Mutiara Mimpi Gadis Desa

Mutiara Mimpi Gadis Desa
Cinta Vs Obsesi


__ADS_3

Tanpa disadari oleh Fiya, ada sesuatu yang merayap untuk mendekati tempat di mana Fiya membuang darah yang keluar dari jarinya itu. Nampaknya darah Fiya telah mengundang kehadiran sebuah makhluk yang tidak biasa. Makhluk itu mulai merayap semakin dekat di mana darah Fiya tadi terbuang di atas rerumputan di sana.


Makhluk itu nampak seperti hewan yang memiliki tubuh cukup panjang dan memiliki banyak kaki, diameter hewan tersebut sekitar 3 cm. Tetapi ada sesuatu yang aneh dari hewan tersebut, dari sekujur badannya nampak mengeluarkan cahaya yang berwana kemerahan yang tidak terlalu cerah, namun dapat dilihat dengan jelas jika sinar yang keluar dari badan hewan berkaki seribu atau kelabang itu nampak berwarna merah darah.


Saat hewan aneh itu sudah akan meminum darah Fiya tadi, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memegang hewan itu dan melemparnya sangat jauh. Hingga terbang tinggi dan menghilang di antara awan-awan di langit sana.


~ Kelabangnya langsung di kirim ke langit ya kak πŸ™‚


Dan, pelaku yang sudah membuang hewan itu adalah seorang pria yang tadi diperintahkan untuk mengawasi dan menjaga Fiya.


"Kamu tidak pantas untuk meminum darah ini!" Gumam lelaki itu ketika ia sudah melempar jauh hewan berkaki seribu yang mengeluarkan cahaya merah darah tadi. Setelah selesai dengan hewan aneh tadi, ia segera menghilangkan setetes darah itu dengan menggunakan daun sirih. Daun itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya dan darah yang ada di atas rerumputan tadi menghilang dengan sendirinya.


Setelah darah itu benar-benar menghilang, lelaki tadi segera kembali ke tempatnya semula untuk mengawasi Fiya dan ibunya dari kejauhan, sesuai dengan titah Bu Sulastri tadi.


Alifiya yang sedang fokus dengan kegiatan memancingnya sampai tidak sadar jika tadi ada orang di atas sana, Fiya baru sadar ketika ia merasakan ada sesuatu yang bergerak dengan cepat ke atas. Namun, saat ia melihatnya sudah tidak ada siapa-siapa di tempat ia menaruh ikannya tadi.


"Aneh sekali.. aku sepertinya melihat bayangan yang naik ke atas, apakah tadi itu seekor burung?" Fiya bertanya-tanya dalam hatinya, akan tetapi ia tidak terlalu memikirkannya dan melanjutkan aktivitas memancingnya lagi.


*

__ADS_1


*


*


Di tempat lain, nampak seorang wanita sedang memarahi sekelompok orang di sebuah bangunan tua di tepi kota. Wanita itu tidak lain adalah Raya Puspita, ia sedang memarahi anak buahnya yang telah gagal untuk menjalankan tugasnya bahkan sebelum mereka pergi untuk melaksanakan perintah menculik Alifiya.


"Dasar tidak berguna! Untuk apa aku membayar kalian dengan mahal jika tugas sepele ini saja kalian tidak becus untuk melakukannya. Atau, apa kalian sudah bosan menjadi anak buah ku?!" Tanya Raya dengan nada berapi-api dan sorot matanya menunjukan kemarahan dan juga kebencian yang mendalam.


Orang-orang yang ada tidak berani menjawab dan melakukan apapun kepada gadis belia itu, dikarenakan Raya dikawal oleh tiga bodyguard yang sudah disiapkan oleh Ayahnya untuk mengawal kemanapun anak kesayangannya itu pergi.


"Baik, jika kalian masih bungkam. Aku masih punya cara tersendiri untuk membuat kalian bicara!" Ancam Raya dengan suara yang terdengar menakutkan dan ia kemudian menjentikkan jarinya. Tak lama setelah itu salah seorang bodyguard nya mengeluarkan sebuah tang yang berukuran cukup besar. Lalu bodyguard yang memiliki tubuh kekar itu menyerahkan tang yang sudah ia ambil tadi.


