
Tanpa terasa pernikahan Vio dan Adrian sudah berjalan 3 bulan. semakin lama view semakin manja dengan Adrian. Bukannya marah Adrian malah suka dengan sifat manja Vio padanya.
"Sayang kau mau berangkat bekerja sekarang? Aku ikut ya?" ucap Vio manja. Ia bergelayut di lengan Adrian yang sibuk memakai kemejanya.
"Boleh, tapi ada satu syaratnya sweety." ucap Adrian tersenyum nakal.
"Apa?" tanya Vio yang sudah memajukan mulutnya. "Sama istri sendiri butuh syarat." keluhnya yang membuat Adrian terkekeh.
"Nanti jika aku memintanya di sana, boleh ya? Sesekali kita melakukan di kantor. Pasti akan ada sensasi berbeda. Bagaimana?" Dengan menggigit bibir bawahnya, Vio mengangguk. Tentu saja hal itu di sambut baik oleh Adrian.
Vio pikir apa. Kalau seperti itu, ya.. Vio siap.
Sejak pernikahannya, kedua pasangan ini tak pernah berpisah jauh. Jauh sebentar, merindu. Pisah sebentar, merindu. Begitu terus yang mereka rasakan.
Tak pernah terdengar ada pertengakaran atau perdebatan dalam beberapa bulan ini. Yang ada rasa cinta keduanya kian membentang luas.
Kalau di tanya hubungan ranjangnya seperti apa? Jangan di tanya lagi. Satu hari harus sampai beronde-ronde. Pagi, pulang kerja dan sebelum tidur. Itu ritual penting yang perlu di patuhi.
Terkadang, ketika Adrian sedang bekerja, ia rela pulang hanya untuk menuntaskan rasa dahaganya pada tubuh sang istri. Dan satu lagi, sejak mereka menikah, Vio memang tak di ijinkan untuk bekerja lagi.
Pernah malah suatu ketika, di saat keduanya sedang asyik bertukar peluh dalam kamar hotel, tiba-tiba ranjang yang menampung kedua tubuh tanpa busana itu reot. Keduanya ambruk bersamaan dengan kasur yang mengenai lantai. Sungguh pengalaman pertama yang tak akan terlupakan.
Keduanya pun berangkat. Saat di dalam mobil juga, keduanya suka sekali bercumbu tanpa ragu ada orang lain atau tidak.
"Sayang, aku gendutan ya?" tanya Vio. Ia memperhatikan tubuhnya yang tidak seperti biasanya. Apalagi porsi makannya terus bertambah.
"Tidak. Kau tetap sweety-ku yang sexy." bisiknya di telinga sang istri. "Kau gendut sekalipun aku suka." imbuhnya lagi.
"Tapi aku merasa seperti gendutan. Pakaianku terasa sesak. Nanti kalau aku gendut, jangan melirik pada wanita lain ya sayang? Awas lo."
__ADS_1
"Yang ada kalau istriku gendut, aku akan semakin lama menikmati tubuhnya. Karena akan membuatku semakin hangat."
"Jadi kau lebih suka aku gendut?" Vio langsung cemberut di buatnya.
"Bukan sweety. Apapun yang terjadi pada tubuhmu, mau gendut mau kurus. Itu terserahmu. Kau suka menjadi Vio yang kurus, aku suka. Atau kau ingin menjadi Vio yang gendut aku juga suka. Terserah istriku mau seperti apa. Yang penting selalu sehat dan semakin mencintaiku. Apapun bentuknya dirimu, aku akan tetap mencintaimu."
"Benarkah? Aku jadi semakin cinta denganmu sayang. I love you. " Vio mengecup singkat bibir Adrian dan Adrian membalasnya.
"Love you more sweety."
'Love you boss..' bayangan sopir. Anggap saja mobil mereka berjalan dengan sendirinya. Tak ada sopir yang melajukan. Mobil yang memiliki kekuatan magis.
Setibanya di kantor, keduanya sudah di sambut oleh Morgan di lobby. "Pagi tuan, pagi nyonya?"
"Pagi Morgan. Pagi ini kau tampan sekali Morgan?" puji Vio pada Morgan yang membuat lelaki itu merona merah.
