
"A,aku akan mengatakan semuanya.Sebenarnya yang memerintahku adalah seorang mahasiswa..."
"Mahasiswa?" Benvolio dan Kim mengernyitkan dahi mereka.
"I,iya tuan.A,aku akan menceritakan semuanya,tapi,tapi tolong lepaskan aku dulu."Ucap lelaki itu sambil terbata-bata.
Benvoliopun mengisyaratkan agar anak buahnya menurunkan lelaki tersebut dari gantungan.Setelah itu lelaki tersebut menceritakan semuanya.
"Saya akan bercerita tuan,beberapa hari yang lalu saya di telepon oleh seseorang untuk menabrak mobil secara sengaja,saya tidak tahu orang itu siapa dan yang akan saya tabrak itu siapa.Hanya hanya menjalankan perintahnya.Yang saya tau ia adalah mahasiswa karena ia memakai Almamater dari universitas milik Mateo Group"
"Apa kau ingat wajah baji-ngan itu?" Tanya Kim
"Ya,saya ingat tuan.Ia bahkan yang memberi saya yang secara langsung." ujar lelaki itu dengan suara yang sangat pelan.
Kim lalu menunjukkan beberapa foto mahasiswa lewat tab nya.Dan lelaki itu menunjuk sebuah foto.
"Apa kau yakin dia orangnya?." Tanya Benvolio mengintimidasi.
"Yakin tuan,saya masih ingat sekali wajahnya."
"Nah Kim,kau urus dia.Aku akan menghubungi Luzio dulu." Ujar Benvolio kepada Kim lalu ia pergi keluar.
Di luar ruangan itu Benvolio menekan nomor sahabatnya itu lalu menelponnya.
"Ada apa Ben?." Tanya sahabatnya dari seberang sana.
"Aku punya berita bagus Bro,aku yakin ini akan memudahkan kita untuk menemukan siapa musuh mu yang sebenarnya."Ujar Benvolio mantap.
"Baiklah,aku akan segera kesana."
"Tidak perlu,bro.Kau jagalah dulu istrimu sampai ia sembuh total.Masalah ini tidak perlu terburu-buru,kita sudah mengantongi nama pelaku dan beberapa bukti lainnya.Serahkan saja kepada ku dan Kim."
Benvolio tidak mau sahabatnya itu sibuk kesana-sini meninggalkan istrinya yang tengah di rawat di rumah sakit.
"Em,baiklah jika begitu.Aku percayakan kepada kalian.Tunggu sampai istriku sembuh,aku akan menghabisi mereka dengan tangan ku sendiri." ucap Luzio dari seberang sana.Terdengar oleh Benvolio suara sahabatnya itu penuh amarah.
Klik.Panggilan pun berakhir.
......................
Rumah sakit...
Keadaan Nicolette sudah membaik dan besok sudah boleh pulang.Saat ini dia tengah makan di suapi suaminya.
"Habiskan ya sayang agar kau cepat pulih.Nanti kalau kau sudah pulang,aku akan mengajak mu ke toko Merchandise Avengers." Ucap suaminya seraya menyuapi bubur.
Ia mengangguk girang sambil mengunyah pelan.
Setelah makan selesai,Luzio membantunya untuk minum obatnya.
"Zi,kau juga makan ya.Dari tadi kulihat kau belum makan apapun selain minum kopi."
"Ah,iya sayang.Aku hampir saja lupa.Aku pesan saja,kau mau pesan apa?agar sekalian."
Nicolette melihat keatas sambil berpikir.Air wajahnya membuat Luzio gemas.
__ADS_1
"Hentikan sayang,jangan berekspresi seperti itu atau kau akan ku terkam sekarang juga."
"Aku sedang berpikir Zi,em sepertinya aku ingin beberapa pastry isi buah." Ujarnya.
"Baiklah,aku akan memesankannya untuk mu." Lalu suaminya menelpon bodyguardnya untuk membelikan mereka makanan.
"Zi,aku ingin duduk sambil menyandar di pundak mu.Apa boleh?."
"Tentu saja boleh sayang."Jawab suaminya lalu sang suami naik ke ranjangnya.Karena ruangan VIP jadi tempat tidur pasien cukup lebar.
Nicolette duduk sambil bersandar di dada Luzio dengan tangan sebelah kanan Luzio jadi bantalan untuk kepalanya.Nyaman sekali dan sesekali suaminya itu mencium keningnya.
......................
Di markas Black Devil...
Kim dan Benvolio baru saja berhasil menangkap mahasiswa yang di maksud beberapa hari lalu.
"Kau hanya seorang bocah.Nyalimu besar juga ya mengganggu bos kami.Apa kau bosan hidup?" Ucap Benvolio.
Lelaki yang di ikat di kursi tersebut menjawab,"Cih,terserah kalian saja.Tapi yang pasti meskipun aku kalian lenyapkan,itu tidak akan menghalangi niat orang yang memang benar-benar ingin Luzio hancur."
"Hahaha...Orang yang kau maksud itu hanya seorang pecundang yang terus bersembunyi." Tawa Benvolio pecah.
"Dia sengaja bersembunyi untuk mengincar sesuatu yang lebih besar bahkan dari perusahaan tuan kalian itu." Ucap Mahasiswa tersebut dengan sorot mata yang sulit di artikan.
Mendengar ucapan lelaki itu,Kim mulai berpikir.Apakah yang di incar orang itu adalah istri tuannya?.
"Kau tunggulah saja sampai tuan Luzio datang dan lihat apa yang akan ia lakukan padamu.".Kim yang dari tadi dia akhirnya membuka suara.
