
Dan reflek Fiya pun berteriak seperti seorang yang bertemu dengan spesies tak kasat mata
"Aaaaa Ada Tangan Buntungg.... "
"Heii sembarangan saja kamu ini!! Masa iya tangan utuh kayak gini dibilang buntung"
Fiya terkejut, ternyata tangan itu adalah tangan manusia. Untung saja jantungnya tidak jadi kabur. Kalau saja jantung Fiya merajuk, bisa-bisa jadi heboh satu sekolahan.
"Kenapa Anda ada sini?" Fiya bertanya pada orang yang hampir membuat jantungnya melompat dari tempat seharusnya ia memompa darah ke seluruh tubuh.
"Kenapa memangnya? Aku seorang guru di sini. Jadi,, aku bisa pergi kemanapun kan??" Orang itu balik bertanya pada Fiya
"Seharusnya aku yang tanya.. kenapa kamu di jam pelajaran malah keluyuran hah?! "
"Eh.. eh, gini Pak, bapak sudah salah paham dengan saya... saya gak keluyuran kok Pak"
Fiya menjawab dengan sedikit tergugup karena melihat tatapan dari Gurunya yang seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Tapi.. lagi gentayangan aja kok Pak heheee"
Fiya tertawa dalam hatinya.
"Sudah, cepat kembali ke kelas. Tidak baik anak gadis seperti mu berkeluyuran saat hujan deras begini. Cepat Kembali ke Kelas! "
__ADS_1
Pak Ardiansyah berucap dengan nada yang datar dan terlihat dingin kepada Fiya.
"Ii..iya Pak.. saya akan segera kembali ke kelas. " Fiya memberi hormat pada salah satu gurunya itu, kemudian ia segera berlalu dari sana.
"Memang apa hubungannya anak gadis dengan hujan gini..? Kok belum pernah dengar ya?? "
Fiya bertanya-tanya pada dirinya sendiri kenapa ada hubungannya seorang gadis yang gak boleh keluyuran saat hujan? Seperti nya ia hanya pernah mendengar bahwa anak gadis gak boleh keluyuran malam-malam.. lha kok ini pas ujan?
Jangan-jangan Mr. T Ardiansyah ada udang dibalik bakwann nihhh
.
.
.
.
"Hey.. kenapa kamu? Datang-datang kok kayak orang kesetanan?" Kiki bertanya pada sahabat nya itu karena ia melihat dari raut wajah Fiya bahwa ia seperti memikirkan sesuatu yang gak ada ujungnya.
Dan yang ditanya tak kunjung menjawab. Ia masih asyik dengan pikirannya sendiri.
"Kenapa aku tadi merasa ada yang mengawasi ku lagi lagi. Tapi.. aku yakin jika itu bukan Mr T. lalu,, siapa dia? Apa mungkin?? Ah tidak. mereka tidak mungkin datang kan? Lagi pula... "
__ADS_1
Brakk
Kiki menggebrak mejanya dengan menggunakan kotak pensil yang dipegang nya. Dan tentu saja itu berhasil membuat Fiya kembali sadar dari lamunannya.
"Heii.. Ditanya malah diem aja. Nglamunin apa sih?? " Tanya Kiki pada Fiya yang sudah tersadar.
"Ihh apaan sih Ki, buat kaget tau.." Gerutu Fiya yang baru saja kembali ke dunia nyata.
Dia tadi abis ke dunia imajinasi gays, jadi sekarang baru pulang.
"Ya salah sendiri.. dari tadi nglamun aja, gak baik tau nglamun di sekolah giniii.. Nanti kalo kesambet gimana hayoo? " Tanya Kiki pada Fiya dengan nada yang dibuat seperti seorang nenek yang menakuti cucunya dengan dongan 'nenek gayung'
"Sibukk aja. Gue lagi enak-enak berpikir dan berimajinasi malah diganggu." Sewot Fiya dengan wajah yang nampak lucu dimata Rizki. Fiya selalu berhasil membuat Kiki terpesona dengan tingkah lakunya.
Padahal, Kiki adalah anak yang cukup populer di sekolahnya. Banyak wanita yang mengantri untuk mendapatkan perhatian nya. Selain menjadi ketua kelas, Kiki juga aktif menjadi pengurus OSIS. Jadi tentu saja ia menjadi terkenal.
Terlebih tahun depan Rizki akan dicalonkan untuk menjadi Ketua OSIS masa bakti 2022/2023. Tak hayal ia cukup terkenal di sekolahan tersebut. Tapi, bagi Kiki wanita yang mampu membuat dunianya jungkir balik hanyalah Fiya seorang.
"Emangnya kamu lagi mikirin apa sih? sampai serius gitu??" Tanya Kiki pada akhirnya.
"Akuu.. lagi mikirin Ayah,, Ki"
Kiki terkejut, ia menjadi merasa bersalah terhadap Fiya. Ia tahu benar jika sahabatnya ini sangat merindukan sosok Ayah.
__ADS_1