
Dengan bibir yang tak kunjung diam, tangan Adrian mulai membantu membuka jaket Vio. Membuangnya ke meja dan kembali memeluk wanitanya.
Dalam pelukan yang penuh nafsu, Adrian mulai menggrayangi tubuh Vio bagian belakang. Menelusup masuk lewat kaos yang istrinya kenakan. Membuat Vio mulai merasakan geli di sekujur tubuh. Dan menantikan gerakan lain dari suaminya pada tubuhnya.
Sedangkan Adrian yang sudah ingin menyentuh bagian yang selalu ia rindukan segera melancarkan aksinya. Mengusap lembut punggung mulus itu, dan mencari pengait yang menghalangi penutup bukit kembarnya supaya terbuka. Klik..
Tangannya terus merayap ke samping, hingga pas bertemu dengan bukit yang sudah di nanti-nanti. Mmebiarkan oenutuo itu bergelantungan di tempatnya.
Di saat keduanya sudah terlena dengan keadaan yang penuh nafsu, tiba-tiba..
“Kalian melakukan ini di kantor?” mendengar ada gangguan, Adrian nampak murka. Ia menoleh pada pemilik suara. Sedang Vio sudah gelagapan.
"Olive?" Adrian mengerutkan keningnya dan langsung melihat Morgan yang ikut masuk.
"Maafkan saya tuan-nyonya, nona Olive memaksa untuk masuk." ucap Morgan sambil menundukkan kepalanya.
"Ada apa? Kenapa memaksa masuk?" tanya Adrian kesal, karena kesenangannya dengan sang istri terganggu. Ia menghalangi tubuh Vio yang mana penutup bukitnya sudah akan terlepas.
"Hhahaha aku hanya ingin menyapamu. Tapi tak di sangka kau sedang mesum di ruanganmu begini. Hai istrinya Adrian. Aku Olive." Vio hanya tersenyum malu di balik tubuh Adrian. Kesal juga di rasakan Vio, karena ketanggungan. Padahal waktunya pas sekali. Sial!
"Pergilah kalian berdua. Aku ingin melanjutkan yang terputus gara-gara kalian."
__ADS_1
"Oh ayolah Adrian. Aku sudah terlanjur kemari. Apa iya kau tega mengusirku dari sini gara-gara hal ini?" mendengar suara manja wanita lain, membuat Vio risih.
Ia turun dari meja, dengan mendorong tubuh suaminya untuk mengambil jaket dan berlari ke dalam kamar mandi.
"Sweety.." Adrian menangkap raut kesal pada wajah sang istri.
"Olive keluarlah, Aku tak suka tindakanmu yang sewenang-wenang seperti ini. Ini ruanganku. Kau jangan seenaknya seperti ini. Keluarlah, atau kau perlu Morgan untuk membantumu?"
Morgan tersenyum melihat reaksi Adrian yang tidak seperti kemarin. Mungkin kehilangan Vio kemarin membuatnya sadar, pikirnya.
"Ayolah Adrian. Kau tidak kasian memangnya denganku? Masak ia hanya gara-gara kalian mau melakukan hal itu di sini, lalu kau mau mengusirku?" rengek Olive dengan wajah kecewa.
"Tapi kan aku sudah terlanjur ke sini Adrian. Kau tak kasian denganku yang sudah jauh-jauh datang kemari?"
"Tapi aku tidak suka dengan tindakanmu yang memaksa masuk seperti itu. Ini kantor bukan tempat untukmu masuk seenakmu. Mengertilah. Kau pulang saja."
"Tapi Adrian. Aku kan sahabatmu kenapa kau begitu padaku?" Olive mulai tak suka dengan Adrian yang tak membelanya seperti ini. Apa karena ada istrinya Adrian menjadi seperti itu?
Vio yang baru keluar dari kamar mandi melihat ketiga orang yang masih berada di tempat yang sama. "Aku akan pulang dulu. Permisi."
"Kau mau kemana sweety? Kau tidak akan kemana-mana. Aku belum selesai." Adrian menarik cepat tangan Vio yang sudah mau keluar.
__ADS_1
"Dan kau Olive, please pergilah. Jangan sampai aku berlaku kasar padamu. Ingat kata-kataku, jangan kau anggap kantor adalah tempat bermainmu. Morgan antarkan Olive keluar."
Bagi Adrian kantor adalah tempat untuk bekerja. Namun kesenangannya pada sang istri itu adalah hal pribadinya. Toh itu memang kemauannya sendiri. Sedangkan yang di lakukan Olive bukanlah karena pekerjaan tapi masalah pribadi, dan itu yang membuat Adrian tak suka.
"Baik tuan." jawab Morgan dan langsung menoleh pada Olive. "Silahkan nona, lewat sini. Saya akan antarkan nona." Olive langsung pergi, dengan hatinya yang sudah tak suka dengan Adrian yang mencuekkannya seperti itu.
Setelah pintu tertutup, Adrian kembali mendudukkan Vio di atas meja dengan cepat. "Mau kemana? Sudah aku katakan kita belum selesai melakukannya."
Vio hanya diam saja dengan mulut yang sudah maju. "Kenapa diam saja? Apa kita tak bisa melakukannya lagi? Aku masih menginginkannya. Atau kau ingin melakukannya di hotel? Aku sudah ingin sekali sweety."
Vio langsung melirik ke arah si kecil milik suaminya yang memang terlihat muncul dari permukaan. Vio pun tersenyum samar melihatnya.
"Bileh ya sweety. Aku juga ingin menengok anak kita. Anak kita perlu mendapat kunjungan juga kan?" Adrian mendongakkan kepala Vio dan menyentuhkan bibirnya lembut di sana.
"Bagaimana? Bolehkan sweety? Si kecil juga butuh sentuhan dari istriku." Vio menggigit bibirnya dalam melihat ada gerak-gerak manja di dalam sana. "Kasian si kecil masih ketanggungan. Apa kau tak kasian padanya sweety?"
Vio akhirnya mengangguk pelan dan memberikan senyum pada suaminya. Oh ****!
"Bersiaplah sweety."
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤
__ADS_1