
"Ayah, benarkah itu? Aku berharap jika ayah akan segera datang untuk kembali bersama aku dan ibu. Kami sangat merindukan ayah.." Fiya kembali meneteskan air matanya, ia mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami. Dan berharap jika mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
Fiya melihat jam kecil yang terletak di meja belajarnya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Fiya segera pergi ke belakang untuk membersihkan diri dan juga makan sahur karena kebetulan hari ini adalah Senin, jadi ia akan menjalankan puasa sunnah.
Matahari mulai menampakkan sinarnya untuk menghangatkan bumi. Fiya kini sudah memakai seragamnya dan siap untuk pergi sekolah. Fiya mengambil tasnya yang sudah ia siapkan sejak tadi malam, lalu ia berpamitan dulu kepada ibunya. Setelah berpamitan Fiya segera melajukan sepedanya untuk pergi ke sekolah.
Dan ya, pekan ini adalah pekan terakhir Alifiya masuk sekolah karena akhir pekan ini rapor dari hasil belajar para siswa selama satu semester penuh akan diberikan. Setelah itu libur panjang akhir tahun pelajaran akan segera dimulai.
Akhirnya Fiya sampai di depan gerbang sekolahnya, ia turun dari sepedanya dan menuntunnya sampai ke tempat parkir. Saat Fiya sampai di sana lapangan parkir masih nampak sepi, hanya ada beberapa kendaraan lain yang berjejer dengan rapi di sana.
Setelah memarkirkan sepedanya, Fiya segera berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas Fiya duduk di bangkunya dan meletakkan tas berwana navy kesayangannya itu. Ia membuka tas bagian depan yang berukuran lebih kecil, lalu mengambil sesuatu yang telah ia simpan di sana.
Fiya mengambil gelang yang diberikan oleh Pak Ardi beberapa hari yang lalu. Entah kenapa hari ini dia ingin mengenakan gelang itu di tangannya.
"Gelang ini cukup cantik, dan liontin kerang ini terlihat asli. Namun, apa maksud nya memberikan gelang ini kepadaku ya?" Fiya bertanya pada dirinya sendiri sembari menyangga kepalanya dengan tangan kanan dan matanya melihat gelang unik itu, yang kini sudah melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
Tiba-tiba Fiya teringat sesuatu ketika ia menanyakan kenapa Pak Ardi memberikan gelang ini padanya. Pak Ardi pernah bilang padanya jika gelang itu adalah miliknya sejak awal. Dan sampai sekarang Fiya masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan gurunya waktu itu. Belum sempat ia menanyakannya, Ardiansyah sudah pergi begitu saja.
...*********...
Sementara di tempat lain, Raya nampak berbicara dengan seseorang di telepon. Sepertinya gadis itu telah menyuruh seseorang untuk menyelidiki siapa sebenarnya lelaki yang telah menggagalkan rencananya untuk menculik Alifiya.
"Apa kamu sudah mendapatkan hasilnya?!" Tanya Raya dengan perasaan yang kesal. Karena sejak kemarin belum ada kabar tentang lelaki misterius itu.
"Maaf nona, kami masih belum berhasil menemukan siapa orang itu." Jawab orang di seberang telepon sana yang masih belum berhasil menemukan orang yang Raya cari.
"Dasar tidak berguna! Apakah mengerjakan tugas sepele saja membutuhkan waktu sampai dua hari?! Dan kalian masih belum bisa mencari tahu siapa orang itu!" Bentak Raya dengan nada yang berapi-api, ia merasa sangat marah karena orang suruhannya belum juga berhasil menemukan orang itu.
"Maaf, maafkan kami nona.. Kami pasti akan berusaha lebih keras lagi." Pria di seberang telepon sana menjawab dengan suara yang amat pelan, ia tidak berani untuk melawan Raya meskipun usianya jauh di bawahnya.
__ADS_1
Raya Puspita, ia adalah putri tunggal dari seorang pengusaha Otomotif terbesar di Asia Tenggara. Jadi, tidak heran jika banyak orang yang tunduk padanya dikarenakan kekuasaan yang dimiliki oleh keluarganya itu. Hal itu juga mengakibatkan Raya memiliki sifat sombong dan juga tidak pernah mau pada siapapun.
Seperti yang ia lakukan saat ini, dia ingin memiliki Rizki. Namun Rizki tak pernah menganggapnya dengan serius, sehingga Raya mengaggap jika Fiya adalah penghalang di antara dia dan Rizki. Oleh karena itu ia ingin menyingkirkan Fiya dari kehidupan Rizki.
Sungguh kejam bukan?!
