
Sudahlah, aku juga tidak bisa melarangnya. Manusia satu ini kan keras kepala sekali." Fiya tahu pasti dengan watak sahabatnya ini. Maklum saja, mereka telah bersahabat selama 10 tahun lamanya. Jadi, Fiya sudah merasa jika Rizki adalah kakak kandungnya sendiri.
π
π
π
π
Tak terasa hari berlalu begitu cepat.
Mentari mulai menenggelamkan dirinya di balik gunung. Pertanda jika malam yang gelap akan segera datang menyapa dunia ini. Alifiya yang sudah berada di rumah segera membersihkan diri dan bergegas untuk membantu ibunya mengurus hewan ternak yang berada di samping rumahnya.
"Nak.. sudahlah, kamu jangan memberi mereka makan, biar ibu saja yang melakukannya. Kamu baru saja pulang sekolah, lebih baik istirahat saja dulu."
Ibu Sulastri tidak tega jika harus melihat anak tunggalnya ini kelelahan, karena jarak dari rumah ke sekolah tidaklah dekat, minimal Fiya harus menempuh 20 menit perjalanan dari rumah ke sekolahnya. Dan saat ini sekolah Fiya sudah menerapkan 'Full Day' jadi, Fiya pulang jam 15.30 setiap harinya kecuali hari Jumat.
"Ibu, aku tidak lelah, ibu saja yang istirahat.. biar aku sendiri yang menyelesaikan ini." Jawab Fiya dengan lembut kepada ibunya. Ia tidak tega jika harus membiarkan ibunya ini melakukan semua pekerjaannya sendirian. Ia tahu Jika Ibunya ini lelah, karena ia hanya hidup sendirian untuk menghidupi Dirinya. Lalu dimana Ayah Fiya?
__ADS_1
Fiya ingat dengan jelas ketika berusia lima tahun ia masih memiliki seorang Ayah, namun pada suatu hari dimana datang hujan disertai kilat yang bersautan. Ayahnya pergi untuk keluar rumah dan tidak pernah kembali lagi. Sejak saat itu Fiya selalu menanti kepulangan ayahnya, saat hujan badai datang Fiya tidak pernah menutup pintu rumahnya. Ia selalu membuka pintu itu dan berharap jika ayahnya akan kembali pulang dan memeluknya dengan erat.
Tentu saja Fiya merindukan kehangatan dari seorang ayah. Meskipun ia memiliki ibu yang sangat menyayanginya, tetapi bagi anak gadis, sosok ayah sangatlah berarti.
"Ayah.. aku ingin ayah segera pulang, Fiya kangen sama ayah.."
Fiya selalu berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya ia dapat melihat ayahnya lagi. Meskipun hanya dalam mimpi sekalipun.
.
.
.
Apakah semua itu hanya ilusi? Ataukah mimpi seorang gadis yang begitu merindukan ayahnya?
.
.
__ADS_1
.
.
Malam berlalu begitu saja, sekarang sudah menunjukkan pukul 10 malam, Fiya sudah mempersiapkan kebutuhan sekolah untuk esok hari, jadi ia tidak perlu khawatir ada barang yang tertinggal saat berangkat sekolah besok.
"Ibu.. Fiya tidur dulu ya, soalnya besok ada pertandingan dengan SMA 1 Kras Kediri, jadi aku harus tidur lebih awal." Fiya berkata dengan sopan pada ibunya yang sedang menjahit pakaian di ruang tamu keluarganya itu.
"Tidurlah nak.. kamu pasti sudah lelah seharian berada di sekolah. Dan semoga pertandingan besok berjalan lancar, namun tetap ingat bukan juaranya yang penting. Namun proses dalam menggapai gelar juara tersebutlah yang paling berharga."
Bu Sulastri menasihati anak gadisnya ini supaya ia dapat menjalani hari esok dengan hati yang tenang, Beliau tidak pernah memaksa anaknya untuk mendapat Juara 1. Namun ia selalu berpesan supaya Fiya dapat menghargai seluruh proses dan menjalani hidupnya dengan sepenuh hati tanpa ada paksaan dari siapapun.
Karena jika kita menjalani hidup dengan paksaan, semua yang kita lakukan adalah sia-sia. Karena hati kita tak pernah ingin melakukannya.
~ Bu Sulastri ~
Itulah nilai kehidupan yang selalu ia ajarkan pada Putri semata wayangnya itu. Ia ingin Fiya tumbuh sebagai manusia yang dapat menghargai segala sesuatu. Baik yang dilakukan olehnya ataupun usaha yang dilakukan oleh orang lain.
Jadi, dalam hidup kita harus selalu menghargai orang lain. Jangan pernah menganggap kita paling benar walau kedudukan kita paling tinggi. Karena...
__ADS_1
Di atas Langit masih ada Langit. πΎ