
"Jangan menyentuhku." ucap Vio yang menepiskan tangan Adrian yang menyentuh keningnya. Apa sih maunya tuannya ini?
"Aku hanya ingin tau kondisimu saja. Tak perlu berlebihan seperti itu." ucap Adrian yang langsung berdiri dan menuju kamar mandi.
"Ada apa sih dengannya itu?" Vio heran bagaimana Adrian bisa peduli seperti itu padanya. Bahkan rela menginao di apartemennya.
Vio menunggu Adrian sambil membereskan kamarnya yang masih berantakan, setelah itu mereka sarapan bersama dan langsung berangkat ke kantor.
Untung saja di kantor Adrian selalu ada persediaan pakaian untuknya. Sehingga dia bisa mengganti pakaiannya di sana.
Hari itu seperti biasa Vio di tahan, harus bekerja bersama dengannya di dalam ruangan kantornya. Namun tiba-tiba Maria memberi kabar pada Adrian Jika Monica datang.
"Hai Adrian, apa kau sibuk sekarang?" tanya Monica saat masuk dan Vio berdiri dan tersenyum pada Monica.
"Ya seperti ini. Ada apa kemari?" tanya Adrian sambil melirik Vio yang tak peduli sama sekali denganya. Dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya.
"Aku kebetulan lewat sini dan mampir karena merindukanmu." jawab Monica dan tersenyum manis pada Adrian.
__ADS_1
"Apa dia memang bekerja di sini Adrian?" tanya Monica lirih. Monica mulai merasa tak suka jika Vio terlalu dekat dengan Adrian seperti ini.
Meski pelan, tapi Vio masih mendengar ucapan Monica. Dan dia mulai merasa tak nyaman dengan hal ini.
"Iya, aku masih membutuhkannya, karena itu aku menyuruhnya untuk bekerja di sini untuk sementara waktu." jawab Adrian santai.
"Adrian apa aku boleh mengatakan jika aku tak suka jika kau terlalu dekat dengannya?" ucap Monica yang sudah di dengar oleh Vio.
'Huft.. aku lebih baik menyingkir saja.' ucap Vio dan sudah membereskan pekerjaannya.
"Maaf tuan, nona saya permisi dulu. Silahkan anda melanjutkan lagi obrolan kalian." ucap Vio yang langsung pergi membawa berkas-berkasnya di meja.
"Apa kau benar menyukainya Adrian?" tanya Monica to the point. Dia ingin dekat dengan Adrian. Tapi selama masih ada Vio, ini akan menjadi lebih sulit.
"Apa maksudmu Monica?" tanya Adrian yang menyipitkan matanya pada Monica.
"Aku tau kau menyukainya Adrian. Dan aku tak suka. Aku yang menyukaimu lebih dulu. Apa kau tak bisa membuat dirimu menyukaiku Adrian? Aku menyukaimu Adrian.. Aku menyukaimu." ucap Monica dengan tangisnya yang sudah menetes.
__ADS_1
"Jangan menangis Monica. Sudah jangan menangis. Kita masih bisa jadi teman bukan? Dan siapa yang mengatakan jika aku menyukainya?" ucap Adrian yang sudah berdiri dan memeluk Monica.
'Apa aku menyukai Vio?' tanya Adrian dalam hatinya.
Adrian sendiri masih belum memahaminya jika dirinya sebenarnya sudah menyukai Vio.
"Sudah jangan menangis. Nanti paman akan memarahiku jika tau aku membuat anak manjanya menangis." goda Adrian dan Monica tersenyum dalam pelukan Adrian.
'Aku ingin seperti ini terus padamu, apa boleh Adrian?' Monica mungkin egois. Tapi itu yang di rasakannya pada Adrian.
Karena tak ingin Monica kembali menangis, Adrian akhirnya mengajak Monica makan siang berdua. Mereka keluar ruangan dan Adrian melirik Vio yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Seharian itu Monica menemani Adrian, dan Vio pun tak menampakkan dirinya sama sekali ke ruangan Adrian.
Hingga waktunya pulang pun Vio memilih pulang lebih dulu. Apalagi Marco menawarkan Vio untuk pulang bersama lewat pesan singkatnya. Dia mengiyakan saja. Toh Marco orangnya baik.
"Hai cantik, silahkan masuk." ucap Marco yang mempersilahkan Vio untuk naik ke dalam mobilnya. Vio pun tersenyum tanpa tau ada dua orang di belakangnya yang sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE KOMEN VOTE FAVORITE DAN HADIAH YA KAKAK. TERIMA KASIH ❤❤❤❤❤