
Setelah selesai memakai alas kaki, Fiya bergegas kembali ke kelas untuk mengambil buku Diary nya. Sedangkan April menunggu Fiya di serambi masjid sambil memainkan ponselnya.
Lima menit kemudian, Fiya sudah sampai di dalam kelasnya. Ia segera menuju tempat duduknya yang terletak di meja nomor dua dari depan. Fiya menghampiri tasnya dan membuka bagian belakangnya. Lalu, ia mengambil buku diary nya yang berwarna merah jambu dengan inisial A yang terukir jelas sebagai hiasan sampulnya. Apakah itu inisialnya ataukah orang lain?
~Hanya author yang tahu😆
"Hei Ay, mau kemana nih?" Tanya Kiki yang mengejutkan Fiya, sebab Rizki bertanya dari belakang dan dengan nada yang dibuat menyeramkan.
"Aish kamu ini, suka banget ya bikin orang kaget..?" Tanya Fiya yang sedikit merasa kesal dengan tingkah Rizki yang terkadang sedikit kekanak-kanakan. Bukan tanpa sebab dong Rizki bisa bersikap seperti itu, Kiki yang sudah mengenal Fiya sejak lama tentu saja sikapnya akan berbeda dengan orang yang baru satu atau dua tahun ia kenal.
"Rahasiaa." Jawab Fiya dengan nada yang dibuat seperti menyembunyikan sesuatu.
"Pasti mau ke sana kan?" Tanya Rizki dengan menunjuk arah barat. Ia tahu benar tempat kesukaan Fiya jika sedang menyendiri saat jam-jam sudah tidak ada pelajaran seperti saat ini. Saat dimana mereka sudah menyelesaikan Ujian Akhir Tahun. Jadi, mereka hanya tinggal menunggu hasil laporan belajar mereka selama satu semester ini.
"Emang gak bisa bohong sama kamu Ki, ya udah nanti kalau ada yang nyariin bilang aja aku di sana." Jawab Fiya kemudian ia segera pergi lagi ke tempat di mana April menunggunya.
Kiki hanya tersenyum melihat sahabatnya melangkah kaki menuju ke luar kelasnya. Kemudian ia duduk di bangkunya dan mulai mengeluarkan pena kesayangannya. Pena yang diberikan oleh Fiya beberapa Minggu yang lalu sebagai hadiah ulang tahunnya.
__ADS_1
"Syukurlah Ay, kamu tidak terpengaruh dengan kejadian pagi tadi. Tapi aku tidak akan tinggal diam sampai mengetahui apa yang sebenarnya terjadi." Gumam Rizki dengan pelan ketika Fiya benar-benar keluar dari kelasnya itu.
*
*
*
Fiya kini sudah sampai di halaman masjid. Kemudian, ia segera melepas alas kakinya dan menginjakkan kaki kanannya dulu ke dalam masjid.
"Fiyaa.. lama banget sih, aku hampir lumutan tahu," gerutu April yang sudah menunggu selama 10 menit di sana.
April memang seorang gadis ceria yang cantik dan juga berbakat. Ia dulu pernah pernah menjuarai lomba melukis setingkat provinsi ketika masih duduk di bangku SMP. Jadi, bisa dipastikan jika bakat melukis April sudah tidak bisa diragukan lagi.
"Iya dong,, kan lumutnya pakai mode boost jadi tumbuhnya cepet.." Jawab April tak mau kalah dengan sahabat baiknya itu.
"Iya deh iyaa.. lumutnya lumut modern." Fiya akhirnya mengakhiri perdebatan keduanya. Ia segera menundukkan diri di samping April. Tangannya membuka Diary dengan sampul merah jambu itu. Lalu ia membuka lembaran baru dan mulai menggerakkan jari-jari lentiknya, menulis sebuah rangkaian kata dan juga mencurahkan isi hatinya di lembaran kertas miliknya itu.
__ADS_1
☘️Jadi kawan-kawan, menulis sebuah Diary itu dapat melatih kita lhoo. Banyak dampak positif yang dapat kita petik jika kita rutin menulis diary. So, kita bisa meningkatkan kemampuan literasi kita dimulai dari menulis diary. Tak perlu banyak-banyak. Yang penting sedikit demi sedikit, namun konsisten. Karena sesuatu yang besar dimulai dari langkah yang kecil. 😉
.
.
Kembali lagi ke Rizki, ia sekarang juga sedang menulis buku diary pribadi miliknya. Berbeda dengan Fiya yang menulis dalam bentuk teks narasi dan deskripsi, Rizki menulis di buku diary nya dalam bentuk bait-bait puisi.
~ Wah wahh.. Kak Rizki ternyata puitis yaa guys.
Rizki menulis buku diary itu hanya saat Fiya tak ada di sampingnya. Ia hanya sedikit khawatir jika Fiya dapat memahami bait-bait puisi. Karena setahu Rizki, pengetahuan Fiya tentang kata-kata puitis juga tinggi. Jadi ia tak ingin jika Fiya mengetahui perasaannya pada Fiya. Mungkin Rizki akan memberi tahu Fiya suatu hari nanti, namun bukan saat masa-masa sekolah.
Bukan tanpa sebab, saat baru memasuki jenjang SMP, Fiya pernah bercerita jika ia ingin fokus dengan sekolah nya dan mendapat beasiswa penuh saat kuliah nanti. Jadi, Kiki sangat menghargai impian Fiya. Oleh karena itu Rizki tak ingin menggangu fokus Fiya dengan urusan 'percintaan' yang belum saatnya.
Yang pasti, Rizki berjanji jika suatu hari nanti ia akan datang untuk melamar Fiya menjadi miliknya dalam sebuah ikatan suci pernikahan.
☘️ Tapi jangan sampai keduluan yang Abang Kiki,, takutnya diambil orang 🤭
__ADS_1
Eits tapi jangan khawatir, soalnya author tetap dukung pendirian kamu ya kak Kiki. You're great !!