
Rizki dan Fiya sudah mempunyai ikatan batin yang kuat. Jadi, hanya dengan isyarat mata mereka sudah bisa berkomunikasi tanpa harus menggunakan suara.
Rizki menganggukkan kepalanya pelan, ia mengerti jika Fiya tak ingin membuat orang-orang lain terutama Wali Kelasnya ini khawatir. Fiya adalah tipe orang yang lebih suka memendam kesedihannya sendiri. Ia lebih suka menumpahkan tangis nya di malam yang sunyi. Ia lebih suka mengadukan apa yang ia rasakan kepada Yang Kuasa. Fiya lebih suka menyendiri jika dia sedih.
Namun, bukan menyendiri dalam arti yang negatif. Ia tak ingin mengumbar kesedihannya di media sosial. Fiya akan lebih nyaman jika ia bercerita dengan Sang Pencipta, dengan begitu semua masalah yang ia hadapi pasti akan selesai. Karena jika kita terlalu sering mengumbar kesedihan ataupun masalah kita di publik, bukannya malah selesai. Yang awalnya masalah sepele, akan menjadi besar dan berakhir penyesalan.
Karena berharap pada manusia bukanlah pilihan yang tepat. Mereka mungkin bisa membantu, namun dibalik bantuannya jangan pernah lupakan jika Allah SWT yang telah menggerakkan hatinya. Karena Allah ialah zat yang Maha Membolak-balikkan hati manusia.
.
.
.
Kembali lagi ke cerita tadi, Fiya yang baru siuman pun di berikan teh hangat oleh Bu Widya. Fiya pun meminum teh itu sedikit untuk menghilangkan rasa terkejutnya yang baru ia rasakan beberapa saat yang lalu.
"Apakah kamu sudah merasa lebih baik nak?" Tanya Bu Widya yang sudah melihat wajah Fiya membaik.
"Iya Bu, saya sudah merasa lebih baik. Dan terima kasih sudah merawat saya tadi." Fiya berucap dengan sopan kepada Gurunya itu. Bu Widya pun tersenyum hangat ke arah Fiya.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu berterima kasih, sudah sewajarnya seorang ibu menghawatirkan anaknya." Ucap Bu Widya dengan lembut, membuat hati Fiya menghangat. Selain merasakan kasih sayang seorang ibu di rumah. Di sekolah ia juga merasakan perhatian yang tulus dari gurunya itu.
"Tapi, sekali lagi saya ingin berterima kasih dan juga maaf telah membuat Bu Widya khawatir." Fiya berucap lembut pada gurunya. Selain merasa bersyukur karena memiliki Guru sebaik Bu Widya, Fiya juga merasa bersalah karena telah membuat guru nya itu khawatir.
Bu Widya pun membalas senyuman Fiya dengan hangat. Ia pun berucap pada Fiya. "Baiklah, kamu bisa istirahat di sini dulu, setelah baikan kamu bisa kembali ke kalas. Tapi juga tidak apa-apa jika kamu Istirahat di rumah." Bu Widya masih merasa khawatir dengan Fiya, beliau tidak keberatan jika Fiya istirahat di rumah untuk memulihkan keadaannya. Namun, Fiya juga tak ingin pulang ke rumah jam segini. Ia tak ingin membuat ibunya khawatir jika sampai mengetahui jika anak gadis satu-satunya itu pingsan.
Jadi, Fiya memutuskan untuk kembali ke kelas dan beristirahat di sana. Sementara Rizki tentu saja yang mengantarkan Fiya kembali ke kelas. Selain kelas mereka sama, Rizki juga masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan sahabatnya itu.
.
.
.
Apabila Fiya sampai pingsan, berarti kejadian yang baru saja dialaminya bukanlah kejadian yang biasa. Karena setahunya Fiya itu hanya akan takut dengan dua hal. Yang pertama adalah sesuatu yang muncul di kegelapan, dan satunya lagi ialah darah orang lain.
Kemungkinan yang paling potensial ialah darah. Jika gelap itu kecil sekali kemungkinan nya karena hari itu masih pukul sepuluh lebih saat Fiya pingsan, jadi yang menjadi kemungkinan terbesar Fiya pingsan adalah melihat darah orang lain'.
Begitulah kira-kira yang sekarang ada di pikiran Rizki Pradana. Ia sudah seperti seorang detektif yang mencari sebuah kesimpulan dari kasus yang sedang ia tangani.
__ADS_1
*
*
Akhirnya mereka berdua sampai di kelasnya. Dalam perjalannya mereka hanya berbincang ringan sekedar untuk menghilangkan rasa 'terkejut' yang sampai membuat Fiya pingsan.
"Terima kasih Ki, kamu sudah mengantarku sampai kelas." Fiya berucap pada Kiki dengan senyuman yang paling manis.
"Heii apa yang kau bicarakan, kita kan sudah bersahabat lebih dari sepuluh tahun. Jadi untuk apa berterima kasih. Ingat ini.. Dalam persahabatan tidak ada maaf dan terima kasih." Kiki berucap dengan tangan kanannya membentuk huruf V dan diangkat sampai sejajar dengan bahunya.
Fiya yang melihat tingkah sahabat karibnya itu pun tersenyum bahagia. Ia sungguh beruntung mendapatkan Rizki sebagai sahabat yang mengerti dirinya.
"Baikk, akan ku ucap pesan mu itu." Fiya balas tersenyum dan mengangkat jari kelingking kanannya. Tanda jika ia berjanji untuk menepati apa yang dikatakan Rizki.
Namun,, sedari tadi ada sepasang mata yang mengawasi interaksi antara Rizki dan Alifiya dari belakang. Orang itu ternyata adalah salah satu siswa penghuni kelas tersebut. Ia menatap Fiya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Namun, dari tatapan orang itu jelas mengisyaratkan ada sebuah ketidaksukaan terhadap Fiya. Siapakah sebenarnya sosok yang mengawasi Rizki dan Fiya ini??
Author jawab di bab selanjutnya saja yaa hehe😆
__ADS_1