
Malam semakin sunyi, pertanda jika pergantian hari akan segera di mulai. Namun, mata Fiya masih enggan terpejam. Gadis itu masih asik untuk membaca buku diary nya, tepatnya diary yang ia tulis beberapa tahun yang lalu.
Alifiya masih saja penasaran dengan kotak itu, ia merasa jika ibunya tahu sesuatu namun sengaja disembunyikan darinya. Kemudian, terlintas di benaknya jika Rizki bilang waktu itu akan membantunya. Mungkin saja Rizki sudah menemukan beberapa petunjuk tantang hal itu.
Ia mengambil Handphone yang ia letakkan tak jauh darinya, segera ia membuka daftar kontak dan mencari nomor Rizki, mula-mula Fiya enggan untuk mengirim pesan dikarenakan malam sudah larut. Namun, ketika ia melihat waktu terakhir dilihat dibawah nama Rizki di Handphone nya senyuman mengembang di bibir gadis itu.
Ternyata Rizki baru saja online jadi kemungkinan anak itu belum tidur. Begitulah kira-kira yang terlintas di pikiran Fiya.
"Hai Ki, maaf ganggu malem-malem, tapi aku mau tanya apakah kamu sudah menemukan petunjuk tentang kotak yang aku ceritakan itu?"
Kemudian Fiya menekan tombol yang berbentuk seperti pesawat kertas untuk mengirim pesan singkat tersebut. Tak butuh waktu lama, Rizki langsung membalas pesan tersebut.
"Iya Ay, aku sudah menemukan sesuatu. Tapi aku masih belum bisa menarik kesimpulan. Apa mungkin itu ada hubungannya seseorang ingin mencelakai mu dulu itu Ay?"
Rizki menanyakan sebuah pertanyaan yang membuat Fiya sedikit mengingat kejadian tiga tahun yang lalu. Dalam ingatannya tiga tahun yang lalu ia pernah mendapatkan surat ancaman dari seseorang yang hingga kini belum terungkap identitasnya.
Dalam surat itu terdapat tulisan yang ditulis dengan darah asli, awalnya Fiya mengira itu hanya sebuah lelucon ataupun ada orang yang iseng yang mengerjainya. Akan tetapi, itu bukan sekedar candaan belaka. Ternyata memang benar ada seseorang yang ingin melukai dirinya.
Beruntung waktu Fiya dapat lolos dari masalah tersebut, namun beberapa hari yang lalu saat ada darah misterius yang menetas di atas mejanya membuat Fiya langsung teringat akan surat ancaman waktu ia baru berusia 14 tahun.
Maka dari itu ia segera pergi dari ruang kelasnya dan berlari menuju koridor sekolah, dan benar saja memang ada sesosok yang mencoba melukainya. Beruntung saat itu Ardiansyah menolongnya itu bisa lolos dari sosok mengerikan yang mengincar dirinya.
Dering panjang terdengar dari Handphone Fiya menandakan jika ada panggilan masuk, dan saat ia melihatnya ternyata peneleponnya adalah Rizki. Fiya pun segera mengangkat panggilan dari Rizki.
"Halo Ay.. bagaimana, apa kamu sudah mengingat kejadian itu?" Tanya Rizki dari seberang telepon sana.
"Iya aku sudah mengingat kejadian itu, tapi apa hubungannya itu dengan kotak yang aku tulis di buku diary ku?" Tanya Fiya yang masih kurang mengerti dengan maksud pembicaraan Rizki.
"Coba kamu lihat tanggal berapa kamu menulis tentang kotak itu?" Rizki kembali bertanya pada Fiya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar." Fiya segera membuka buku diary nya dan melihat kapan ia menulis tantang kotak misterius itu.
"Itu, aku menulisnya tanggal 17 Maret." Fiya terdiam sejenak, kemudian ia melihat halaman selanjutnya dari bukunya itu.
"Oh ya ampun Ki! Ternyata aku mendapat surat ancaman itu seminggu setelahnya." Ia sedikit kaget dengan apa yang ia lihat, mungkinkah kotak itu ada hubungannya dengan surat ancaman yang Fiya terima?
"Kalau begitu, dugaan ku tidak salah. Kemungkinan besar kotak itu ada kaitannya dengan orang yang mencoba mencelakai mu Ay, namun aku punya satu pertanyaan yang mengganjal. Mungkin kah saat ini kamu masih memiliki kotak itu?"
Pertanyaan Rizki berhasil membuat Fiya berpikir keras. Benar apa yang dikatakan oleh Rizki, mungkinkah Fiya masih memiliki kotak itu. Atau kotak itu sudah hilang bersama dengan ingatan Fiya tentang benda itu.
