
"Wah bagaimana bisa kalian tidak mengajak aku " Suara seorang lelaki yang sedang berjalan mendekati mereka itu tampak tidak asing.....
Itu adalah Benvolio.
"Oh,ada tuan Marcello rupanya, selamat sore tuan." Sapa Benvolio sopan.
Marcello tersenyum lalu mengangguk tanda bahwa dia menerima sapaan Benvolio.
Nicolette mencoba menawarkan cakenya kepada Benvolio,"Kemari Ben,tidaklah kau mau mencoba cake buatan ibu ku?."
"Ah,maaf nyonya bukannya aku menolak,tapi aku kesini karena ada sesuatu darurat yang harus ku bicarakan dengan si kulkas itu." Ujar Benvolio sambil memandang ke arah Luzio.
Yang di pandangpun merasa kelas."Ben,apa kau mau mati?."
Mereka semua tertawa kecuali Luzio.
"Aku menunggumu di ruang biasa bro." Benvolio lalu pergi.
......................
Di ruangan kerja Luzio...
"Jadi,apa yang darurat Ben?." Tanya sahabatnya itu.
"Perihal Clarissa,harus bagaimana?."
Ben melihat sahabatnya itu menunduk dan membuang nafas kasar.
"Mungkin sebaiknya kita tes DNA dulu agar semua lebih jelas.Aku tak mau nanti kau menyesali apapun yang terjadi nantinya." Ujarnya lagi.
"Ah aku merasa menjadi seorang baji-ngan rendah sekarang ini Ben,aku sangat menyakiti hari istriku.Kenapa semuanya terjadi di saat kami sedang bahagia?."
Benvolio melihat wajah sahabatnya itu dengan seksama.Raut wajahnya menyiratkan bahwa ia sangat menyesal sekarang.
"Mau bagaimana lagi,bro.Ini semua sudah terjadi dan perihal salah paham di masa lalu,itu memang benar.Helena tidak berselingkuh dengan Daren,kau saja yang tidak bisa berpikir jernih saat itu." Benvolio sedikit merutuki sahabatnya yang menurutnya sedikit bodoh.
"Ya,aku memang salah Ben,semua sudah terlanjur.Saat ini aku hanya bisa berusaha memperbaiki semuanya.Oh ya,tolong segera percepatan prosesnya Ben."
"Hem,baiklah kalau begitu aku permisi dulu." Benvolio lalu pergi meninggalkan sahabatnya itu.
__ADS_1
......................
Keesokan harinya,di apartemen Benvolio.
Alarm berbunyi menandakan bahwa ia harus segera bangun.Dengan susah payah lelaki itu membuka matanya lalu mematikan alarmnya.Ben tidak pulang ke mansion ke dua karena tadi malam ia menghabiskan malam panas bersama seorang wanita.Ya, Benvolio Zico adalah seorang cassanova yang kelebihan hormon.
Ia duduk di pinggir ranjangnya lalu segera membersihkan diri.Setelah membersihkan diri,ia memilih stelan formal berwarna abu-abu lalu mengenakannya.
Ia menatap cermin yang sedang memantulkan dirinya.Wajah tampan,postur tubuh yang tegak,rambut yang sudah rapih membuatnya merasa tampan.
"Ya,aku memang tampan bukan.Mom andai kau masih ada,kau pasti akan melihat anakmu ini sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang tampan,namun single." Gumamnya sendiri sambil memikirkan mendiang ibunya yang telah meninggal belasan tahun lalu.
Benvolio lalu mengambil tabletnya,ia memeriksa apa jadwal bosnya sekarang.Ia membaca bahwa hari ini bosnya ada rapat dengan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perfilman.
Benvolio lalu meninggalkan apartemen menuju basemen,ia menghidupkan mesin mobilnya lalu bersiap menjemput sahabatnya sekaligus atasannya itu.
Mobil mewah Mercedes Benz melaju membelah jalanan kota.Kira-kira sepuluh menit lagi ia sampai di mansion utama keluarga Mateo,Luzio menelponnya.Setelah panggilan telpon berakhir Benvolio mengumpat.
Bagaimana ia tidak mengumpat,Luzio menelponnya dan bilang tidak akan masuk kantor hari ini.Padahal sebentar lagi ia akan sampai di mansion.Benvoliopun segera memutar mobilnya untuk melaju ke arah kantor.
Setelah sampai di kantor,ia langsung masuk ke ruang kerjanya dan duduk di kursinya.Ia langsung mengutak-atik laptopnya sambil sesekali membuka lembaran kertas.
Benvolio benar-benar pusing.Sahabatnya itu memintanya untuk mengundurkan semua jadwalnya belum lagi dengan pekerjaan yang menggunung yang Luzio tinggalkan.Mau tidak mau ia sebagai sekretarisnya harus menyelesaikannya.