"Aku akan memberi kalian waktu satu hari lagi, tapi jika kalian sampai gagal. Aku pastikan kalian tidak akan bisa melihat matahari terbit keesokan harinya!" Ancam Raya dengan nada yang mengerikan.
"Baik, baik nona kami pasti akan segera menemukan orang itu." Jawab orang di seberang telepon di sana dengan suara gemetar. Setalah itu Raya mematikan panggilan teleponnya dan segera kembali ke kelas.
*
*
*
"Apakah kita harus mengunjungi gadis kecil itu lagi, aku sudah sangat merindukannya." Pria yang memakai jubah hitam dan kelat bahu di lengannya memulai percakapan. Lelaki itu berucap denah senyuman smirk yang menghiasi wajahnya.
"Apakah tidak terlalu cepat untuk kita kembali ke sana?" Jawab lelaki paruh baya yang memiliki rambut cukup panjang dan sebagian besar sudah ditumbuhi uban.
"Kurasa tidak. Aku juga penasaran dengan orang yang berhasil melindungi gadis kecil itu dari serangan Tiger." Lelaki itu kembali berucap.
"Baik Yang Mulia, jika itu yang anda inginkan saya akan segera mengatur persiapan untuk menjalankan rencana kita." Jawab lelaki paruh baya itu yang kemudian segera berlalu dari sana dan masuk kembali ke dalam goa.
"Aku pasti akan segera menemui mu, aku harap kamu tidak lupa saat kita bertemu lagi," ucap lelaki itu dengan tersenyum miring. Setelah itu, ia berjalan menuju ke sebuah sungai yang tidak jauh dari goa tersebut.
Lelaki itu berdiri di pinggir sungai dan menatap bayangannya sendiri di air sungai yang cukup jernih tersebut.
Tanpa di diduga lelaki itu melukai tangan kirinya dengan sebuah batu yang tajam, dan meneteskan sedikit darahnya ke air sungai itu. Tiba-tiba air di sungai itu beriak, dan tempat di mana lelaki itu meneteskan darahnya menjadi berwarna merah serta muncul gelembung udara yang cukup banyak. Dan muncullah sesosok yang bentuknya menyerupai ular, namun dia memiliki sirip layaknya ikan.
__ADS_1
"Aku punya tugas istimewa untukmu.." Ucap lelaki tadi yang tersenyum puas menatap hewan mengerikan yang ada di hadapannya itu.
~ Wah-wahh kira-kira apa ya yang direncanakan oleh orang misterius itu??
*
*
*
Waktu kini sudah hampir jam tujuh, namun Fiya belum melihat tanda-tanda Rizki akan datang. Ia sedikit khawatir, tidak biasa nya Rizki datang terlambat. Apalagi di hari Senin.
Ketika jam masuk berbunyi, di saat itulah Rizki terlihat memasuki kelas dengan tergesa-gesa. Hampir saja Rizki telat masuk sekolah hari itu.
"Hai Ki, tumben hari ini agak telat?" Fiya bertanya pada sahabatnya itu yang biasanya selalu datang pagi-pagi. Namun kini ia hampir saja terlambat masuk kelas.
"Ah iya Ay, aku tadi malam tidak bisa tidur dan akhirnya aku tidur hampir jam dua pagi. Dan inilah hasilnya aku hampir saja telat." Jelas Rizki dengan nafas terengah-engah, nampaknya ia sedikit berlari untuk masuk ke dalam kelas.
"Ooow begitu, by the way kenapa kamu kok nggk bisa tidur? Lagi mikirin sesuatu kah?" Tanya Fiya dengan penasaran.
"Itu karena..." Belum sempat Rizki melanjutkan perkataannya, ia melihat Fiya mengenakan gelang yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Eh, gelang apa itu? Kok aku belum pernah lihat kamu pakai gelang ini." Rizki balik bertanya pada Fiya dengan ekspresi penasaran dan juga terkejut. Karena setahunya, Fiya jarang sekali mengenakan benda-benda seperti itu. Biasanya Fiya hanya mengenakan jam tangan kecil untuk memudahkan ia melihat waktu ketika dia tidak memegang Handphone.
"Ee, gelang ini.. Ini pemberian dari Pak Ardi." Jawab Fiya singkat dengan wajah yang malu-malu.
"What ?? Gelang ini dari Pak Ardi?!" Sontak saja Rizki terkejut dengan apa yang dikatakan Fiya.
Ea eaa, kaget gak nih kak Kiki?? Fiya udah dapat gelang dari Pak Ardi. Wahh Kiki ada saingannya nihh 🤭
__ADS_1