
Hai haii para readers tercinta author..
Selamat malam Seninπ Dan bagi kalian yang masih duduk di bangku sekolah semangaattt yaa!πͺ
Karena besok kita akan kembali ke ekosistem sekolah dan memulai lembaran baru di tahun ajaran baru ini!!π₯°
Terus Semangat serta jangan pernah menyerah untuk menggapai cita-cita & impian kalian. Ingat Sukses hanya datang kepada mereka yang Bekerja Keras! ππ
Matahari sudah mulai naik ke tahta tertinggi nya, kini panas matahari terasa lebih menyengat kulit manusia. Fiya dan ibunya yang sudah cukup lama memancing, kini bergegas untuk naik dan mengemasi peralatannya.
Setelah hampir satu jam memancing, mereka kini sudah mendapatkan lima ekor ikan yang cukup besar. Ikan itu sudah lebih dari cukup untuk lauk mereka berdua hari ini.
Bu Sulastri mengemasi peralatan memancingnya dan Fiya yang membawa hasil tangkapan mereka hari ini. Ikan-ikan itu diikat dengan sebuah rumput yang cukup panjang, sehingga terlihat seperti buah rambutan yang dijual per ikat di pinggir jalan.
"Ibu.. bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Tanya Fiya pada akhirnya, sebenarnya dia ingin bertanya pada ibunya sedari tadi. Namun, ia belum menemukan waktu yang tepat.
"Tentu saja, apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Bu Sulastri dengan menatap lembut anak gadis kesayangannya itu.
"Begini, apakah ibu pernah menemukan sebuah kotak kecil yang memilikinya ukiran indah di pinggirnya? Dan ya kotak itu berwana coklat tua dan sedikit mengkilap di bagian tutupnya." Fiya akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan tentang kotak itu.
"Sebuah 'kotak kecil'?" Beo ibu Fiya, ia kemudian menunduk menatap jalanan yang mereka lewati, setelah diam beberapa saat. Akhirnya Bu Sulastri mulai angkat bicara.
"Sepertinya ibu tidak pernah melihatnya nak, apakah kamu punya kotak seperti itu?" Bu Sulastri balik bertanya pada Fiya.
Fiya terdiam sebentar, kemudian ia menjawab pertanyaan dari ibunya. "Aku, aku juga tidak terlalu ingat Bu, sebenarnya aku hanya melihat itu di buku diary ku. Tapi entah kenapa dalam ingatanku tidak ada apapun mengenai kotak itu." Fiya berterus terang pada ibunya.
"Sudahlah nak, kamu tidak perlu memikirkannya lagi. Oh iya kamu kan sudah selesai ujian akhir, jadi kapan pembagian rapor nya akan dilakukan?" Tanya Bu Sulastri yang mencoba mengubah topik pembicaraan.
"InsyaAllah Minggu depan bu, hari Jumat pekan terakhir bulan ini." Fiya tahu jika ibunya sedang mengubah topik pembicaraan, tapi ia mengikutinya saja.
"Kenapa aku merasa jika ibu menyembunyikan suatu hal dariku?" Fiya bertanya-tanya dalam hatinya, namun ia tidak lagi membahas pertanyaan nya tadi. Akan tetapi Fiya masih penasaran dengan catatan itu, ia yakin jika itu adalah tulisan tangannya. Namun, kenapa ia tidak ingat alasan kenapa ia menulis 'kotak misterius' itu di dalam diary nya.
Setelah berjalan selama beberapa menit, akhirnya Fiya dan ibunya sampai di rumah mereka. Sesampainya di rumah mereka membersihkan diri dan menaruh ikan itu di dapur untuk diolah nanti.
__ADS_1
.
.
.
Senja mulai menyapa, langit di arah bara kini mulai berwarna kemerahan. Menandakan sebentar lagi bulan akan menggantikan mentari untuk menyinari bumi. Fiya kini sudah membersihkan diri dan ikan hasil tangkapannya tadi juga sudah ia masak bersama ibunya beberapa saat yang lalu.