Saat itu Benvolio masih remaja.Semuanya sangat susah baginya,ia bahkan hampir tidak bisa meneruskan sekolahnya karena kurang biaya.Sedangkan sang ayah sudah tiada saat Benvolio masih dalam kandungan.
Ibunya bekerja sebagai maid di mansion utama keluarga Mateo dan karena ibunya bekerja dengan baik,ibunya di angkat menjadi kepala maid,dan kehidupan keluarga mereka perlahan membaik karena gaji ibunya sangat besar waktu itu.
Namun semua berubah ketika sang ibu di bunuh perampok ketika ibunya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.Benvolio yang masih remaja pun menangis sejadi-jadinya saat mendapat kabar dari kepolisian setempat bahwa ibunya tewas di tangan perampok.
Berita kematian ibunya telah sampai di telinga tuan Mateo beserta istrinya.Mengingat semasa hidupnya ibu Benvolio sangat baik,Tuan dan nyonya Mateo memutuskan untuk mengurus Benvolio dan mengusut pelaku yang menewaskan ibunya.
Sejak saat itulah Benvolio mulai tinggal di mansion keluarga Mateo dan akrab dengan Luzio.Benvolio benar-benar di besarkan layaknya cucu sendiri,ia di sekolahkan dan di kuliahkan hingga lulus, hidupnya benar-benar di jamin oleh keluarga Mateo.
Luzio dan Benvolio mulai belajar ilmu bela diri,dan setelah lulus kuliah Benvolio di ajari bekerja di perusahaan terbesar Mateo Group.
Karena kinerjanya yang bagus,ia bisa seperti sekedar ini.Menjadi sekretaris Luzio sekaligus orang kepercayaan keluarga Mateo.Gaji yang di terima Benvoliopun tidak main-main.Ia mendapatkan gaji tiga kali lipat di bandingkan pekerja dengan profesi yang sama di perusahaan lain.Ia juga di berikan fasilitas mewah dan bonus.
Luzio tersenyum ketika mengingat semuanya.
__ADS_1
"Ah,aku rasa meskipun aku yatim piatu,tapi aku beruntung.Setidaknya aku tidak menjadi gelandangan saat ini." Ia kemudian menyeruput kopinya lalu kembali mengerjakan tugasnya dari Luzio.
......................
Sore hari di kantin kantor...
Benvolio sedang bersiap untuk makan,ia agak terlambat makan karena ia tadi sedang mengerjakan berkasnya.
Ia memakan ayam goreng tanpa tulang dan ada satu burger juga di mejanya.
Ponselnya berdering ketika ia sedang menikmati makanannya.Ia melihat siapa yang menelepon ternyata itu adalah sahabatnya.
"Ya Zi ada apa?." Ucapnya santai sambil menikmati makanan.
"Bagaimana tentang tes DNA nya?." Tanya Luzio dari seberang sana.
"Sudah Zi,aku susah meminta dokter Bryan untuk mengurusnya dan aku juga sudah meminta izin dengan Elena."
"Em,baiklah kalau begitu.Segera kabari aku jika hasilnya sudah keluar." Lalu Luzio mematikan panggilan telponnya sepihak.
"Oh,SH-IT!.Dia selalu saja seperti ini,tidak sopan." Gerutu Benvolio lalu ia memasukkan smartphonenya ke dalam sakunya.
Saat ia hendak menyantap makanannya, tiba-tiba ponselnya berdering lagi.Sontak saja ia langsung mengumpat.
"Sialan,tidak bisakah aku makan dengan tenang?." Ia kemudian mengangkat panggilan teleponnya.
"Ya,ada apa?."
"Begini tuan,ada klien yang ingin bertemu dengan Anda.Sudah janji katanya." Ucap seorang wanita yang ternyata adalah resepsionis kantor.
"Siapa?."
"Tuan Marcus dari Golden Experience Corp." jawab sang resepsionis tersebut.
"Ya,suruh saja dia menunggu di ruang biasanya.Aku sedang makan siang." Kemudian ia menutup telponnya.
Baru saja tadi pagi ia merasa bersyukur atas kehidupannya,dan sekarang ingin sekali rasanya ia mengumpat kasar dan memaki-maki semuanya.Ia sangat setres berurusan dengan pekerjaannya sedangkan sahabatnya itu mungkin sedang sibuk bercinta dengan istrinya.Jika sudah seperti ini ingin sekali rasanya ia juga menikah agar bisa beralasan tidak masuk kerja.Namun apalah daya,ia seorang lelaki single.
...****************...
__ADS_1
Huhuhu,part selanjutnya bakal di terusin tentang Benvolio lagi atau ngga ya?😇
ILY SEMUA READERSKU💜