
"Kalau aku memanggilmu jawab Vio!" bentak Adrian saat menarik Vio. Sehingga posisi mereka berhadap-hadapan dan itu sangag dekat sekali. Sampai jantung Vio berdebar karena melihat wajah Adrian yang tampan dari jarak yang hanya 3 cm saja.
Mereka terdiam dalam jarak itu cukup lama, dengan mata yang sama-sama menatap tajam keindahan ciptaan Tuhan di depan mata mereka.
"Maaf tuan." ucap Vio saat tersadar dan langsung mundur dengan cepat dari Adrian.
'Oh Tuhan, kau pasti sudah gila Vio!' ucap Vio saat melihat ke arah bibir tipis Adrian.
"Kalau aku bicara lihat mataku. Aku memanggilmu kau tak menjawabku. Ada apa denganmu?" ucap Adrian. Baru saja dia akan mengecup kembali bibir itu jika Vio tak mendorongnya.
"Maafkan saya tuan." Vio memberanikan diri manatap Adrian. Namun sungguh malu sekali dia karena tadi sempat-sempatnya melihat bibir merah milik Adrian dan berpikir ingin menyentuhnya.
"Sudahlah. Kita makan saja. Aku sudah lapar." Adrian yang juga bingung ingin mengatakan apa akhirnya hanya bisa mengajak Vio untuk makan malam saja.
"Saya ingin pulang saja tuan." ucap Vio yang berusaha menolak ajakan makan Adrian. Dia sudah jelas mengatakan jika tak ingin bekerja dengan Adrian 24 jam. Dan ini jelas sudah lebih dari jam pulang kerja.
"Hanya makan Vio. Apa kau ingin membiarkan aku sakit karena harus menunggumu pulang dulu baru aku makan?" ucap Adrian.
__ADS_1
Jika ingin mengajak Vio makan malam bilang saja. Kenapa pakai alasan segala? Susah sekali memang bicara dengan Adrian ini.
"Anda bisa langsung makan tuan. Saya akan memesan taxi. Saya bisa pulang sendiri." tegas Vio. Dia punya kaki, dia juga punya uang. Kenapa mencari susah hidupnya dengan Adrian?
"Aku yang memintamu untuk ikut denganku ke sini. Jadi aku yang akan mengantarkanmu pulang. Sekarang temani aku makan. Hanya sebentar. Setelah itu kita langsung pulang. Aku sudah sangat lapar." Adrian masih bersikeras agar Vio ikut makan bersama dirinya.
Terserahlah. Terserah. Vio pasrah. Vio memang tak pernah benar di depan Adrian.
Akhirnya Adrian mengajak Vio makan di restoran Eropa. Awalnya Vio menolak untuk ikut makan. Tapi Adrian sudah memaksanya dan langsung memesankan makanan untuknya. Sehingga Vio juga ikut makan.
Selama makan hanya ada keheningan. Mereka sama-sama menikmati makanannya. Meski Vio masih sedikit malu dengan pikiran gilanya tadi.
Selesai makan pun mereka langsung pulang. Dan gilanya Adrian mengajak Vio berputar-putar dulu dengan alasan membeli bahan bakar. Karena lelah menuruti apa kata Adrian, akhirnya Vio tertidur dengan cantiknya di mobil Adrian. Dan itu membuat Adrian kembali tersenyum.
Dia menepi di jalanan menuju apartemen Vio. Dan memandang wajah cantik Vio. Sepertinya ini memang akan menjadi kebiasaan Adrian. Sebelum tidur harus wajib mengecup bibir ranum Vio.
'Kau memang cantik Vio.' ucapnya dengan senyumnya dan langsung menempelkan bibirnya di bibir Vio
__ADS_1
Cup..
Lama Adrian menempelkan bibirnya di sana. Dia juga sudah mulai menjulurkan lidahnya untuk merasakan bibir itu meski tak sampai bertukar saliva dengan Vio.
Namun Adrian segera melepas kecupannya saat ada pergerakan pada tubuh Vio dan dia cepat-cepat menjalankan kembali mobilnya.
Vio mengerjapkan matanya pelan dan membenarkan posisi duduknya. Ternyata sebentar lagi sampai.
"Ehm.. kok basah?" ucap Vio lirih saat merasakan di sekitaran bibirnya basah. Dia mengambil tisue dan mengelap bibirnya itu.
Adrian hanya melirik dan tersenyum samar. Dia juga merutuki dirinya. Kenapa juga lidah itu nakal. Jika dia tak menggunakannya jelas ciuman itu akan lebih lama. Sial!
"Sudah sampai." ucap Adrian saat berhenti di depan lobby apartemen Vio. Vio buru-buru membuka seatbeltnya.
"Terima kasih tuan." ucap Vio dan langsung keluar dari mobilnya.
"Aku menunggu hari esok Vio. Selamat tidur."
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