Adzan maghrib mulai berkumandang di langit yang berwana jingga kemerahan, alunan suaranya merdu bersautan antar masjid dan surau di desa tersebut. Memang, di desa tempat tinggal Fiya mayoritas ialah beragama Islam. Di yang berukuran luas itu juga terdapat banyak masjid dan juga surau-surau kecil yang menghiasi jalanan desa tersebut.
Di desa tempat tinggal Fiya juga terdapat sebuah tanah wakaf yang digunakan sebagai madrasah, TPQ (taman pendidikan Al-Qur'an), dan juga Universitas terbuka yang digelar setiap hari Ahad. Jadi, Fiya termasuk sangat beruntung lahir dan tinggal di Desa yang menjunjung tinggi tradisi dan nilai-nilai keislaman.
Setelah selesai melaksanakan sholat Maghrib, Bu Sulastri dan Fiya duduk bersama di meja makan yang terletak di samping dapur rumah tersebut.
"Ibu, apakah saat liburan nanti kita akan berkunjung ke rumah nenek?" Tanya Fiya saat ia dan ibunya sudah duduk berhadapan di meja yang ukurannya tidak terlalu besar itu.
"Iya tentu saja, pasti beliau sudah rindu sekali denganmu." Ibu Fiya menjawab dengan antusias. Sudah menjadi tradisi bagi mereka berdua setiap Fiya libur sekolah pasti akan berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya yang terletak di kecamatan yang berbeda.
"Aku juga sudah merindukan mereka, jadi apakah kita akan langsung berangkat setelah liburan akhir tahun ini dimulai?" Tanya Fiya dengan mata yang berbinar-binar.
Gadis itu benar-benar merindukan nenek dan kakeknya, wajar saja mereka tidak bertemu setiap hari. Paling tidak mereka akan berkunjung jika sedang ada hari libur dikarenakan jarak rumah mereka cukup jauh.
Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah apartemen yang cukup mewah di tengah kota. Nampak Pak Ardi sedang berbicara dengan lelaki yang ia suruh untuk menjaga dan mengawasi setiap tindakan Alifiya.
"Bagaimana? Apakah hari ini berjalan dengan lancar?" Tanya Ardiansyah kepada lelaki yang duduk bersebrangan dengannya itu.
"Semuanya cukup baik, tapi nona Alifiya tadi terluka dan hampir saja darahnya diambil oleh siluman kelabang. Untung saja aku menyadari keberadaannya, dan masih sempat untuk mengusir makhluk itu." Lelaki itu melaporkan kejadian yang terjadi di pinggir sungai tadi dengan jelas.
"Apa kamu bilang? Siluman itu berusaha untuk mencuri darah Alifiya?!" Ekspresi Ardiansyah berubah seketika ketika ia mendengar jika darah Alifiya hampir saja diambil oleh siluman kelabang.
"Iya benar, aku rasa mereka telah memulai pergerakannya." Jawab Lelaki yang bernama Dimas itu.
"Aku tadi juga sudah menyelidiki nya ternyata 'monster' yang pernah menyerang Alifiya di sekolah adalah kaki tangan 'Organisasi Hitam'. Namun sampai saat ini aku masih belum bisa mencari tahu siapa sebenarnya pemimpin organisasi itu." Ardiansyah kembali mengingat kejadian dimana Fiya hampir terluka di sekolah, dan kejadian itu tidak hanya terjadi sekali. Melainkan dua kali, dan yang terkahir Ardiansyah harus mengorbankan sebagian kekuatannya untuk menyelamatkan Alifiya.
__ADS_1
~ Apabila kalian lupa kejadian nya, itu ada di bab "Kamu Harus Lenyap" dan "Permainan Berdarah".
