja, Terima kasih sudah menolongku, aku pasti tidak akan melupakan kebaikanmu hari ini."
"Kau tak perlu memikirkannya, sudah menjadi tanggung jawab ku untuk melindungi mu dari bahaya" Jawab pria itu dengan datar namun diselingi senyuman yang hangat.
Fiya terkejut dengan apa yang diucapkan pria tersebut. "Ah, terima kasih sekali lagi karena sudah membantuku, tapi aku minta maaf karena aku harus segera kembali ke kelas, karena aku tadi meninggalkan kelasku dengan buru-buru. Aku khawatir jika guru saat ini sudah kembali lagi ke kelas."
"Baik, kau cepat kembalilah, jangan sampai kau mendapat hukuman karena dikira pergi jalan-jalan saat jam pelajaran." Ucap lelaki gagah tersebut dengan nada yang dibuat menakut-nakuti Fiya.
Dan Fiya hanya tersenyum simpul menanggapi candaan pria tersebut. "Baik, sampai jumpa." balas Fiya dengan melambaikan tangan kanannya kearah pria tersebut.
__ADS_1
"Hati-hati, aku pasti akan selalu mengawasi dirimu dari jauh". Ucap Fiya tersebut namun dengan nada yang pelan. Ia tersenyum saat melihat Fiya berlari kecil melalui koridor menuju kembali ke kelasnya.
Dan benar saja ternyata di kelas sudah ada guru yang mengajar. "Oh tidak! Habislah aku hari ini.."