
Pagi ini,keluarga inti di mansion keluarga Mateo sedang menikmati sarapannya.Dan seperti biasa Nicolette masih mengalami mual di pagi hari.Suaminya yang sudah terbiasa dengan hal itu memijit tengkuknya,setelah selesai lalu ia di beri obat pereda mual.Kali ini ia sungguh mual parah.
"Sudah Zi,aku tidak akan kenapa-kenapa.Kau berangkatlah nanti terlambat."
Luzio menggeleng,"Tidak sayang,bagaimana aku bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini."
"Zi,aku sudah tidak apa-apa, berangkatlah.Aku berjanji aku akan baik-baik saja." Ia berusaha menyakinkan suaminya.
Suaminya tampak menghela nafas.
"Iya,oke baiklah.Tapi berjanjilah untuk makan dan minum vitamin mu dengan teratur.Aku akan meminta Ashley untuk memantau mu.Jika bohong,kau tidak dapat sisi stroberi sayang." Kemudian suaminya langsung mengecup keningnya dan berangkat bekerja.
Nicolette mengantarkan suaminya sampai depan pintu.Benvolio sudah menunggu suaminya.
"Nah,Daddy berangkat dulu ya sayang.Kau jangan nakal ya,jangan buat mommy mu kelelahan." Ucap sang suami sambil mengelus perutnya.Nyaman sekali rasanya,hatinya menghangat.
"Aku berangkat dulu ya sayang,bye."
Mereka saling bertautan sebentar.Mereka melupakan bahwa di situ ada Luzio yang berstatus single.
Setelah itu suaminya berangkat.Nicolette kembali masuk ke dalam mansion.
......................
Mateo Group.
Luzio sedang duduk di kursi kebesarannya.Benvolio dengan cekatan membuatkannya kopi.Bagi Luzio, meminum kopi adalah kewajiban,jika tidak kepalanya bisa meledak-ledak karena pusing.
Mereka berdua tampak sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
"Bro, Bryan sudah mengirimkan E-mail hasil tes DNA Clarissa.Kau bisa membukanya lewat E-mail mu." Ucap Benvolio seraya menoleh ke arah sahabatnya itu.
Dengan cepat Luzio membuka E-mail tersebut.Luzio membacanya dengan teliti sampai air mukanya berubah.
"Ben,siapkan semua.Kau urus semuanya karena Clarissa memang benar anakku."
Luzio tertunduk.Ia bingung bagaimana nanti cara mengahadapi istrinya.Ia tidak mau jika istrinya harus menangis karenanya karena itu sangat menyakitkan baginya.
"Baiklah,bro." Benvolio kemudian keluar meninggalkan Luzio sendiri.Benvolio mengurus semuanya yang akan di terima Clarissa dan Helena.
Luzio kemudian memandang jari manisnya.Di situ cincin pernikahan mereka di sematkan.Masih terngiang di telinga saat ia dan Nicolette saling mengucap janji suci dan kini Luzio merasa bahwa ia telah mengingkarinya.
__ADS_1
Ia menyandarkan kepalanya di kursi kebesarannya.Kepalanya begitu sakit saat ini.Ia bahkan tidak bisa fokus mengerjakan pekerjaannya.
......................
Di rumah sakit.
Benvolio melaksanakan tugas dari sahabatnya itu.
Ia memasuki ruangan VIP itu dan pemandangan yang ia lihat masih sama.Perempuan malang yang terbaring di brankar dengan dua sosok yang setia menemaninya.
Menyadari Benvolio di ruangan itu,Helena mempersilahkannya duduk.Ia kemudian membuka pembicaraan.
"Jadi begini Nona,tuan Luzio mengutus saya untuk melaksanakan tanggung jawabnya,Nona."
Helena mengangguk pelan.
"Nah,nona bisa menandatangi ini.Sebelum itu Nona baca dulu." Ujar Luzio sambil menyerahkan lembaran kertas yang berisi surat perjanjian.
Iso surat perjanjian tersebut meliputi bahwa Luzio akan menanggung biaya hidup Clarissa meliputi biaya kebutuhan sehari-hari hingga pendidikannya dan akan memastikan Clarissa memiliki kehidupan yang layak nantinya dan itu akan di berikan berupa uang saat ini juga.Luzio juga akan menanggung biaya perawatan Helena sampai ia sembuh.