"Apa kalian akan tetap bungkam? Atau haruskan aku melepas kuku kalian satu-persatu baru kalian akan bicara hah?!!" Teriak Raya dengan suara yang lantang dan tangannya kirinya memegang tang itu dan matanya menatap tajam satu persatu orang yang ada di depannya itu.


Harga diri meraka pasti akan jatuh jika sampai orang lain tahu mereka berlima dikalahkan oleh satu orang, itupun dengan tangan kosong.


"Baiklah, ini adalah pilihan kalian sendiri!" Raya kini mulai mendekati pimpinan dari orang-orang itu. Belum sampai Raya mencabut kukunya, pria itu mulai angkat bicara.


"Tidak nona, baik.. baik saya akan mengatakan apa yang sebenarnya." Pria itu akhirnya mau bicara terus terang, ia lebih memilih berkata apa adanya daripada harus kehilangan kukunya satu per satu.

__ADS_1


"Pilihan yang bagus." Ucap Raya dengan tersenyum sinis.


"Sebenarnya, kami telah dikalahkan oleh seorang lelaki yang datang tidak lama setelah nona memerintahkan kami untuk melakukan penculikan pada gadis itu." Ucap pimpinan preman itu kepada Raya. Raya yang mendengar nya pun cukup terkejut dengan pengakuan anak buahnya itu.


"Seorang lelaki?" Beo Raya, ia masih tidak percaya jika anak buahnya yang sudah ia latih itu kalah hanya oleh seorang lelaki.


"Benar nona, laki-laki itu sepertinya masih berusia sekitar 25-30 tahun. Namun, kami tidak dapat mengingat wajah orang itu dengan jelas karena ia menggunakan topi dan juga jaket. Tetapi kami ingat dengan benar, sebelum dia pergi ia mengancam kami supaya tidak lagi mendekati Alifiya." Terang orang yang berdiri di depan Raya itu dengan jelas. Ia masih mengingat dengan baik apa yang dikatakan Pak Ardi, bagaimana tidak? Dialah orang pertama yang mendapatkan pukulan darinya hingga menabrak tembok yang jauh di belakang nya.


"Apa kamu bilang?" Tanya Raya dengan terkejut, ia heran mengapa ada orang yang bisa mengetahui rencananya. Padahal ia tidak memberi tahu siapapun bahwa ia telah merencanakan untuk menculik Fiya.


"Ini tidak bisa dibiarkan! Aku tidak akan membiarkan siapa pun untuk menghalangi rencana ku, sehebat apapun orang itu. Pasti ia tidak akan bisa menahan serangan peluru bukan?" Raya tidak terima jika ada orang lain yang ikut campur dalam urusannya, apalagi orang ini telah berani untuk menggagalkan rencananya menculik Fiya.


"Kamu tunggu saja, cepat atau lambat aku pasti akan menemukanmu!" Setelah mengucapkan itu, Raya segera pergi dari sana. Ia berencana untuk segera menemukan orang itu dan segera membuat perhitungan dengannya.


Raya berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan segera menemukan orang yang sudah berani merusak rencananya. Ia masih tidak menyangka jika Fiya mempunyai seseorang yang mendukung nya dari belakang, jadi Raya tidak sabar untuk menghabisi orang itu sehingga tidak akan ada lagi gangguan baginya untuk mencelakai Fiya.


~ Ohh tidak semudah itu ya melukai Pemeran Utama πŸ˜‰


☘️ Begitulah teman-teman, sebuah Cinta yang sejati dapat merubah orang buruk menjadi sangat baik, dan sebuah Obsesi yang berlebihan bisa membuat orang menjadi sejahat Iblis.

__ADS_1


Jadi, kita harus bisa membedakan mana itu Cinta yang sesungguhnya dan mana yang merupakan Obsesi belaka.


Karena jika sampai salah menduga Obsesi sebagai Cinta, hal tersebut bisa berdampak buruk bagi orang itu, maupun orang disekitarnya. πŸ‚


__ADS_2