"Lalu tindakan apa yang harus kita lakukan? Akankah kita menunggu sampai Purnama bulan depan?" Tanya Dimas pada Ardiansyah, dia merasa jika mereka membiarkan Organisasi ini terus menjalankan rencananya. Maka bencana yang mengerikan tidak dapat dihindarkan lagi.
"Kita tidak punya pilihan lain, kita harus menunggu gadis kecilku itu genap berusia 17 tahu. Jika kita melakukannya sebelum itu, aku khawatir akan membahayakan nyawanya." Ardiansyah berkata dengan nada yang terdengar serius. Dari tatapan matanya jelas terlihat jika dia tidak ingin membahayakan nyawa Alifiya.
"Baik aku mengerti, jika kita kehilangan dia. Maka usaha kita selama ini akan sia-sia." Dimas sangat mengerti dengan maksud pemimpinnya itu.
"Kalau begitu kau boleh istirahat sekarang." Ardiansyah menyuruh Dimas untuk istirahat, karena ia tahu jika rekannya itu pasti lelah karena telah seharian ini menggantikan tugasnya untuk mengawasi Alifiya.
Setalah mengatakan itu, Ardiansyah beranjak pergi dari tempat duduknya. Namun, pergerakan nya di tahan oleh Dimas.
"Tunggu, aku lupa mengatakan jika Ibu Alifiya tadi memberi pesan kepadamu jika beliau akan menunggumu di danau pada malam ke 13 bulan ini." Dimas menyampaikan pesan dari Bu Sulastri yang ditujukan kepada Ardiansyah itu.
"Dia akan menungguku di danau..? Apakah Alifiya tahu tentang ini?" Ardiansyah balik bertanya pada Dimas, ia sedikit heran kenapa tiba-tiba Bu Sulastri memintanya untuk datang ke danau.
"Tidak, Alifiya tidak tahu mengenai hal ini. Karena Bu Sulastri menyampaikan pesan ini saat dia tidak ada di sana." Jelas Dimas, dan diangguki oleh Ardiansyah.
"Kalau begitu aku permisi dulu." Setelah selesai dengan tugasnya Dimas berpamitan untuk kembali ke rumahnya sendiri.
"Baik, terima kasih atas kerja kerasmu hari ini. Dan ya jika kamu punya waktu aku akan mengajakmu untuk menyelidiki goa yang ada di wilayah barat. Karena aku merasakan ada kekuatan yang sangat kuat tersembunyi di dalam goa tersebut." Ucap Ardiansyah.
"Tentu saja aku akan ikut denganmu." Setelah mengatakan itu, Dimas segera beranjak pergi dari apartemen Ardiansyah.
"Kenapa dia mengajakku untuk bertemu di danau, apakah ada sesuatu yang terjadi pada Alifiya?" Gumam Ardi ketika ia sudah sendirian.
Kemudian ia membuka HP nya dan menekan aplikasi galeri di sana. Ia menggeser layar HP itu ke atas, dan ia berhenti ketika ia melihat foto Alifiya ketika ia baru beranjak dewasa. Dalam foto itu nampak Alifiya memakai baju seragam berwana putih dan rok panjang yang berwarna biru tua, Ardiansyah mengambil foto itu diam-diam ketika ia baru saja datang ke wilayah ini.
"Kamu sangat cantik saat tersenyum, dan aku berharap senyuman di wajahmu tidak akan pernah hilang."
Ucap Ardiansyah ketika melihat foto Alifiya di layar HandPhone nya itu. Ia berharap jika Alifiya akan terus bahagia dan juga dapat menghadapi takdir yang akan segera datang untuk menemuinya. Sebuah takdir yang tidak bisa untuk dihindari lagi.
~ Wah.. wahh, sebenarnya Alifiya itu siapa ya?? Kira-kira udah ada yang bisa nebak belum nih.π
__ADS_1
Sabar yaa nanti satu persatu misterinya pasti akan terungkap π