
"Aku yang minta maaf Vio. Tapi kita masih teman kan?" mohon Morgan. Dan Vio sudah kembali memberikan senyumnya pada Marco.
"Kita masih berteman tuan. Maafkan aku jika reaksiku berlebihan. Aku permisi dulu." jawab Vio lembut dan dia langsung masuk ke apartemennya.
Setibanya di apartemen, Vio segera ke kamar mandi dan mencuci bibirnya agar tak ada jejak dari Marco. Dia melihat wajahnya di depan cermin.
Seketika bayangan saat dirinya hampir di perkosa muncul kembali. Semakin dia lupakan justru bayangan itu semakin muncul. Apalagi saat ingat betapa gilanya pria itu mencium gunung kembar Vio dengan rakusnya.
"Aaaarrgg!"
Vio memukulkan tangannya di cermin hingga pecah. Dan membuat darah segar miliknya mengalir dari kubu-kubu tangannya.
"Vio? Apa yang kau lakukan?" Vio menoleh dan melihat Adrian yang sudah berada di depannya.
"Tuan Adrian?" ucap Vio. Seketika tangisnya pecah. Dan baru dia merasakan sakit di tangannya.
__ADS_1
"Hey kenapa? Kenapa kau lukai tanganmu sendiri?" ucap Adrian yang ikut masuk dan langsung memeluk Vio.
"Kenapa? Hmm? Jangan menangis lagi. Aku akan menemanimu. Tenanglah dulu." ucap Adrian sambil mengusap punggung Vio pelan. Vio bukannya takut saat Adtian memeluknya tapi justru sentuhan lembut Adrian membuatnya lebih tenang.
Lama mereka berada di posisi seperti itu. Hingga akhirnya Vio sadar dan melepaskan tubuhnya dari Adrian.
"Maafkan aku." ucap Vio dan sedikit menunduk sambil menghapus sisa air matanya.
"Aku yang minta maaf. Maaf aku langsung masuk, karena aku khawatir padamu. Aku tak suka kau pergi dengan Marco. Karena itu aku menyusulmu kemari. Duduklah dulu." ucap Adrian sambil menarik Vio pelan untuk duduk di closet.
Dia menuju laci meja rias. Untuk mencari kotak p3k. Dengan perlahan Adrian mengobati tangan Vio yang terluka. Sesekali juga dia melirik Vio yang meringis kesakitan.
"Sudah selesai. Jangan kenakan pada air dulu. Kemarilah. Aku akan membantumu membersihkan wajahmu." ucap Adrian dan sudah membawa Vio ke wastafel.
"Biar aku sendiri saja tuan." ucap Vio yang menolak Adrian secara halus.
__ADS_1
"Andrian. Panggil aku Adrian. Dan lagi tanganmu baru selesai di obati. Biar aku saja yang melakukannya. Menurutlah." jawab Adrian.
Dengan telaten Adrian membasuh wajah Vio, menyabuni, membilas. Adrian lakukan dengan hati-hati. Dia juga menyikat gigi Vio. Sampai Vio merasa malu sendiri.
"Sekarang gantilah pakaianmu. aku akan membuatkanmu teh hangat." ucap Adrian dan dia langsung menuju dapur. Sudah seperti rumahnya sendiri saja.
Vio pun menurut. Dia mengganti pakaiannya, sesuai perintah Adrian. Vio sampai bingung kenapa dia bisa menurut saja dengan ucapan boss.nya itu.
Selesai berganti pakaian, Vio menuju dapur untuk mengambil sedikit camilan dan air untuk minum.
"Apa yang kau lakukan dengan mereka?" tanya Adrian yang melihat Vio sudah membawa 3 bungkus snack di tangannya.
"Aku masih lapar." ucap Vio dengan santainya. Dan Adrian langsung mendekat, dia mengambil semua snack yang di bawa Vio dan memasukkan snack itu lagi ke dalam lemari pendingin.
"Kau tak boleh makan ini Vio. Ini sudah malam. Itu akan membuat badanmu tak sehat dan gendut. Aku akan mengupaskan buah untukmu." ucap Adrian. Dan itu lagi-lagi semakin membuat Vio bingung dengan tingkah Adrian yang perhatian seperti ini padanya.
__ADS_1
"Kau tak sedang ingin membunuhku kan?"
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