"Aku belum mencoba mencarinya, tapi aku tadi siang bertanya pada ibuku tentang kotak itu. Namun, ibuku tak mau membahasnya dan aku merasa jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh ibuku," Jelas Fiya pada Rizki.
"Apa mungkin aku harus mencarinya di rumahku?" Fiya kembali bertanya pada Rizki. Tidak ada salahnya jika ia mencari dulu kotak itu, siapa tahu kotak itu masih berada padanya.
"Itu ide yang bagus. Kemungkinan ada orang yang dengan sengaja menghapus ingatanmu tentang itu Ay, secara kan bagiamana bisa ingatanmu tentang kotak itu lenyap begitu saja?" Rizki merasa aneh, kenapa ingatan Fiya tentang kotak itu bisa menghilang.
"Aku juga tidak mengerti, namun bagaimana seseorang bisa menghapus ingatan. Dan, itupun hanya sebagian." Fiya juga merasa heran kenapa otaknya sama sekali tidak mengingat tentang kotak itu.
Jawaban Rizki cukup masuk akal, bisa saja ada seseorang menggunakan hipnotis pada Fiya. Misalnya seorang psikiater yang menghapus ingatan pasiennya supaya ia tidak lagi mengalami trauma akan suatu hal.
"Iya Ki, kamu benar. Tapi aku sungguh penasaran dengan kotak itu, entah kenapa ada suatu perasaan yang mendorongku untuk menemukan kotak itu." Fiya menceritakan perasaan yang ia alami pada Rizki.
Alifiya merasa dengan mengingat kembali kotak itu, ia akan dapat menemukan suatu hal yang mungkin saja dapat membantunya untuk mencari tahu dimana keberadaan ayahnya. Sosok ayah yang selama ini selalu dirindukan oleh Fiya.
"Sudah dulu ya Ki, kita akan membahas ini lagi saat bertemu di sekolah. Terima kasih sudah membantuku meringankan pikiran." Fiya berterima kasih pada Rizki, dan ia berniat untuk mengakhiri pembicaraannya karena malam sudah larut.
"Santai saja Ay, aku pasti akan selalu membantumu selagi aku bisa melakukannya. Selamat malam, dan semoga mimpi indah," Jawab Rizki dengan suara yang membuat di seberang telepon sana. Lalu ia mematikan panggilannya dengan Fiya.
Fiya tersenyum, ia kemudian mematikan handphone nya dan mulai merebahkan diri karena ia kini mulai dilanda rasa kantuk. Tak lama Fiya memejamkan matanya dan mulai mengarungi alam mimpi.
__ADS_1
*
*
*
"Ayah.. ayah, kau kah itu?" Tanya Fiya dengan suara sedikit bergetar dan tangannya terulur untuk menggapai sosok laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Sosok itu hanya diam, dia tak menjawab apapun. Akan tetapi, Fiya merasa sangat yakin jika pria di hadapannya itu sangat mirip dengan sosok ayah yang ada di ingatannya.
"Kenapa ayah pergi? Aku sangat merindukanmu.. kumohon cepatlah kembali," Fiya terisak dalam tangisannya. Gadis itu tak dapat lagi membendung air matanya, ia menangis karena rasa rindunya yang teramat dalam kepada ayahnya itu.
Sosok di hadapan Fiya kini tersenyum, tangan kanannya terulur untuk menghapus air mata Fiya yang membasahi wajah cantiknya.
Fiya tersentak kaget, sentuhan itu begitu hangat. Ia merasakan kasih sayang dari sentuhan lembut itu.
"Bersabarlah sebentar lagi nak, ayah pasti akan segera kembali.."
Sosok di hadapan Fiya berucap dengan suara yang lembut dan menenangkan, kemudian tangannya terulur untuk mengelus pucuk kepala Fiya.
.
.
.
Fiya terkejut dan langsung bangun dari tidurnya, ia langsung duduk dan tangannya terulur untuk mengusap pipinya yang masih basah karena air matanya. Mimpi yang baru saja terjadi itu ialah mimpi terindah yang pernah Fiya alami.
"Ayah, benarkah itu? Aku berharap jika ayah akan segera datang untuk kembali bersama aku dan ibu. Kami sangat merindukan ayah," Fiya kembali meneteskan air matanya, ia mengingat kembali mimpi yang baru saja ia alami. Dan berharap jika mimpi itu akan menjadi kenyataan suatu hari nanti.
__ADS_1
Author mau mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada kalian semua yang telah mendukung karya pertama author hingga sejauh ini ππ₯°
Luv-luv buat kalian semuaa ππ