
Vio benar-benar melupakan masa periodenya. Sudah hampir 2 bulan ini dia sama sekali belum membeli pembalut. Dan baru ia sadari hal itu sekarang.
“Apa aku benar-benar sedang hamil? Aku kenapa tak merasa ada yang aneh padaku selama ini?” meski belum yakin Vio sudah cukup bahagia. Tapi dia tak ingin terlalu berharap lebih. Karena takut, jika pada akhirnya dia yang akan kecewa.
“Aku ke rumah sakit saja kalau begitu. Sekalian mengecheck kesuburanku. Semoga saja tidak ada yang terjadi padaku. Dan kehamilan itu aku harap.. benar.” Vio dengan semangat segera bersiap.
Dengan perasaan yang campur aduk, Vio menaiki taxi. Tak ingin membayangan lebih dari itu, tapi nyatanya Vio sudah keburu bahagia jika memang ada benih suaminya yang sudah menjadi calon baby dalam perutnya.
Setibanya di rumah sakit, Vio langsung melakukan pendaftaran pada dokter obgyn. Jantungnya semakin berdebar ketika sudah mendapatkan nomer antrian. Sampai akhirnya nama nyonya Adrian di panggil untuk masuk ke dalam.
“Semoga semuanya baik-baik saja. Huft..” ucap Vio sebelum masuk dengan menghembuskan nafasnya pelan.
“Selamat pagi nyonya, silahkan anda bisa duduk di sini.” ucap perawat. Vio mengagguk dan melihat dokter lelaki yang masih sibuk menulis di hadapnnya.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya...”
“Vio, saya Violetta dokter.” Mendengar suara yang pernah ia kenal, si dokter segera melihat ke arah suara.
“Vio?”
“James?” keduanya saling terkejut dan akhirnya mereka tertawa.
“Kau seorang dokter James? Maaf aku tak mengenalimu.” Ucap Vio senang.
“Takdir memang begitu indah Vio. Kita bisa di pertemukan lagi dengan pertemuan yang tidak di sengaja seperti ini. Ada yang bisa aku bantu?” sambut James lembut.
“Kau benar James. Ini sebuah kebetulan yang baik.” Vio tersenyum dengan manis, dan senyum itu di tangkap baik oleh James.
‘Manis sekali senyummu Vio?’
“Ehmm.. aku ingin memeriksa, apakah aku sedang.. hamil atau tidak. Karena jatah periode bulananku sudah telat dua bulan.”
Senyum yang tadinya merekah di wajah James seketika hilang ketika mendengar itu. “Hamil? Apa kau sudah bersuami Vio?” Vio mengangguk pasti,
“Adrian. Itu nama suamiku.”
‘Apa yang kau pikirkan James?’ ternyata sejak pertemuaannya kemarin dengan Vio, Vio sudah menarik hati James yang seorang duda. Hanya saja .. ya sudahlah.
__ADS_1
“Baiklah, kau bisa duduk di sana. Kita akan periksa apakah ada Vio junior di dalam perutmu atau tidak.”
Vio pun segera tidur di hospital bed. Dengan sedikit membuka kaos yang ia kenakan, dan James segera memeriksanya dengan melakukan USG.
“Selamat Vio, kau memang hamil. Lihatlah ini, itu calin bayi kalian.” James menunjukkan sesuatu di layar yang sedang aktif bergerak di dalam perut Vio.
Hal itu membuat Vio terkejut bukan main. Ternyata dia memang benar sedang hamil saat ini.
“Benarkah itu anakku James? Aku sungguh sedang mengandung sekarang?” James mengangguk dan tersenyum manis padanya.
“Hmm, selamat ya, sebentar lagi kalian akan segera memiliki seorang anak. Ngomong-ngomong apa suamimu tidak ikut mengantar?”
“Tidak. Aku ke sini sendirian. Lagi pula aku tidak menyangka jika aku benar-benar sedang hamil saat ini. Aku ingin memberikannya kejutan.” Ucap Vio semangat.
James kembali ke mejanya dan memberikan hasil tes serta foto calon bayi Vio padanya. “Ini hasil tesnya, semoga si kecil selalu di beri kesehatan. Ini aku berikan resep untuk memperkuat kehamilanmu dan vitamin untukmu dan calon bayimu.”
“Terima kasih James. Terima kasih banyak. Oh iya, salamkan untuk si ganteng Gio ya? Nanti aku akan menghubunginya. Aku permisi pulang dulu kalau gitu.”
“Hati-hati.” James hanya bisa melihat kepergian Vio hingga pintu tertutup. “Sayang sekali.”