"Terima kasih nyonya."
"Ah iya. Jangan cemburu sayang. Meski aku memuji Morgan tampan. Tapi kau yang paling tampan untukku. Tak ada yang lebih tampan dari siapapun, selain Adrian-ku. Benarkan Morgan?" puji Vio agar suaminya tidak marah.
"Anda benar nyonya. Sejak dulu hingga sekarang bahkan wajah tuan tidak berubah. Terlihat sama. Masih sangat tampan." imbuh Morgan yang ikut memuji ketampanan tuan.nya.
"Terima kasih Morgan. Kau akan mendapat bonus double bulan ini." ucap Adrian yang memberikan reward karena sudah memujinya.
"Aku sayang? Hadiahku apa?" pinta Vio dengan tangan menengadag pada Adrian.
"Nanti hadiahmu di ruanganku. Tunggu saja. Kau pasti akan suka." bisiknya di telinga Vio. Membuat Vio segera mengangguk cepat. Dan tak sabar dengan hadiah untuknya.
Mereka menuju lift dan tak sengaja bertemu dengan tamu Adrian yang sedang menunggu lift terbuka.
__ADS_1
"Wah, kebetulan sekali bertemu denganmu di sini Adrian. Aku baru saja akan ke ruanganmu." ucap seorang wanita dengan tubuh semampai yang cukup cantik, tersenyum pada suami Vio.
"Olive? Kau kembali? Apa kabarmu?" tanya Adrian terkejut.
"Aku merinduianmu Adrian. Aku baik. Kau sendiri apa kabar?" wanita yang di panggil Olive itu langsung berhambur memeluk Adrian. Membuat Vio tertegun melihat pemandangan yang tidak ia suka seperti ini.
"Aku baik. Kapan kau kembali? Mana Leon?" tanya Adrian tanpa memikirkan perasaan Vio, ia malah membalas pelukan wanita lain di depan sang istri.
"Sudah dua hari yang lalu. Kami sudah putus. Karena itu aku kembali ke sini. Kenapa aku begitu bodoh dulu dan mau ikut bersamanya ke Jerman. Dia selingkuh dariku Adrian." tangisnya pecah dalam pelukan Adrian.
Mereka masih berada di depan lift, dengan posisi Vio sudah melepaskan tangan sang suami. Ia hanya diam membisu bersama Morgan yang juga ikut terdiam dan sesekali melirik pada Vio.
Vio seakan sedang menonton film percintaan. Kisah sang wanita yang menolak cinta pertamanya dan memilih pergi bersama pria lain yang di cintai. Kemudian karena di campakkan, wanita itu kembali pada cinta pertamanya.
Film yang secara langsung membuat hati Vio teriris. Seakan dirinya tidak sedang di situ. Adrian benar-benar melupakan jika ada dirinya dan Morgan yang menyaksikan serial dramanya.
Vio memberikan isyarat diam pada Morgan, dan ia berlalu pergi. Menangis dalam diamnya. Morgan yang tak tega memilih mengejar Vio yang pergi. Membiarkan Adrian dan Olive di sana.
"Nyonya anda tidak apa-apa nyonya?" tanya Morgan di belakang Vio yang sedang menunggu taxi.
"Morgan, siapa dia? Kenapa aku tak mengenalnya? Mereka juga terlihat begitu dekat." ucap Vio datar sambil menghapus air matanya.
"Ehmm.. maaf nyonya. Lebih baik nyonya bertanya pada tuan saja. Saya tidak berani melangkahi tuan." ucapnya dengan sedikit menunduk.
Vio menoleh dan tersenyum. "Tidak apa-apa Morgan. Kau kembalilah. Aku akan pulang dulu. Salam kan saja pada tuanmu." Vio segera masuk ke dalam taxi dan berlalu pergi.
Sementara Adrian masih sibuk mendengar curhatan Olive di depan lift masih dengan berpelukan. Membuat Para karyawan yang lewat mencuri-curi pandang melihat keduanya.
"Dia tak peduli lagi padaku Adrian. Dia sudah berselingkuh di belakangku. Karena itu aku kembali. Aku membencinya."
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