
Kring.. kring...
Bel masuk berbunyi nyaring, pertanda kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai. Fiya bergegas masuk ke kelasnya. Ia pun juga menyiapkan surat dispen yang telah ditandatangani oleh Kepala Sekolah. Tak lama setelah Fiya duduk dan merapikan mejanya, Ada seorang guru yang datang.
"Lohh, bukannya sekarang jamnya Pak Eko?" Gumam Rias, gadis yang duduk di meja paling belakang. "Kenapa beliau yang masuk ke kelas kita?" Celetuk siswa lainnya lagi.
"Selamat siang semuanya.." sapa guru yang baru masuk ke kelas tersebut.
"Siang Pak.." jawab murid kelas itu bersamaan. "Maaf Pak, bukannya sekarang jamnya Pak Eko?" Tanya Rizki mewakili isi hati teman-temannya.
"Iya, tapi Pak Eko sekarang sedang pergi loka karya di SMA Lima Sila. Jadi,, selama beberapa hari ke depan, Saya yang akan menggantikan Beliau mengajar Bahasa Jawa." Jawab Guru Pengganti tersebut, yang tak lain dan tak bukan ialah Pak Ardiansyah. Guru sejarah kelas 11 yang kini merangkap jadi guru Bahasa Jawa kelas 10 MIPA 3 itu.
"Baik Pak, mohon bimbingan.." Rizki kembali menjawab dengan sopan mewakili teman-teman kelasnya, karena ia bertugas sebagai pemimpin di kelas tersebut.
Lima belas menit berlangsung. Fiya akhirnya beranjak dari duduknya dan menyerahkan surat dispen yang selama ini ia simpan rapi-rapi dalam meja lacinya.
"Permisi Pak Ardi, saya ingin meminta ijin untuk meninggalkan jam pelajaran kali ini dikarenakan mengikuti ujian 'praktik' Liga Champions yang akan dilaksanakan sebentar lagi."
Fiya meminta ijin dengan sopan kepada gurunya itu. Pak Ardi menerima surat dispen tersebut. Lalu, ia beranjak dari tempat duduknya kemudian berkata.
__ADS_1
"Ayo Fi aku akan mengantarmu ke sana,"
jawab Pak Ardi dengan santai.
Fiya terkejut dengan yang dikatakan gurunya ini. Untung saja Pak Ardi bicara dengan nada yang pelan, jadi teman-temannya tidak sempat untuk mendengarkan. Mereka semua sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh Pak Ardi berupa menulis aksara Jawa yang mengisahkan Perang Bharatayudha
So, kita pasti tahu jika mereka tak sempat mendengarkan, karena tugas yang diberikan Pak Ardi bukanlah tugas yang akan selesai dalam waktu satu jam.
"Bapak sedang bercanda?" Tanya Fiya keheranan saat mendengar perkataan guru barunya ini.
"Tidak, aku selalu serius dengan yang aku katakan." Pak Ardian tidak berbasa-basi lagi, lalu menarik tangan muridnya istimewa nya ini. "Tunggu Pak, bapak mau kemana?" Tanya Fiya dengan ekspresi panik seperti baru saja kemalingan sesuatu. "Tentu saja mengantarmu." Jawab Pak Ardi dengan enteng lalu menarik lagi tangan Fiya menuju pintu keluar dari kelas itu.
.
.
.
"Lepas Pak,, aku tidak ingin ada orang lain yang berpikir macam-macam."
__ADS_1
Fiya menarik tangannya dari genggaman gurunya itu.
"Baik, aku akan melepaskan mu. Karena dia sudah tidak mengejar mu lagi."
Ucap Pak Ardi dengan nada yang terdengar seperti ada sesosok yang mengejar mereka berdua.
"Apa maksud bapak?" Fiya nampak bingung dengan masud Pak Ardiansyah ini.
"Aku tak bisa menjelaskannya sekarang, yang penting kamu sudah bisa mengikuti lombamu sekarang. Tapi kamu harus ingat, setelah kamu selesai, kamu harus segera pergi ke perpustakaan."
Belum sempat Fiya menjawab, Pak Ardi sudah menitahkan perintahnya lagi.
"Kamu tidak perlu memikirkannya sekarang, yang penting ikuti saja lombamu dengan tenang. Kemudian kita akan bermain petak umpet sebentar." Jelas Pak Ardi dengan wajah serius, dan matanya mengedar untuk mengawasi keadaan di sekelilingnya.
"Baik pak, aku akan pergi sekarang." Fiya pun menyetujui perkataan gurunya itu. Dan segera bergegas untuk menuju lokasi dimana perlombaan akan digelar.
"Tunggu..." Pak Ardi sedikit berteriak dan Fiya spontan menghentikan langkahnya.
"Iya pak, apa ada sesuatu yang harus saya lakukan?" Tanya Fiya dengan sopan sekaligus heran kenapa gurunya ini tiba-tiba menghentikan langkahnya.
__ADS_1
Dalam hati Fiya, ia masih heran dengan tingkah gurunya tadi. Tapi ia tak menghiraukan nya karena tugas utama dia sekarang adalah fokus dengan lomba yang akan dijalaninya sore itu. Karena lomba yang akan Fiya ikuti ialah lomba setingkat Nasional yang tentu membawa nama baik sekolahnya. Jadi, Fiya harus berusaha sebaik mungkin untuk mengharumkan nama sekolah tercintanya itu.