
"Dia tak peduli lagi padaku Adrian. Dia sudah berselingkuh di belakangku. Karena itu aku kembali. Aku membencinya Adrian." tangisnya kembali pecah dalam pelukan Adrian.
"Sudah jangan menangis Olive. Seharusnya kau jangan biarkan dia melihatmu hancur. Kau harusnya balas saja dia langsung. Katakan jika kau sudah tak membutuhkannya." ucapnya masih mencoba menenangkan Olive yang asyik memeluknya.
"Tapi aku tak bisa melakukannua Adrian. Kau tau kalau aku begitu mencintainya. Sekarang pun aku masih sangat mencintainya Adrian."
Keduanya benar-benar tak mempedulikan kondisi sekitar mereka sekarang. Yang ada malah larut dalam cerita cinta Olive. Membuat Morgan yang sudah berada di sana ikut tak suka dengan kondisi yang dia lihat.
'Pantas saja nyonya pergi. Bagaimana tuan ini, Apa karena nona Olive pernah ada di hati tuan dulu?' gerutu Morgan dalam hatinya. Selama ikut dengan Adrian, Morgan hanya pernah melihat boss.nya dekat dengan dua wanita. Yang satu Vio, yang sekarang menjadi istrinya. Dan satu lagi si Olive yang sedang di peluknya.
"Kau hanya perlu berpura-pura saja. Carilah pria yang mau di ajak kerja sama, bujuk dia agar mau menjadi pacar pura-puramu. Tunjukkan pada Leon, jika pria bukan hanya dia."
"Benarkah aku harus melakukan hao itu Adrian?" Adrian mengangguk.
"Kalau begitu, kenapa bukan kau saja kalau begitu? Kau bisa membantuku Adrian." Olive melepaskan pelukannya dan menghapus air matanya. Ia melihat Adrian lekat-lekat.
"Aku tidak bisa melakukannya. Lagi pula istriku tak mungkin mengijinkan hal itu padaku. Oh iya, kenalkan, ini istriku Violetta. Biasa di panggil Vio, Vio. ? Di mana Vio? Vi.. Morgan, di mana Vio?" Barulah ia sadar jika Vio sudah lama pergi dari sana. Melirik pada Morgan yang berdiri menjauh darinya.
Morgan dengan cepat, mendekat padanya. "Iya tuan. Nyonya.. sudah pulang tuan. Beliau hanya memberikan salamnya pada anda."
"Apa maksudmu dia sudah pulang? Kenapa tidak langsung mengatakannya padaku? Oh ****!" umpat Adrian. 'Apa yang aku lakukan? Jelas Vio marah. Aku memeluk wanita lain di depannya. Sial!' imbuhnya dalam hati.
'Bagaimana nyonya mau bilang kalau kalian berdua sedang sibuk bernostalgia seperti itu?' gerutu Morgan yang tak suka dengan sikao keduanya.
"Kau sudah menikah Adrian?" tanya Olive terkejut. Kenapa dirinya baru tau soal ini?
"Iya aku sudah menikah, Sweety ayo angkat teleponnya sweety..?" ucap Adrian dengan tangannya yang sudah menghubungi Vio.
"Oh God, apa yang sudah aku lakukan ini? Dia melihatku seperti ini. Dia jelas marah.. aargh ****! Olive, aku akan mencari istriku dulu. Morgan, kau pimpin meeting pagi ini."
"Baik tuan." jawab Morgan, dan Adrian segera pergi meninggalkan kantor. "Nona Olive, ada yang bisa saya bantu?" tanya Morgan yang melihat Olive masih terbengong di tempatnya.
__ADS_1
"Ah tidak. Aku juga akan pulang. Nanti aku akan kembali lagi."
"Silahkan nona. Saya permisi." Morgan segera masuk lift dan mengumpati Olive yang seenaknya sendiri peluk-peluk boss.nya. Adrian juga gitu. Heran sekali.
Sementara Vio sedang sibuk menghapus air matanya di dalam taxi. Sampai membuat sopir tidak tega dengannya.
"Nona mau ke mana lagi? Kita sudah memutari tempat ini dua kali nona." suara sopir langsung mengagetkan Vio dari lamunannya.
