
Kiki terkejut, ia menjadi merasa bersalah terhadap Fiya. Ia tahu benar jika sahabatnya ini sangat merindukan sosok Ayah. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Rizki sudah melihat bagaimana kesepiannya Fiya saat itu. Disaat anak-anak lain bisa bergembira bersama ayahnya, ia harus merasakan pahitnya tidak memiliki sosok seorang ayah.
"Maafkan aku Ay, harusnya aku tidak bertanya padamu soal itu..." Rizki menyesal karena ia telah membuka luka lama di hati Fiya.
"Sudahlah Ki, kamu tidak salah,, seharusnya aku sudah merelakannya. Namun aku akan terus berdoa, supa aku dapat bertemu lagi dengan ayahku. Walau,, hanya dalam mimpi.. aku pasti akan sangat bahagia"
Fiya berucap dengan mata yang terlihat mengembun, namun ia tetap berusaha tersenyum. Rizki tak bisa berkata-kata lagi, ia tak tahan melihat Fiya bersedih seperti ini.
Ia dengan reflek memegang tangan kiri Fiya, ia menggenggam erat tangan mungil namun terasa dingin itu.
"Aku tidak bisa melihatmu bersedih seperti ini. Kumohon tersenyumlah.."
Kiki berucap selembut mungkin, dan tangan kanannya terulur untuk menyentuh pipi Fiya yang basah karena air matanya luruh tanpa diminta. Fiya tak kuasa lagi untuk menahan air mata, air mata itu mengalir layaknya mutiara yang indah di pipi gadis manis itu. Namun, jelas tersirat kesedihan dan rasa rindu yang mendalam dari wajah Alifiya.
"Berhenti!" Tiba-tiba dari depan kelas terdengar suara bariton yang tidak asing lagi bagi penghuni kelas 21 MIPA 3 tersebut.
" Pak Ardiansyah...kenapa dia ada di sini? "
Kiki terkejut dan mengurungkan niatnya untuk membelai pipi Fiya. Dia menjadi salah tingkah sendiri dan merubah posisi duduknya menghadap ke depan lagi.
"Pagi Pak.. kenapa bapak ada di sini? Apakah ada sesuatu yang bapak perlukan?" Kiki berucap dengan sopan kepada Pak Ardiansyah. Sebagai ketua kelas di sana, ia berkewajiban untuk memberi contoh yang baik bagi seluruh anggotanya.
"Tidak ada yang istimewa. Aku hanya ingin memanggil Fiya. Sebentar lagi suruh dia ke laboratorium biologi untuk mengambil peralatan yang akan digunakan nanti." Guru tersebut berucap dengan nada yang datar dan ekspresi yang sulit diartikan.
Merasa namanya tersebut. Ia lantas berdiri dan berjalan maju ke depan.
__ADS_1
"Baik pak, saya akan segera pergi ke sana untuk mengambilnya." Fiya segera berlalu dari kelasnya dan menuju Laboratorium biologi di sekolah ternama itu.
Sedangkan Pak Ardiansyah malah ketinggalan di kelas.
..."Gadis itu benar-benar.. Aku yang memanggilnya untuk ke sini, malah aku yang ditinggal "...
~Yang sabar ya pak🤭 Yang penting hatinya gak ketinggalan di tempat yang salah.. 💐
"Baik, kalau begitu aku akan segera pergi dari sini. Terimakasih" Ucap Pak Ardiansyah setelah ia melihat gadis kecilnya pergi mendahului.
Kemudian, Pak Ardi segera mengikuti Fiya dari belakang, namun ia berjalan dengan langkah yang terlihat berwibawa. Cepetan pak, nanti keburu diambil orang.
"Baik pak, sama-sama" Jawab Rizki dengan sopan. " Kenapa dia harus datang di saat yang tidak tepat sih.."
Gerutu Kiki dalam hatinya. Ia merasa tidak terima jika kesempatannya diambil oleh gurunya itu.
.
.
"Kamu tidak akan ku perbolehkan menyentuh calon istriku! " Gumam pak Ardi setelah ia keluar dari ruang kelas tersebut.
~Loh-loh.. sejak kapan Alifiya jadi calon istrimu pak? Kan author nya aja belum kasih ijin😝
...***...
__ADS_1
Dalam ruang laboratorium biologi, Fiya nampak dengan cekatan mengambil peralatan yang akan ia gunakan nanti siang. Secara sembunyi-sembunyi Pak Ardi mengamati semua gerak gerik Fiya yang nampak lebih cantik saat terlihat serius.
"Sudah selesai?" Tanya pak Ardi pada Alifiya.
"Sudah Pak, semua peralatan untuk lomba nanti sudah saya persiapkan. Oh iya pak, saya ingin bertanya, kenapa bapak yang memanggilnya saya. Bukankah pembina saya adalah Bu Crystal?" Tanya Fiya pada salah satu gurunya yang selalu memberi perhatian istimewa padanya itu.
Ia merasa aneh saja, kenapa pak Ardi yang memanggilnya, padahal dia kan guru sejarah kelas 11. Dan setahunya, beliau ini tidak merangkap jadi guru biologi. Dan yang ditanya pun nampak kebingungan untuk menjawab.
"Itu,, karena Bu Crystal sedang ada urusan mendadak. Jadi.. dia menyerahkan tugas ini padaku. Apakah kamu merasa keberatan?" Tanya balik Pak Ardi kepada Fiya yang sukses membuat gadis tersebut terlihat panik untuk menjawabnya.
"Te.. tentu tidak pak, saya tidak keberatan." Gadis tersebut nampak terkejut dengan pertanyaan gurunya itu, ia takut jika Pak Ardi akan marah dengan pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.
"Baiklah, bagus kalau begitu." Jawab Pak Ardi dengan senyuman yang begitu manis.
Deg
" Kenapa.. kenapa jantungku berdetak kencang,, apakah.. apakah aku terserang penyakit jantung ?"
Fiya terpesona dengan senyuman dari gurunya itu. Meskipun ia belum pernah diajar pak Ardian karena ia masih duduk di kelas 10. Tapi ia tahu benar jika orang di hadapannya ini terkenal dingin kepada semua orang, terutama pada wanita.
Pak Ardiansyah terkenal sebagai guru yang populer di kalangan banyak gadis. Bukan hanya karena ia masih tergolong muda, di usianya yang masih 25 tahun itu. Ia terkenal sebagai guru yang cerdas, dan disiplin dalam mengajar murid-muridnya.
Tapi, entah kenapa hari ini Pak Ardiansyah terlihat berbeda. Ia terlihat seperti sosok yang begitu penyayang dan hangat.
Hai haiii para readers yang berbahagiaaa... Pada penasaran gak sih sama Pak Ardi ini?? Aku kasih bonus visualnya deh ya biar gak penasaran lagii🤭
__ADS_1
Tambah Penasaran gak nih..?? Kira-kira siapa ya dia??? Sayangnya hanya Author saja yang tahu😆