Beberapa saat kemudian,pintu ruangan tersebut terbuka.Muncul lah sosok lelaki dengan sorot mata yang menyeramkan.
"Aku menitipkannya kepada ibu mertuaku.Jadi orang ini yang kalian maksud?" ucap Luzio tanpa menoleh ke arah Benvolio ataupun Kim.Atensinya terfokus kepada dua manusia yang sedang terikat di kursi.
"Ya,si pemberi perintah dan sang eksekutornya." Jawab Benvolio
Luzio menyeringai tajam.Ia lalu mengambil sebilah pisau tajam kesayangannya.Mata pisau tersebut berkilau saat terkena cahaya lampu meskipun lampu di ruangan itu tidak terlalu terang.
"Apakah kalian tau siapa yang kalian ganggu?.Dia adalah sumber kehidupanku.Dan bukan hanya itu kalian bahkan telah membuat anakku yang tidak berdosa harus tiada sebelum ia sempat terlahir di dunia ini." Luzio maju mendekat kedua orang tersebut sambil membelaikan pisau di wajah salah satu di antara mereka
Kedua lelaki itu menelan ludahnya kasar.
"Bisa kau katakan apa tujuanmu mencelakai istriku?."
"Tidak akan!Bahkan meskipun aku kau bunuh itu tidak akan pernah terjadi?." Jawab mahasiswa tersebut.
"Oh oke,baiklah."
Luzio kemudian menusuk paha lelaki tersebut dan empunya hanya menjerit kesakitan.Kemudian Luzio beralih kepada driver mobil truk yang sudah gemetar ketakutan.
Ia menusuk-nusuk secara membabi buta.Darahnya memancar kemana-mana dan mengalir ke lantai.Luzio memerintahkan anak buahnya untuk memotong tubuh lelaki tersebut dengan gergaji mesin.Kim dan Benvoliopun turut melihat adegan tersebut.Mereka sudah biasa melihat ini semua.
Bau amis menyeruak.Ruangan yang tadinya di penuhi suara jeritan kini hening.Tubuh lelaki itu sudah menjadi beberapa bagian.
Mahasiswa tersebut gemetar menyaksikan betapa seperti orang kesetanan ketika seorang Luzio mengamuk.Namun ia berusaha untuk terlihat tidak gentar sedikitpun.
__ADS_1
"Jadi bocah,apakah kau masih tidak mau jujur?."
"Aku tidak akan mengatakan dia siapa,tapi yang pasti dia sangat dekat dengan istrimu.Bahkan sejujurnya hal yang dia incar bukan kehancuranmu,tapi istrimu." Ujar mahasiswa yang ternyata dia bernama Hans.
Luzio kembali tersorot emosi dan ia melayangkan tinjuannya ke wajah Hans.Hans hanya tersenyum meskipun sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Meskipun aku kau bunuh,tidak akan menyurutkan niatnya untuk mengambil istrimu.Aku hanya ingin membalaskan kematian ibuku tidak lebih dari itu dan kau tau, Istrimu lah yang telah membunuhnya.Anakmu mati itu bukankah hal yang setimpal?."
Mendekati lelaki itu menyinggung soal anaknya,ia langsung membabi buta melayangkan tinjuannya.
"BERENG-SEK!. Tutup mulutmu itu.
Luzio lalu mengambil samurai panjang yang tergantung di dinding tersebut dan dengan emosinya ia menebas leher Hans.Seketika kepala Hans terpisah dari tubuhnya dan darahpun mengalir deras.Nafas Luzio terengah-engah.Ia sangat emosi sekali sekarang sehingga ia melupakan bahwa untuk mengetahui lelaki yang di maksud Hans ia butuh Hans untuk tetap hidup.
"Zi,Stop!." Benvolio dan Kim pun berusaha menenangkan atasannya itu.
"Kau membunuhnya,bagaimana kita tau orang yang dia maksud?"
"Aku tidak bisa mengendalikan emosiku.Maaf." Luzio mengusap wajahnya kasar.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut.Dan mayat mereka,Luzio memerintahkan anak buahnya untuk membakarnya saja.Seperti biasa,bagi Luzio mayat orang-orang seperti itu tidak layak di makamkan.
Kini mereka bertiga sudah berkumpul di sebuah ruangan yang mirip ruang tamu.
"Tuan,aku menemukan ini terjatuh sebelum membakar mereka.Ini berada baju Hans.Aku yakin ini bisa menjadi petunjuk" Ucap anak buah mereka sambil menyerahkan sesuatu.
Luzio mengambilnya barang tersebut.Ternayata itu adalah alat pelacak dan penyadap suara.
"Kim,bisa kau urusi ini?."
"Tentu bisa tuan." Jawab Kim lalu mengambil barang tersebut.
Mereka semakin di buat heran.Bagaimana bisa alat pelacak dan penyadap suara di pasang di tubuh Hans.
Kim lalu mengotak-atik laptop dan lalu mencolokkan sebuah kabel kecil ke alat tersebut sehingga terhubung ke laptopnya.
"Tuan,sepertinya alat ini berasal dari Mateo Group tuan."
Lagi,mereka terheran-heran.
"Damn!.Aku yakin ada orang dalam di balik semua ini." Ujar Luzio.
"Jika aku mendapat mereka,aku akan menggantung jasad mereka di kandang Leo."
Kim sibuk berkutat dengan laptopnya.
......................
Sementara di suatu tempat..
"Sialan!. Bagaimana bisa Hans mati begitu saja.Dan bagaimana bisa alat itu ketahuan."
Lelaki itu tampak geram.
...****************...
__ADS_1
Terimakasih yang selalu menunggu autor up dan yang selalu setia membaca karya autor.🤗
BORAHAE SEMUANYA 💜