
Ketika hati sudah menetapkan
Ketika perasaan sudah terobsesi
Ketika otak berfikir untuk memiliki
Kau harus menjadi milik ku
________________________
Ciuman itu berlangsung tidak lama. Mungkin hanya bisa di bilang cuma lima detik saja. Sebentar namun sangat membekas di benak Erick.
Wajah Erick memerah padam. Panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Erick membatu di tempat.
"Sini Tata priksa suhu tubuh krik-krik. Mukanya makin merah gitu"
Cinta menempelkan telapak tangannya ke jidat Erick. Dan Erick hanya pasrah dengan apa yang Cinta lakukan. Saat ini Erick tidak dapat berfikir dengan jernih.
Cinta menarik tangan Erick, namun Erick tidak beranjak dari tempatnya. Erick sama sekali tidak mau pergi ke rumah sakit.
Karena saat ini Cintalah yang membuat suhu tubuh Erick memanas. Bukan demam dia yang semakin menjadi.
"Tangan lo yang dingin Ta"
Erick mengeluarkan suaranya setenang mungkin dan mencoba mengontrol dirinya. Cinta yang terpengaruh pun sibuk memeriksa tangannya yang panas atau dingin.
Dan benar saja tangan dia dingin. Erick kembali berbaring di kasurnya. Dan Cinta mengikuti Erick, ia ikut berbaring di samping Erick. Namun rasa khawatirnya tidak hilang.
__ADS_1
Bagaimana jika Erick sakit parah? Sakit komplikasi? Tidak bisa sembuh?
Itu lah yang menjalar di pikiran Cinta saat ini. Akhirnya dia duduk di perut Erick saat itu juga. Mencoba memeriksa suhu tubuh Erick dengan dahinya.
"Cuma mimpi" batin Erick meyakinkan dirinya sendiri
Cinta meletakan telapak tangannya ke dua sisi wajah Erick untuk menyeimbangkan berat tubuhnya dan memendekatkan wajahnya dengan wajah Erick. Jidat mereka pun bertemu.
Tubuh Erick semakin panas, karena ulah Cinta. Mata Erick trus melihat ke arah Cinta dengan intens. Lebih tepatnya melotot karena tidak percaya dengan apa yang cewe itu lakukan kepadanya.
Cinta menutup matanya, merasakan suhu tubuh Erick. Bulu matanya sangat indah dan lentik. Deru nafas Cinta bisa di rasakan oleh Erick. Akibatnya Erick menahan nafas sekuat mungkin.
Ceklek!
Suara pintu terbuka, membuat Erick menoleh ke sumber suara. Namun Cinta tidak merasa terganggu akan hal itu dan tetap di posisinya.
"Eriiiiiiiiick!!" Teriak Rose mama Erick ketika melihat apa yang anaknya sedang lakukan.
Erick pun di marahin karena kajadian barusan. Erick lah yang tuduh mempengaruhi otak polos Cinta, menyuruh Cinta melakukan hal-hal aneh. Padahal Erick sendiri di buat kaget dengan kelakuan Cinta.
Cinta asik menonton anime yag tersedia di leptop Erick, sambil memakan Ice cream dengan nikmatnya. Tanpa memperdulikan Erick.
Entah kenapa Erick sangat jaga jarak dengan Cinta, dengan mukanya yang kembali memerah.
"Ta, kenapa lu cium gue?" Tanya nya to the point. Kejadian tadi membuat dia memikirkan hal yang tidak-tidak
"Cinta pernah liat di drama korea, kalo lukanya di cium bisa sembuh krik. Erick kan demam Cinta bingung mau cium apa nya. Cinta cium bibir aja deh. Mungkin bisa lebih mujarap" jawabnya Enteng dan kembali melanjutkan aktifitasnya
__ADS_1
"Kenapa gue ****, berharap ama duplikat patrick star" batinnya frustasi
\= My Lemot Girl \=
Cewe itu baru saja kembali setelah pergi ke minimarket. Terdengar suara gelas yang bersentuhan dengan kaca di meja dapur di rumah tersebut.
Dia sudah mengira siapa yang ada di sana saat ini. Sehingga dia terus melangkah dengan santainya ke arah kulkas untuk menaruh belanjaannya tadi.
Tidak merasa takut akan seseorang yang bisa saja merenggut nyawanya saat ini juga. Dia hanya bersikap seolah cowo itu hanyalah angin lalu baginya.
"Lo lukain diri lo lagi?" tanya nya to the point
"Bukan urusan lo!"
Jawab cewe itu dengan menekan seluruh kalimatnya. Dia sangat tidak suka ketika cowo itu terus saja mencampuri urusannya.
"Mau sampe kapan lo jadi cewe masokis? Otak lo di pake buat gak rusak diri lo sendiri Can!" Tegasnya
"Pergi!!" Bentaknya
"Tanpa di suruh pun, gue gak mau lama-lama di rumah busuk lo ini!"
Cowo tersebut pun pergi meninggalkan rumah sepi nan gelap gulita itu. Sepi, sangat sepi. Remah yang sangat misterius dengan segudang keanehan yang ada.
********
Jgn lupa like and coment
__ADS_1
See you next time
-Red Eyes