
Fiya saat ini sedang duduk di tepi danau dengan air yang terlihat jernih dan ada beberapa bunga teratai yang bermekaran di atas danau tersebut. Ia mulai mendudukkan diri di mulut danau, dan tangannya terulur untuk mengambil salah satu tangkai Bunga Teratai yang berwarna biru tersebut.
"Indah sekali bunga ini, tapi kenapa aku belum pernah melihatnya ya..?"
Gumam Fiya ketika melihat bunga itu sudah ada di genggamannya tangannya. Ia menangkup kelopak teratai itu dengan kedua tangannya. Dan ia pun merasa takjub dengan bunga yang memiliki berwarna indah itu. Kelopaknya laksana kristal es yang mengeluarkan cahaya biru, dan tangkainya berwarna hijau tua yang terasa lembut saat ia memegangnya.
Bunga itu mengeluarkan bau yang harum, semerbak bagai bunga kasturi. Fiya memutar tangkai teratai itu dengan tangan kanannya sehingga menimbulkan gerakan seperti Cakra yang sedang berputar.
"Indah sekali.. Apakah aku bisa menanamnya di kolam rumahku?" Fiya tak hentinya menunjukkan rasa kagum pada bunga Teratai Biru itu.
Saat ia sedang asyik menikmati keindahan bunga berwarna biru itu, air di depan Fiya nampak menunjukkan gelombang yang aneh. Seperti ada sesuatu yang akan mendekat ke arah gadis itu.
Fiya yang masih mengagumi bunga teratai yang ada di genggamannya masih belum sadar dengan pergerakan dari dalam air yang semakin kuat dan menuju ke padanya.
Fiya yang kembali melihat ke danau pun terkejut. Ia sontak memundurkan diri ke belakang untuk menjauh dari pinggir sana. Tapi, pergerakan Fiya terhambat ketika ia menabrak sebuah batu yang berukuran cukup besar. Akhirnya Fiya terjatuh ke belakang karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya.
__ADS_1
Dan, sesuatu yang mendekati Fiya pun semakin dekat. Fiya sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi. Ia sudah tak bisa lari dari sana karena ia terjatuh karena kakinya tidak sengaja' menabrak batu di belakang.
Dan, sosok di dalam air danau itu pun keluar. Muncullah sebuah ikan emas yang berukuran cukup besar. Ikan emas itu memiliki panjang sekitar lima puluh senti meter. Dan ia memiliki manik mata berwarna biru, se-biru bunga teratai di sana. Ikan itu melompat ke atas dan memercikkan air ke tubuh Fiya. Membuat gadis itu tersenyum manis dan tangannya terulur untuk
menggapainya.
...****...
Di ruang perpustakaan tersebut, Rizki menyadari pergerakan dari jari kanan Fiya, kemudian ia segera memberitahukan itu kepada Bu Widya.
"Bu Widya, lihat tangan kanan Fiya bergerak. Seperti ia akan segera siuman." Kiki nampak tersenyum karena mengetahui jika sahabatnya ini akan segera siuman.Tak lama setelah itu Fiya membuka matanya, dan tangan kanan tadi terangkat seperti akan menggapai sesuatu.
"Nak.. akhirnya kamu sadar juga." Bu Widya sangat senang melihat putrinya itu kembali siuman setelah hampir dua puluh menit tak sadarkan diri.
Dan, si pelaku yang membuat para orang yang menyayanginya ini khawatir, mulai mendudukkan diri karena terkejut. Ia terkejut karena tadi baru saja ia akan menyentuh ikan emas itu, namun kini ia sudah berada di perpustakaan. Namun, Fiya segera mengerti jika yang dialaminya tadi adalah mimpi di bawah alam sadarnya.
Melihat Fiya yang duduk dengan ekspresi terkejut, membuat Bu Widya dan Kiki saling pandang sebentar, kemudian Kiki bertanya kepada Fiya kenapa ia bisa sampai pingsan.
__ADS_1
"Ay, kamu tadi kenapa kok sampai bisa pingsan? Apakah ada yang berniat melukaimu?" Kiki bertanya kepada Fiya dengan nada yang terdengar seperti seorang kakak yang menghawatirkan keadaan adiknya.
"Aku.. aku tadi.." Belum sempat ia menjawab tiba-tiba ada sosok yang menghentikan perkataan Fiya. Dan sosok itu adalah Pak Ardi.
"Kamu tadi melihat ular yang mendekat ke arahmu, jadi kamu jatuh pingsan."
Pak Ardi segera memotong perkataan Fiya, ia tak ingin ada orang lain yang mengetahui kebenarannya.
Dan,, Fiya pun segera mengerti maksud tersirat dari gurunya ini. "Be..benar,, aku tadi melihat ular putih yang mendekat ke arahku, jadi aku jatuh pingsan." Jelas Fiya kepada orang-orang di sampingnya ini.
"Kamu, tidak berbohong kan Ay?" Kiki yang sudah lama mengenal Fiya pasti tahu jika sahabatnya ini sedang berbohong.
"Aku.. berkata yang sebenarnya." Fiya menjawab pertanyaan Kiki, namun sorot matanya tidak bisa bohong, ia mengisyaratkan kepada Kiki untuk menyetujui perkataannya.
Dan, Kiki hanya diam dan tersenyum tipis, bahkan sangat tipis. Ia dan Fiya sudah mempunyai ikatan batin yang kuat. Jadi, hanya dengan isyarat mata mereka sudah bisa berkomunikasi tanpa harus menggunakan suara.
So sweet nggk sih🤧
__ADS_1
# Maaf ya author kemarin hanya bisa up satu bab dikarenakan terjadi kejadian di luar kendali Author sebagai manusia biasa🙏🙂