"Ah, ini sangat berlebihan sekali tuan.Aku minta maaf jika aku terkesan sengaja datang dan meminta bantuan.Tapi sungguh aku hanya ingin Luzio mengakuinya anaknya saja tidak berharap lebih." Elena tampak menangis dan Benvolio bisa tau bahwa tangisan Elena adalah murni tangisan rasa bersalah bercampur haru.
"Ini tidak berlebihan, Nona.Tuan Luzio dengan suka rela memberikan semuanya." Jawabnya lalu tersenyum.
"Ah kalau begitu saya harus berani dengan tuan Luzio dulu.Saya pamit dulu Nona,besok saya akan kesini lagi." Benvolio lalu keluar dari ruangan itu.
......................
Mansion keluarga Mateo.
Waktu cepat sekali berlalu.Nicolette melirik jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore.Itu tandanya ia harus mandi.
Setelah mandi ia memilih memakai baju tidur model Chemise dengan outer panjang.Ia bercermin sebentar melihat pantulan dirinya.
"Uh,pipiku agak chubby."Gumamnya pelan sambil memegangi pipinya.
Tak lama kemudian, suaminya masuk.
"Hi, baby." Sapa sang suami sambil tersenyum.
Nicolette lalu membantu membantu menaruh tas suaminya itu dan melepaskan sepatunya.
__ADS_1
"Tidak usah sayang,aku bisa melepas sepatuku sendiri." Ia di tarik oleh suaminya agar berdiri.
"Ya sudah kalau begitu.Kau mandi dulu ya,setelah itu kita makan malam." Tuturnya kepada sang suami.
Luzio lalu membersihkan dirinya.Setelah ia salin, mereka turun ke bawah untuk makan malam.
Mereka berdua makan malam dengan lahap,terlebih lagi Nicolette.Semenjak ia mengandung,nafsu makannya meningkat.Wajar bukan jika tubuhnya sedikit berisi.
Setelah makan malam,pasangan suami istri itu kembali ke kamar.
......................
Di kamar utama.
Nicolette duduk bersama sang suami di balkon sambil menikah susu stroberi.
"Sayang,aku ingin berbicara sesuatu.Tapi berjanjilah jangan bersedih oke."
"Aku sudah tau apa yang akan kau bicarakan,Zi." Ia kemudian tersenyum getir.
Suaminya kemudian memegang erat kedua tangannya lalu duduk bersimpuh dengan posisi ia sedang duduk di kursi.
"Sayang,aku sungguh minta maaf.Aku tau aku ini bereng-sek sekali.Tapi sungguh saat ini aku hanya ingin kita selalu bersama dan baik-baik saja.Kau boleh melakukan apapun tapi jangan hukum aku dengan cara kau pergi.Tetap lah di sisiku dengan segala kekurangan ku ini."
Nicolette memang suaminya itu.Wajah suamiku memang sangat kacau dan mencerminkan bahwa memang ia tidak ingin di tinggalkan.
Ia berusaha kuat dan tegar di hadapan suaminya.
"Hentikan Zi,aku sudah memaafkan mu.Asal kau mau mengakui anakmu itu sudah cukup bagiku,Kalian sudah terbukti berbagi DNA yang sama dan aku tidak mau menjadi wanita egois yang akan melarang kau mengakui anakmu.Tak mengapa Zi,aku menerima mu apa adanya.Aku tidak akan pergi hanya karena satu kekurangan mu.Aku mencintaimu jadi berhentilah seperti ini.Aku benci ketika Luzio yang dingin,garang dan posesif terlihat menyedihkan seperti ini."
Nicolet meraih rahang tegas suaminya itu.Ia berusaha menenangkan suami.Ia tau Luzio pasti merasa sangat bersalah sekarang.
"Besok aku mohon izinkan aku bertemu Clarissa ya.?" Ia memohon dengan suaminya itu.
"Aku tidak tau hatimu terbuat dari apa sayang,aku begitu bersyukur memiliki istri yang memiliki hari lembut dan pemaaf sepertimu.Baiklah besok kita kesana bersama-sama." Balas suaminya itu.
Mereka kemudian merapatkan kening lalu saling bertaut lidah sekilas.
Nicolette paham bahwa ia tidak boleh egois.Ia telah memutuskan untuk menjadi bagian dari suaminya dan itu berarti ia harus menerima semua kekurangan dan kelebihan suaminya.
...****************...
__ADS_1
Halo guys,singkat saja author mumet😇
But,love you semuanya💜