"Ah iya paman, berhenti di sini saja. Terima kasih paman." Vio behenti di sebuah taman kota dekat pantai tempat villa mereka berbulan madu di awal pernikahan.
Ia duduk dan mengingat masa bulan madu mereka yang menggairahkan. Apalagi ketika mereka bercinta di di rumah pohon. Membuat Vio merindukan hal itu. Ingin kembali terulang.
"Aku rindu kakek dan daddy." ucapnya tiba-tiba.
Ponselnya yang sejak tadi bergetar, sama sekali belum Vio lihat. Pasti dari Adrian pikirnya. Moodnya sudah sangat jelek pagi ini.
Duduk di kursi taman melihat seorang anak kecil dan ayahnya bermain bersama. Berlarian dengan seekor anak anjing yang begitu lucu. Berlarian kesana kemari.
"Adik kecil jangan menangis. Siapa namanya?" Vio membantu membersihkan lututnya yang mengenai paving.
Anak itu melihat wajah Vio yang cantik langsung tersenyum. "Gio kakak cantik capa namanya?" tanyanya imut sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya yang kecil. Menggemaskan sekali.
"Nama kakak Vio. Gio mau kakak gendong?" Gio langsung mengangguk dan memberikan kedua tangannya pada Vio. Tentu saja langsung di sambut baik oleh Vio.
"Sayang, maaf daddy masih mengejar Celo. Terima kasih sudah menolong Gio nona, sini Gio ikut dengan daddy." Gio kecil mengangguk dan berganti di gendong daddy.nya.
"Tidak apa-apa tuan." jawab Vio dengan senyum manisnnya, membuat ayah Gio ikut tersenyum melihatnya.
"Perkenalkan, nama saya James." James mengulurkan tangannya pada Vio. Gadis cantik di depannya.
"Saya Vi.."
__ADS_1
"Dia kakak Vio daddy. Namanya kakak Vio. Gio sudah kenalan dengan kakak tadi." dengan mulut kecilnya Gio menyebutkan nama Vio dengan begitu lucu.
"Vio, nama yang bagus. Ehmm.. sendiri di sini?" tanya James basa basi melihat kiri-kanan tak ada yang menemani Vio.
"Iya, saya ke sini sendirian tuan. Kalau begitu saya permisi dulu tuan, Gio kakak pergi dulu ya?" Vio mencubit gemas pipi gembul Gio dalam gendongan James.
"Kakak tak ingin main dengan kami dulu? Kakak Vio belum kenal dengan Celo. Dia anjing baik kak." tunjuk Gio pada anjingnya yang sedang mencari makanan di rerumputan.
"Mungkin Gio ingin bermain dengan nona Vio, kalau nona tidak keberatan?"
"Panggil Vio saja tuan." ucap Vio dengan mengulas senyum cantiknya. "Gio mau main dengan kakak?" Gio mengangguk cepat. "Baiklah, kakak akan menemani Gio bermain."
"Horeee.." James tersenyum melihatnya.
Ia memperhatikan Vio yang pagi ini menampilkan siluet keibuan, Membuat James ikut senang melihatnya.
Vio langsung mengambil Gio dari gendongan James. Keduanya bermain bersama Celo. Saling kejar-kejaran. James hanya memperhatikan anaknya yang senang dengan Vio. Sesekali curi-curi pandang pada Vio.
"Cantik."
***
Sementara Adrian sudah sibuk mencari keberadaan Vio. Ponsel Vio yang tiba-tiba mati membuatnya semakin gusar.
"Sweety please kau di mana? Kau salah paham denganku." ucap Adrian yang masih terus mencoba menghubungi Vio.
Saat ini dia sedang berada di apartemen lama Vio. Tapi ia tak menemukan sang istri. Ayah Vio sudah bukan lagi tinggal di sana. Vio tak mengijinkan Alfred untuk tinggal sendiri. Karena itu Adrian meminta Alfred untuk tinggal bersama Ella dan Victor di rumahnya.
"Kau di mana Sweety. Pulanglah sweety," Adrian mengacak ranbutnya frustasi. Ini sudah lebih dua jam Vio tak menghubunginya. Adrian kembali menuju mobilnya. ia menghubungi Morgan untuk membantunya mencari Vio.
"Morgan, bantu aku cari Vio."
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