
"Iya ya benar juga, ngapain repot-repot diperjuangan kalau ujung-ujungnya malah milik orang lain." Balas Vio dengan senyuman kecil, karena benar juga apa yang telah dikatakan oleh Fiya. Jika urusan jodoh itu adalah rahasia, jadi kita tidak bisa menebak-nebak sampai rahasia itu terungkap dengan sendirinya.
Bel tanda masuk telah berbunyi, menandakan jika jam istirahat yang singkat itu telah usai. Alifiya dan Vio segera kembali ke kelas mereka masing-masing untuk melanjutkan kegiatan belajar mereka pada hari itu.
*
*
*
Kegiatan pembelajaran pada hari itu telah usai, kini para siswa-siswi SMP Merdeka Mandiri itu telah diperbolehkan untuk pulang. Vio dan Alifiya selalu menyempatkan untuk pulang bersama, tidak terkecuali dengan Rizki dan juga April. Mereka berempat sering menyempatkan untuk pulang bersama. Vio berada di kelas yang berbeda dengan mereka bertiga jadi, mereka akan menunggu di suatu tempat dulu untuk berkumpul.
Mereka berempat biasa berkumpul di depan air mancur yang terletak di taman kecil di depan ruang kepala kepala sekolah di SMP tersebut. Hari ini Vio sedikit datang terlambat dikarenakan masih ad tugas yang harus ia selesaikan hari itu juga.
"Huft.. maaf ya aku agak terlambat, biasa tuh tugas matematika harus kumpulin hari ini juga." Vio berucap pada ketiga temannya dengan nafas terengah-engah karena sudah berlari kecil untuk sampai ke sana.
"Iya santai saja. Kami juga udah hafal Pak Arif emang gitu kalau ngasih tugas. Jelasin sat-set, baru paham baris pertama udah lanjut bab berikutnya." Jawab Rizki diselingi dengan tawa kecil mengingat salah satu guru matematika nya yang sangat istimewa itu.
"Haha iya benar, pak Arif kalau jelasin kayak naik kereta Express." Kini ganti Fiya yang menimpali.
"Oke nih udah lengkap, cus kita les't go back to home..!" April yang sedari tadi sudah tidak sabar untuk pulang segera berjalan menuju gerbang seraya mengangkat tangan kanannya ke atas. Ia seperti akan melakukan demo untuk meminta penurunan harga minyak goreng saja. 😂
"Ehh tunggu dulu, nih anak kalau masalah pulang pasti nomer satu deh," ledek Vio yang kini berjalan beriringan dengan sahabat-sahabatnya itu.
Empat serangkai, itulah sebutan yang tepat untuk mereka. Persahabatan mereka sudah dijalani ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama. Berbeda dengan lainnya yang sudah bertemu sejak sekolah dasar. April baru bertemu dengan mereka ketika duduk di kelas 7 SMP.
Dalam perjalan pulang mereka diiringi dengan canda tawa dan juga senyuman riang yang terukir di wajah mereka masing-masih. Namun sayang, persahabatan itu tidak berlangsung lama. Karena sebuah tragedi yang tidak pernah disangka, persahabatan mereka harus hancur menjadi serpihan kaca yang melukai mereka.
__ADS_1
Serpihan kaca yang menyakitkan, sebuah persahabatan yang dibangun sejak lama harus kandas di tengah jalan karena kehadiran seseorang yang menjadi sumber kesalahpahaman tersebut.
...***...
Pagi yang cerah menyapa dunia yang beru bangun dari tidurnya di malam yang gelap. Alifiya bersiap untuk berangkat sekolah, ia mengenakan seragamnya dan bersiap untuk berangkat menuntut ilmu.
Saat ia akan memasukkan handphone nya ke dalam tas, hp itu berbunyi dan berdering panjang menandakan ada panggilan yang masuk ke sana.
Fiya segera melihat nama tertera di layar handphone nya itu. Ia terkejut ketika melihat nama yang ada di sana. Ternyata itu adalah panggilan dari salah seorang temannya.
"Halo Di, ada apa?" Fiya mengangkat panggilan itu sambil meneruskan kegiatan rutinnya di pagi hari.
"Tidak ada, aku hanya ingin mendengar suaramu pagi ini, " Jawab seorang di seberang telepon sana dengan nada lembut, sama seperti seorang kekasih yang menanyakan kabar kekasihnya.
