
"Jangan! Apa yang akan kau lakukan padaku. Hentikan. Hentikan. Jangan seperti ini padaku nona. Aaakkkhhh!! Jangan lepaskan menjauh dariku jangan. JANGAN!!"
"Bukankah kau ingin menikah Vio? Lakukanlah pernikahanmu dengan kedua pria ini. Mereka cukup tampan untuk wanita sekelas dirimu. Dan sekarang kau bisa menikmati malam pengantinmu bersama suami-suamimu." ucap Monica yang tertawa dengan kerasnya di ruangan kosong itu.
"Kau gila Monica. KAU GILA. JANGAN SENTUH AKU. Pakaianku. JANGAANNN!!"
Brakk..
Door... door... doorr...
"Aaakkkhhkk!"
Ketika Brey sudah membuat polos Vio, kedua pria yang juga polos itu mulai menjamah tubuh Vio sesuai perintah Monica. Mereka bahkan sudah ada yang memeluk Vio dari belakang dan mencium punggung polosnya. Namun saat akan melakukan hal yang lebih jauh. Pintu yang menjulang tinggi di ruangan itu, di dobrak dengan kerasnya.
Ternyata Adrian dan Morgan serta beberapa anak buahnya yang datang menyelamatkan Vio. Adrian yang sudah menyimpan pistol di belakang punggungnya langsung menembakkan pistolnya kepada dua pria polos itu dan Brey sebelum berhasil mengambil senjatanya sendiri. Seketika itu juga ketiga orang itu mati di tempat.
Sedang Monica hanya bisa bersembunyi di belakang kursi yang ia duduki tadi.
"Sweety?!" Adrian segera melepas jasnya dan berlari ke arah Vio yang menutup tubuhnya sambil terduduk meringkuk menangis sejadi-jadinya.
"Adrian." Vio semakin menangis, karena akhirnya ada yang menolongnya.
"Monica aku tak menyangka kau bisa berbuat nekat seperti ini. Ini seperti bukan dirimu. Aku sangat kecewa padamu. Aku pikir kau sudah sadar dengan apa yang sudah aku katakan beberapa kali padamu. Aku sama sekali tidak mencintaimu. Dan tidak akan pernah. Dan sekarang aku jijik padamu. Morgan bawa dia ke ayahnya. Dan urus semua di kantor kepolisian."
__ADS_1
"Adrian, apa maksudmu? Adrian aku mohon jangan seperti ini padaku. Aku melakukan semua ini karena ingin hidup bersamamu Adrian. Kita bisa hidup bersama dan kau lambat laun akan bisa mencintaiku juga. Adrian jangan pergi. ADRIAN!!!" teriak Monica yang sudah di pegang oleh Morgan.
"Maaf nona, saya akan membawa anda ke kantor polisi. Biar polisi yang mengurus anda. Tuan Adrian masih berbaik hati dengan tidak membunuh anda karena beliau masih menghormati ayah anda. Bekerja samalah dengan baik nona."
"Tidak! Aku tak ingin ke kantor polisi. Aku tak mau. Lepaskan lepaskan aku. Morgan! Aku ingin Adrian. ADRIAAN."
"Hhpppph!"
Karena tak juga diam, Morgan memberikan obat bius yang sudah dia campurkan di sapu tangannya.
"Maaf nona. Saya terpaksa melakukan ini kepada anda." ucap Morgan dan dia membawa Monica masuk ke dalam mobilnya.
Sementara Vio yang sudah ada di dalam mobil bersama Adrian sudah mulai merasakan obat yang di berikan Monica kepadanya. Tubuhnya mulai terasa panas dan itu begitu menyiksanya.
"Ini minumnya, pelan-pelan saja minumnya sweety." Vio minum sampai tumpah-tumpah di pakaiannya. Karena itu adrian membantunya untuk minum.
"Adrian masih panas. Panas sekali. Dan ini, tubuhmu nyaman sekali di pegang. Aku ingin tubuhmu ini." ucap Vio yang mulai gelisah dan mengusap dada Adrian yang kotak-kotak dengan tangannya. Sedang adrian hanya bisa menelan salivanya menahan geli yang ia rasakan.
"Darrel, lebih cepat!? Antarkan aku ke apartrmenku saja cepat!"
"Baik tuan." jawab Darrel yang semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
"Kau sudah memberikan obat apa pada Vio, Monica? Aku tak menyangka kau berubah menjadi wanita seperti ini. Maafkan aku jika aku bertindak di luar batas nantinya jika sampai terjadi apa-apa pada Vio." ucap Adrian yang terus memeluk Vio semakin erat.
__ADS_1
Tubuh Vio sudah semakin tak bisa di kontrol. Dia mengambil tangan Adrian untuk memegang gunungnya di balik jasnya. Sampai membuat Adrian terkejut dan reflek menutup pembatas mobil.
"Ada apa denganmu sweety? Apa yang ingin kau lakukan?" tanya Adrian karena tangannya masih Vio tahan untuk menekan gunung kembarnya.
"Panas Adrian. Tubuhku panas sekali. Aku ingin sesuatu. Ini panas sekali." jawab Vio yang sudah menangis karena menahan rasa panas di tubuhnya yang begitu kuat. Entah berapa banyak yang sudah Monica berikan kepada Vio.
Kakinya sudah tak bisa diam. Dan tubuhnya terus menggeliat, gelisah. Tapi Adrian masih bisa menahannya karena pelukannya pada Vio begitu erat.
'Brengsek kau Monica. Berapa dosis yang kau berikan kepada Vio. Kau wanita gila!' gumam Adrian dalam hatinya yang semakin emosi.
Dia terpaksa membantu Vio memegang satu gunungnya dengan tangannya dan satu tangannya lagi memeluk Vio dengan eratnya. Sedang dirinya juga menahan geli dengan sentuhan yang di lakukan Vio di dadanya.
"Hpppphh! Ehmm.. sweety tahan sweety. Sebentar lagi kita sampai." ucap Adrian sambil menahan sesuatu. Karena tangan Vio tiba-tiba menelusup masuk ke dalam celananya dan memegang miliknya yang sudah panjang. Dan Vio memijatnya di sana.
"Maaf tuan. Kita sudah sampai." ucap Darrel saat mereka sudah berada di lobby apartemen Adrian.
"Terima kasih Darrel." Adrian dengan cepat membawa Vio ke dalam apartementnya. Setelah di dalam, Adrian membawa Vio ke dalam bathub untuk berendam air dingin.
Dia mengisi airnya dan dia juga membasahi tubuh Vio dengan shower air dingin.
"Adrian, aku menginginkanmu."
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤
__ADS_1