
"Vio mau kan memaafkan Adrian?"
"Iya nyonya. Eh iya mom, aku sudah memaafkannya." jawab Vio. Dia tak ambil pusing. Dia akan melihat bagaimana sikap Adrian setelah ini.
"Ah.., kau memang yang terbaik sayang. Terima kasih Vio."
Setelah itu mereka mengobrol-ngobrol singkat, karena tak lama Victor menjemput Ella. Vio pun kembali bekerja.
Setiap kali berpapasan, Vio hanya menundukkan kepalanya saja. Tak ingin melihat Adrian. Sedang Adrian tak lepas pandangannya dari Vio. Begitu terus sepanjang hari ini.
Hingga jam pulang kantor, Adrian segera membereskan pekerjaannya dan mengejar Vio yang masih ada di lobby.
"Vio tunggu, ikut aku. Aku ingin bicara denganmu." ucap Adrian yang sudah menahan tangan Vio.
Kali ini Vio hanya diam saja. Dia ingin tau apa yang akan Adrian bahas dengannya. Dia mengikuti Adrian yang membawanya pergi dari sana. Entah akan di bawa ke mana Vio olehnya.
"Kenapa kita berhenti di sini?' tanya Vio bingung, karena Adrian membawanya ke pinggiran pantai.
__ADS_1
"Maafkan aku soal kemarin. Apa kau mau memaafkanku Vio? Aku ingin tetap bersamamu seperti kemarin." ucap Adrian. Vio hanya diam saja. Dan terus melihat apa yang Adrian inginkan.
"Aku akan memaafkanmu. Tapi aku tak ingin kau dekat-dekat denganku. Kita akan seperti biasa. Aku aku, kamu kamu. Kita tak ada hubungan Adrian. Aku asistenmu dan kau boss.ku. Sekarang aku ingin segera pulang." ucap Vio dan bukan jawaban seperti itu yang Adrian harapkan.
"Sudah aku katakan, aku tak bisa menerima penolakanmu Vio." ucap Adrian yang mulai kesal. Dia juga masih belum mau mengatakan perasaannya pada Vio. Padahal mommy Ella sudah mengajarkannya semalam.
"Maaf Adrian. Aku sudah katakan aku tak bisa. Kita pulang saja. aku ingin segera pulang Ini sudah terlalu malam." ucap Vio yang melipat kedua tangannya di depan dada dan pandangannya ke arah depan.
"Aku tak akan mengantarkanmu pulang jika kau tak setuju dengan permintaanku itu." ucap Adrian yang masih kekeh dengan keinginannya yang aneh.
"Terserah kau saja. Aku akan pulang sendiri. Dan jangan harap aku mau menyetujui apa yang kau inginkan itu."
Saat Vio akan keluar Adrian menarik Vio dan mencium bibirnya. Dia pegang leher belakang Vio dan mencium bibir Vio dengan lembutnya.
"Apa yang kau lakukan Adrian?!" teriak Vio saat berhasil melepas ciuman bibir yang Adrian lakukan padanya dan akan menamparnya. Namun Adrian menahan tangannya.
"Aku menyukaimu Vio!" teriak Adrian akhirnya. "Aku tak ingin kau jauh-jauh dariku. Aku tak suka ketika kau dekat dengan Marco. Aku takut kehilanganmu saat kau akan jatuh di lift waktu itu." lanjut Adrian. Dan menatap tajam wajah Vio.
__ADS_1
"Aku ingin kau selalu bersamaku. Apa kau sekarang mau menurutiku?" masih dengan suara teriaknya Adrian mengatakan itu. Vio sedikit tersenyum namun Adrian tak melihatnya.
"Aku menyukaimu. Apa aku sekarang boleh dekat-dekat denganmu?" tanya Adrian lagi. "Vio jawab aku!" kali ini Adrian bertanya dengan suara lembutnya dan memegang tangan Vio.
"Kita pulang sekarang." ucap Vio yang tak ingin menjawab pertanyaan Adrian.
"Jawab pertanyaanku dulu Violetta. Aku menyukaimu. Apa kau masih tak mendengarnya?"
"Kita pulang sekarang. Terserah kau ingin melakukan apa padaku yang penting sekarang kita pulang." ucap Vio sambil mengelus pipi Adrian dengan lembut.
"Jadi artinya aku boleh melakukan apapun padamu?" Adrian bertanya sambil memberikan senyum manisnya pada Vio.
"Kita pulang sekarang. Apa kau tak mendengarnya?"
"Jadi aku boleh menciummu lagi?" tanya Adrian yang tak peduli Vio mengatakan apa dan menarik leher Vio pelan namun Vio menolaknya.
"Aku belum siap jika kau melakukan hal itu padaku. Hanya itu yang tak ingin aku lakukan untuk saat ini."
__ADS_1
Trauma bagi segelintir orang itu hanyalah bualan. Namun bagi yang merasakan itu, trauma adalah luka mendalam yang selamanya akan membekas dalam diri mereka. Dan itu yang masih Vio rasakan. Dia masih berusaha menghilangkan rasa itu. Mungkin dengan berjalannya waktu, dia mampu menghindari penyakit yang satu itu.
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