Fiya terdiam besar, ia meremas ujung kerudungnya yang baru saja ia kenakan. Dia bingung harus menjawab apa. Kemudian terdengar lagi suara dari seberang telepon itu.
"Kenapa kamu diam? Apakah kmu tidak merindukan aku?" Suara lelaki di seberang sana kembali terdengar, kali ini Fiya membuka suara untuk menjawabnya.
"Kenapa salah paham? Tidak ada yang salah dengan aku mencintaimu bukan, dan ya sepertinya aku juga merasakan perasaan yang sama dari kamu." Suara itu terdengar cukup tegas, sepertinya orang di ujung telepon sana memiliki sifat yang tidak ingin dibantah oleh orang lain.
"Cukup! Aku tidak pernah menyukaimu, dan jangan pernah mendekati aku lagi. Ingat itu." Kini ganti Fiya yang berucap dengan tegas, lalu ia segera mematikan panggilan telepon itu secara sepihak tanpa mendengar jawaban dari pria di seberang telepon sana.
Fiya sudah siap berangkat sekolah, ia menuntun sepeda berwarna merah jambu kesayangannya itu menuju jalan di depan rumahnya. Hari ini dia memutuskan untuk berangkat sendiri karena situasi hatinya sedang tidak baik-baik saja dikarenakan panggilan yang baru saja ia terima itu.
.
.
__ADS_1
.
Setelah perjalanan selama 15 menit, Fiya sudah sampai di depan gerbang sekolahnya itu. Ia turun dengan hati-hati dari sepedanya. Kemudian, ia menuntun sepedanya dengan perlahan menuju tempat parkir yang disediakan di sebelah timur di sekolah tersebut.
"Sayang tunggu, kenapa kamu menutup panggilan ku secara sepihak?" Suara itu mengejutkan Fiya, ia segera menoleh dan mendapati seorang yang kini sudah berdiri di sampingnya.
"Sayang?!" Beo Fiya, ia merasa tidak terima dipanggil dengan sebutan itu oleh lelaki di sampingnya.
"Iya tentu saja, kerena kita adalah sepasang kekasih bukan?" Lelaki itu kembali berucap dan menunjukkan senyumannya yang menyebalkan di mata Fiya.
Fiya diam saja, ia terus melanjutkan perjalanan ke tempat parkir tanpa mempedulikan orang di sampingnya yang terus mengikutinya. Lelaki itu mengikuti Fiya seperti seorang anak itik yang mengekor di belakang induknya.
Tanpa Fiya sadari, ternyata ada sepasang mata yang menyaksikan interaksi antara dia dan orang itu. Sosok yang mengawasi itu mengepalkan tangannya dengan erat. Nampak jelas di wajahnya jika dia sedang dipenuhi dengan emosi, wajahnya terlihat menunjukkan kemarahan yang mendalam.
...***...
Fiya kini duduk di bangkunya, dan lelaki tadi sudah tidak mengikutinya lagi dikarenakan kelas dia dan Fiya berbeda. Selain itu ia adalah kakak kelas Fiya, jadi ia tidak mengikuti Fiya sampai ke dalam kelas. Namun, lelaki itu masih setia menunggu Fiya di tempat duduk yang terletak di sepanjang koridor sekolah tersebut.
Fiya menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia tidak habis pikir dengan lelaki yang terus-terusan mengejarnya itu.
"Ada apa Ay? Pagi-pagi sudah cemberut aja," Tanya Rizki yang baru datang dan melihat sahabatnya itu terlihat tidak baik-baik saja.
Jika digambarkan seperti ada sebuah mendung hitam yang berada di atas kepala Fiya yang membuat gadis itu terlihat kesal. Fiya menoleh ke arah Rizki, dan ia menceritakan apa yang baru saja ia alami tadi.
Rizki mendengarkannya dengan seksama. Setelah Fiya selesai bercerita, ia kemudian membuka suara untuk menanggapi hal yang baru saja Fiya ceritakan.
"Apakah Dia mengetahui tentang hal ini?" Tanya Rizki, dan Fiya menggeleng pelan sebagai jawaban.
__ADS_1
"Syukurlah, aku tidak bisa membayangkan jika dia sampai tahu hal ini. Kau tahu benar bukan bagaimana watak dia, sebaiknya kamu tidak bilang ini padanya dulu Ay," Rizki berucap sekaligus menasehati Fiya.
"Iya kamu benar Ki, sebaiknya aku tidak memberitahunya dulu tentang hal ini." Fiya menyetujui saran yang telah diberikan oleh Rizki tersebut.