
Pak Ardiansyah nampak semakin cemas melihat Fiya tak kunjung sadar. Ia mencoba membagikan minyak kayu putih. Namun tak ada tanda-tanda pergerakan dari Fiya. Gadis itu masih nampak terlelap dalam mimpinya.
Bu Widya yang baru datang dari dapur sekolah pun segera meletakkan teh tangan itu di meja kecil dekat Fiya yang terbaring tak berdaya. Bu Widya nampak menghawatirkan muridnya ini. Ia juga telah memanggil guru yang berjaga di UKS untuk memeriksa keadaannya.
"Sadarlah nak. Jangan membuat ibu cemas." Ucap Bu Widya sambil membelai lembut tangan Fiya. Persis seperti seorang ibu yang membelai anak gadisnya. Bu Widya adalah seorang wali kelas yang sangat sayang pada semua anak didiknya. Ia tak pernah sekalipun membedakan murid-muridnya. Di mata beliau, murid yang menjadi tanggung jawabnya adalah anak kandung yang harus ia rawat dengan sepenuh hati.
Sungguh sosok guru idaman bukan?
"Ibu mohon,, cepat sadarlah Nak.. Ibu tak ingin anak Ibu mengalami kejadian seperti ini..." Bu Fiya mulai mengelus kepala Fiya yang tertutup kudung berwarna coklat tua itu dengan lembut. Ia sudah menyayangi Fiya dan menganggap dia adalah putri kandungnya sendiri. Author jadi terharu nih gayss. 🤧
Sementara Pak Ardian yang duduk cukup jauh nampak mengepalkan tangannya erat-erat. Ia terlihat menahan emosinya, entah apa yang mengganggu pikirannya sejak tadi.
"Maaf Bu Widya, saya titip Fiya kepada Anda dulu.. saya harus membuat perhitungan dengan 'orang' yang membuat Fiya mengalami keadaan ini."
Ucap Pak Ardi kepada Bu Widya, ia nampak sangat khawatir dengan keadaan Fiya. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Sebelum ia mendapat 'Mutiara Jiwa Putih' Fiya lagi. Akan sangat susah bagi Fiya untuk mendapatkan kesadarannya kembali.
"Iya Pak, saya pasti akan merawat Fiya dengan baik di sini." Jawab Bu Widya ketika melihat Pak Ardi sudah akan pergi dari tempatnya berdiri.
Tanpa basa-basi lagi Pak Ardi segera meninggalkan perpustakaan itu, ia nampak berjalan ke Utara dengan tangan yang masih mengepal sampai terlihat otot tangannya. Dalam perjalannya Pak Ardi bertemu Rizki yang nampak kebingungan mencari seseorang.
Kiki nampak mondar mandir di Utara Masjid sekolahn tersebut. Dari raut wajahnya terlihat jelas ia sedang mencari sesuatu. Lalu Kiki melihat Pak Ardi yang sedang berjalan ke arahnya.
Lantas Kiki pun bertanya pada Pak Ardiansyah tentang yang menjadi kebingungan saat ini.
__ADS_1
"Permisi Pak,, apakah bapak melihat Alifiya, dia dari tadi tidak ada di kelas. Jadi aku sedikit khawatir dengan keadaannya." Tanya Kiki dengan sopan kepada gurunya itu.
Pak Ardi menghela nafas panjang, kemudian membuka suara.
"Dia.. baru saja pingsan. Dan sekarang Alifiya ada di Perpustakaan, dia ada di Silent Room." Jelas Pak Ardi kepada Kiki.
Kiki yang mendengarnya pun sontak terkejut. Wajahnya berubah seketika yang awalnya terlihat kebingungan, sekarang terukir jelas di wajahnya ia menghawatirkan kondisi Fiya.
Pak Ardi yang menyadari hal itu pun segera menepuk pundak Kiki sembari berucap.
"Temui Dia, siapa tahu dia akan bangun saat kamu ada di sana."
Ucap Pak Ardi dengan nada yang seolah tau apa isi hati remaja pria yang ada di hadapannya itu. Rizki yang diperlakukan oleh gurunya seperti itu pun merasa salah tingkah sendiri. Namun, Kiki menjawab Pak Ardi dengan membungkukkan badan pertanda mengiyakan perkataannya.
"Iya, periksalah kondisinya. Dan ingat, dia bukanlah adikmu. Dia adalah sahabatmu!" Ucap Pak Ardi dengan nada yang terdengar sinis.
Persis seperti seorang Ayah yang tak ingin anak gadisnya di dekati lelaki lain selain dirinya sendiri. Setelah mengatakan itu, Pak Ardi melanjutkan perjalannya ke tempat yang menjadi tujuannya tadi.
Rizki yang melihat Pak Ardi pergi sedikit merasa heran. Kenapa dia bilang Alifiya bukan adiknya?? Seperti nya Pak Ardi bisa membaca pikirannya Kiki gayss 🤭
"Tidak mungkin kan, dia membaca pikiranku??" Tanya Kiki dengan kebingungan. Namun ia segera tersadar jika Fiya pingsan di perpustakaan. Jadi, ia tak ingin membuang waktu lagi untuk melihat sahabat istimewanya itu.
Kiki segera berlari kecil menuju perpustakaan yang tak jauh dari sana. Ia terlihat jelas menghawatirkan keadaan sahabatnya itu. "Ay, kamu tidak boleh terluka sedikitpun." Kiki berkata pada dirinya sendiri, ia sangat menyayangi Fiya, jadi ia tak rela jika Fiya sampai terluka. Apalagi sampai pingsan seperti ini!!
__ADS_1
~ Author jadi terharu nihh.. pingin deh punya sahabat kayak kak Kikii🤧
*
*
*
Sementara di tempat lain, Pak Ardi sudah berdiri dengan tegap. Tangannya masih mengepal dan ekspresi wajahnya terlihat sangat marah, bahkan wajahnya sampai terlihat merah padam karena menahan amarah yang membuncak di dada.
"Cepat Keluar!! Atau aku yang akan mengeluarkan mu!!" Ucap Pak Ardi dengan lantang di sana. Ia masih mencoba menahan diri untuk tidak memotong pohon itu. Jika saja kesabarannya sudah pada batasnya, pasti ia akan menebang pohon itu dengan kedua tangannya.
*Wahh pak Ardi kuat banget dong, mau nebang pohon pakai tangan lohh
"Baik, itu pilihanmu*!" Ucap Pak Ardi dalam hatinya. Kemudian, ia menarik nafas dalam-dalam dan..
~bersambung 😆
☘️Maaf banget yaa dibuat bersambung dulu🙏 Soalnya jempol MaMa udah keriting nihh🥺
# Disambung besok atau nanti malam yaa
enaknya..
__ADS_1