
Halo haii para readers author.. Mohon maaf sekali ya author baru up lagi setelah sekian purnama melanda ๐๐ญ
Mohon maaf sekali ya author baru bisa up sekarang, dan InsyaAllah setelah ini akan author usahakan untuk update minimal seminggu sekali dulu ya, dikarenakan author sudah kembali ke habitat semula nih hehe, dan tugas-tugasnya juga nggk sedikit
Okay, tetap stay terus ya di karya pertama author ini. Karena InsyaAllah author akan berusaha untuk menamatkan cerita ini ya, Terima kasih semua nyaaa ๐
"What ?? Gelang ini dari Pak Ardi?!" Sontak saja Rizki terkejut dengan apa yang dikatakan Fiya. Ia tidak percaya jika Pak Ardi yang terkenal dingin itu memberikan sebuah gelang pada Fiya. Pasti ada suatu maksud Pak Ardi memberikan gelang itu pada Fiya, begitulah yang dipikirkan oleh Rizki saat ini.
"Iya benar.Dia memberiku ini beberapa hari yang lalu," jawab Fiya dengan mata yang masih menatap gelang itu.
"Lalu? Apakah dia memberimu ini dengan maksud tertentu?" Rizki kembali bertanya, ia sungguh penasaran kenapa Pak Ardi memberikan gelang itu kepada Fiya.
"Hmm, kalau itu aku juga tidak tahu," jawab Fiya singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Apakah mungkin, dia menyukai mu Ay?" Rizki kembali bertanya dengan nada antusias, meskipun dalam hatinya ia sedang cemburu karena Fiya mendapatkan hadiah dari laki-laki lain.
Tentu saja Fiya terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rizki.
"Tentu saja tidak, mana mungkin dia menyukai ku," jawab Fiya dengan cepat.
__ADS_1
"Ah iya Ki, apa kamu sudah menemukan petunjuk lain tentang kotak itu?" Fiya balik bertanya untuk mengalihkan topik pembicaraan.
"Seperti yang aku bilang kemarin malam, kemungkinan kotak itu ada hubungannya dengan teman kita waktu SMP dulu." Jawab Rizki dengan wajah yang serius.
"Teman kita yang itu?" Fiya bertanya lagi dengan alis yang dinaikkan sebelah, dan otaknya mencoba menelisik ke masa lalu.
"Iya benar. Kurasa dia ada sangkut-pautnya dengan kotak itu, dan juga surat ancaman itu Ay." Rizki kembali menimpali.
Mereka berdua kemudian diam, dan nampak jelas dari keduanya bahwa mereka sedang menjelajahi pikirannya dengan dalam. Terutama Fiya, ia nampak hanyut dengan pikirannya sendiri.
...Flash back on...
Sang Surya nampak bersinar dengan begitu cerah, dan langit-langit nampak biru menghampar luas di atas sana. Burung-burung berkicauan menambah suasana yang sungguh menentramkan. Fiya duduk sendiri di bawah pohon ketepeng yang daunnya mulai memerah karena akan berguguran. Ia duduk di atas bongkahan batu yang dibuat mirip dengan sebatang pohon besar yang indah. Batu itu biasa digunakan sebagai tempat duduk bagi para siswa yang sedang menikmati waktu istirahatnya.
Fiya sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah wanita itu. "Ih.. Vi, ngagetin aja kamu ini." Jawab Fiya dengan wajah yang sedikit cemberut, karena hampir saja jantungnya melompat keluar karena ulah sahabatnya itu.
"Hehe maaf, lagian kamu nih.. pagi-pagi gini kok udah ngelamun aja. Awas lhoo bisa-bisa nanti malah kebablasan," Ucap Viona dengan wajah yang dibuat-buat untuk menakuti Fiya.