“Apa aku langsung ke kantor Adrian ya? Atau aku mengajaknya ketemuan di luar saja? Emm.. Aku datang ke kantornya sajalah.?” Ucap Vio sudah dengan cengar-cengir melihat amplop di tangannya.
“Bagimana nanti reaksi Adrian kalau tau aku sedang hamil anaknya? Jadi tidak sabar aku.”
Setelah beberapa waktu kemudian, Vio sudah sampai di kantor suaminya. Langsung menuju ke ruangan suaminya di lantai atas.
“Kemarin mereka berpelukan di sini. menyebalkan!” dengus Vio kesal karena mengingat kejadian kemarin.
Tingg..
Saat lift terbuka, Vio sudah di sambut dengan Morgan yang sendirian di sana.
“Siang Morgan?”
“Selamat siang nyonya.”
“Adrian ada? Sudah aku katakan panggil aku Vio saja. Kau ini Morgan. Kita ini adalah teman.”
__ADS_1
“Maaf nyonya, saya tak ingin lancang pada anda.” Vio langsung memajukan bibirnya. “Tuan ada di dalam, silahkan nyonya.”
“Terima kasih Morgan.”
Vio melihat wajah serius suaminya yang sedang sibuk bekerja tanpa melihat ke arahnya. “Anda terlhat sibuk sekali tuan Adrian? Apakah saya mengganggu anda tuan?” sapa Vio yang sudah berada di hadapan meja kerja Adrian.
“Sweety? Kenapa tak mengatakan padaku jika kau mau ke sini?” Adrian langsung berdiri dan mendekat pada sang istri tercinta. Duduk di ujung meja dan menarik pinggang Vio yang sin*** untuk mendekat padanya.
“Aku ingin memberikanmu surprise. Apa tidak boleh tuan?” tanya Vio pada Adrian yang sibuk memandangi wajah cantiknya. Bibir yang selalu gatal ia tempelkan di bibir istrinya. Melakukan kecupan panas untuk beberapa waktu ke depan. Ahh.. manisnya.
Untung saja lipstik Vio super matte. Kalau tidak, itu lipstik sudah sangat berantakan karena hebohnya kedua bibir yang sedang asyik bermain.
“Sayang kau mau aku kasih kejutan tidak?” tanya Vio sambil menggigit bibir bawahnya.
“Kejutan apa sweety? Kau jangan mengigit bibirmu seperti itu. Dari pada bibrmu kau gigit sendiri, sini gigit bibirku saja.” Ucap Adrian sambil mencubit pelan bibir sang istri. Vio langsung memukul pelan lengan Adrian.
“Ini.. bacalah.” Vio segera memberikan amplop coklatnya pada Adrian.
“Apa ini? Tiket untuk kita honeymoon sweety?” Vio kembali memukul lengan Adrian. “Auw, sakit sweety. Dari rumah sakit?” Adrian melirik ke Vio, kemudian dengan cepat mengeluarkan isinya.
Di bacanya surat cinta James dengan teliti. Dan Foto yang terselip di amplop juga ia amati dengan baik. “Kau.. kau hamil sweety?” Vio cepat-cepat mengangguk. “Kau benar sedang hamil? Hamil anak kita?” terkejut bukan main, detak jantung Adrian langsung berdebar cepat.
“Hmm, anakmu di perutku sekarang sayang.” Vio mengusap pelan perutnya yang masih rata. Begitu pula dengan Adrian yang ikut mengusap perut milik istrinya. Wajah terkejut masih terlihat di wajah Adrian.
“Ini foto anak kita baby?” Vio segera mengangguk. Berakhirya anggukkan Vio, Adrian langsung memeluk erat tubuh sang istri. Memberikan ungkapan kasihnya pada Vio yang nantinya akan membawa anaknya di dalam perut selama sembilan bulan.
“Terima kasih sweety. Aku sangat mencintaimu. Kita sebentar lagi akan punya anak. Itu anakku. Kau sedang hamil anakku saat ini. Terima kasih.” Saking bahagianya Adrian, ingin rasanya ia cepat-cepat memberikan kabar baik ini pada kekasih pertamanya, Ella.
“Anak kita sayang. Itu anak kita. Bukan hanya anakmu saja.”
“Iya ini anak kita.” Adrian kembali mengecup bibir Vio. Ia yang tadinya duduk di meja langsung berdiri dan mengangkat tubuh sang istri untuk duduk di kursi.
Ciuman yang begitu lembut, kini berubah penuh nafsu dan bergairah. Sungguh, Adrian tidak tau lagi bagaimana cara mengungkapkan rasa terima kasihnya pada Vio atas kejutan yang di berikannya. Sampai membuat Adrian tak tahan dengan membuka jaket yang di pakai Vio. Sampai akhirnya..
“Kalian melakukan ini di kantor?”
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤
__ADS_1