Fiya yang melihat tingkah sahabatnya itu pun terkekeh geli. Alifiya dan Viona sudah bersahabat sejak lama, mereka mulai bersahabat ketika Viona baru pindah dari pulau Kalimantan. Ketika itu Fiya baru duduk di bangku kelas 4 SD. Dan kebetulan sekali ketika itu Fiya sedang duduk sendirian, jadi Viona yang batu datang itu pun menjadi teman sebangku Alifiya. Sejak saat itulah persahabatan mereka dimulai.
__ADS_1
"Enak ajaa.. siapa bilang lagi ngelamun, aku itu lagi menikmati pemandangan yang indah ini. Lihat, jarang-jarang kita bisa pemandangan sebagus ini. Daun-daun itu nampak merah merona, terus lihat bunga-bunga anggrek itu bermekaran semua dan baunya pun juga semerbak harum. Dan dengar, banyak suara burung berkicau di pohon sana." Fiya menunjukkan suasana yang sedang ia kagumi itu kepada Viona.
Fiya terlihat sekali sedang mengagumi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa itu. Ia nampak menikmati suasana yang indah itu di jam istirahatnya yang hanya 15 menit itu.
"Iya yaa, hari ini nampak indah sekali. Wahh kok bisa ya pohon ketepeng itu daunnya jadi warna merah. Kayak di drakor-drakor ajaa," sekarang ganti Viona yang mengagumi keindahan taman sekolahannya itu. Dari sorot matanya nampak berbinar-binar ketika menatap ke arah selatan, tepatnya ketika ia melihat pohon ketepeng yang berukuran cukup besar dengan daunnya yang rimbun, dan daun-daun itu kini nampak berubah warna dari hijau menjadi merah dan juga jingga.
Daun-daun itu nampak seperti dicat oleh peri-peri alam, sepertinya dedaunan itu akan segera gugur dan melayang di atas udara sebelum terhempas ke tanah. Fiya yang melihat sahabatnya itu hanya tersenyum simpul, ia merasa senang ketika melihat orang terdekatnya tersenyum.
"Ya kan, sudah kubilang jika hari ini sangat indah." Fiya mulai berbicara lagi, kemudian ia bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Viona.
"Eh iya Vi, gimana soal rencana kamu itu? Sudah ada perkembangan yang positif belum??" Tanya Fiya kepada Viona dengan menaik turunkan alisnya. Ia menanyakan perkembangan Viona dengan seorang lelaki yang ia sukai.
Viona dan Fiya sudah bersahabat hampir 5 tahun lamanya. Jadi sudah tidak heran jika hampir tidak ada rahasia diantara keduanya.
"Eh.. apaan sih, belum ada perkembangan nih. Dia itu kayak kulkas dua pintu. Dingin banget! Padahal aku sudah ramah, baik dan berusaha buat jadi semanis mungkin di depannya. Tapi, apalah daya jika orang itu kayak es balok, keras dan juga dingin." Ucap Viona dengan wajah bersungut-sungut. Gadis itu nampak kesal ketika menceritakan gebetannya yang tidak mudah di dekati itu.
"Yang sabar dong, harus kerja keras nih buat dapat perhatiannya. Tapi jangan lupa, dia itu belum tentu jodoh kamu, jadi jangan terlalu berjuang buat sesuatu yang belum pasti. Kalau ujung-ujungnya nggk jodoh, kan nyesek tuh bagaian jodoh orang." Jawab Fiya dengan tertawa kecil, ia mencoba menghibur sahabatnya itu.
"Iya ya benar juga, ngapain repot-repot diperjuangan kalau ujung-ujungnya malah milik orang lain." Balas Vio dengan senyuman kecil, karena benar juga apa yang telah dikatakan oleh Fiya. Jika urusan jodoh itu adalah rahasia, jadi kita tidak bisa menebak-nebak sampai rahasia itu terungkap dengan sendirinya.
__ADS_1
Tapi sampai kapan? Sampai janur kuning melengkung dong ๐คญ
Wahhh udah hari Senin lagi nihh.. Jangan lupa Vote nyaa yaa๐