
"Kak"
Cinta terlihat bingung saat ini, sebenarnya apa yang terjadi kepadanya. Kenapa teman-temannya tidak ada disini satupun. Dan Erick, dimana cowo itu saat ini. Kenapa dia tidak ada di sisi Cinta?
Padahal Erick sudah berjanji kepadanya akan selalu di samping Cinta dan menjaga Cinta. Tapi mana buktinya? Erick tidak ada disini
"Iya kenapa Ta? Ada yang sakit? Kakak panggilin dokter ya"
Dylan terlihat panik saat ini, ia takut terjadi sesuatu kepada Cinta. Walaupun dokter sudah mengatakan jika Cinta sudah baik-baik saja dan hanya perlu istirahat sebentar. Lalu setelah benar-benar pulih Cinta sudah bisa pulang.
"Kakak kanapa si, Tata baik-baik aja. Gak usah lebay gitu ih, malu-maluin"
"Kakak cuma khawatir, maaf"
Cinta terkekeh karena ekpresi kakaknya saat ini. Menurutnya itu sungguh lucu, tidak biasanya Dylan bertingkah imut seperti sekarang ini.
"Kak, be the way temen-teman sama Erick dimana? Kok gak ada yang jenguk Tata sih"
Keluhnya sebal, bagaimana bisa teman-temannya sejahat ini kepadanya. Cinta baru saja bangun dari tidurnya, seperti snow white bukan kebo ngepet.
"Awas aja entar kalo Tata ketemu mereka, Tata hanjar mereka semua karena gak jegukin Tata"
Cinta tertawa geli dengan imajinasinya sendiri, dia sudah tidak sabar bertemu dengan sahabatnya itu. Atau mungkin mereka sedang menyiapkan hadiah untuk Cinta, hal tersebut tidak ada yang tau kebenarannya.
"Tapi Tata pengen ketemu mereka kak, Tata kangen kelakuan mereka semua"
Ekpresinya sedikit murung, namun dia benar-benar ingin bertemu dengan semua sahabatnya. Dia rindu akan pelukan dan kehangatan itu.
"Tata lupa?"
Ekpresi Dylan berubah drastis, dia seakan kaget dengan apa yang baru saja Cinta katakan dan dia ragu jika Cinta lupa hal yang paling menyakitkan baginya.
Cinta mengerutkan dahinya tidak mengerti maksud Dylan. Apakah Cinta amesia?
Tapi dia merasa jika dirinya baik-baik saja. Tidak ada yang ia lupakan, dia mengingat betul semuanya. Tidak terlewat satupun.
"Tata korban bully, Tata koma karena terakhir kali bully habis-habisan dan..."
Dylan tidak ingin melanjutkan kalimatnya, dia tidak tega harus membuka luka lama Cinta kembali. Apa seharusnya dia tidak mengatakan apa pun?
Namun semua sahabat yang Cinta ceritakan tidak pernah ada, bagaimana Dylan harus menjelaskannya?
"Gak mungkin kak, Tata punya sahabat. Namanya Bella, Ines, Galuh, Kevin dan yang paling penting Erick kak. Erick sahabat dari kecil Tata, masa kakak lupa sama Erick"
Jelas Cinta menggebu-gebu mencoba agar kakaknya percaya kepadannya. Atau Dylan-lah yang amesia saat ini.
"Kalo Tata korban bully kenapa gak ada bekas luka apa pun?"
Cinta menunjukan kedua tangannya dan kakinya terlihat baik-baik saja, namun tidak dengan pergelangan tangan kiri Cinta. Terdapat bekas luka yang cukup parah.
"Sebagian lukanya udah ilang Ta, udah satu tahun. Tapi bekas itu yang paling parah, yang membuat Tata kehabisan darah. Belum lagi kepala Tata kebentur membuat Tata koma"
Jelas Dylan agar Cinta mengerti, jika sahabatnya itu tidak pernah ada dan ceritanya nyata. Bukan hanya bualan semata.
__ADS_1
"Gak mungkin! Tata punya sahabat, mereka sayang banget sama Tata. Luka ini gara-gara Cantika waktu itu kak, sekarang Cantika udah di urus sama Bian. Bian itu mantan Tata kak, inget kan?"
Air mata Cinta lolos tanpa ada hambatan, dia yakin sahabatnya itu ada dan dia bukanlah korban bully. Dia sangat bahagia, dan senang. Bagaimana mungkin hal yang selama ini dia lakukan itu tidak nyata. Itu bohong.
"Terus Erick sahabat kecil Tata, dia sayang banget sama Tata. Dia janji akan jagain Tata terus, lindungin Tata dan gak akan ninggalin Tata"
Jelas Cinta agar kakaknya mengerti jika yang dia ceritakan ini benar adanya, dia tidak mengarang apa pun.
Cinta terus terisak, dia tidak bisa bisa melanjutkan kalomatnya kembali. Tapi dia akan terus menceritakan kepada Dylan apa saja yang sudah ia lakukan dengan sahabatnya itu.
"Bella sama Ines sahabat Cinta yang absurd banget kak, Galuh sama Kevin itu temennya Erick mereka seru banget. Kita udah laluin banyak hal bareng kak, Cinta seneng banget"
Dylan memeluk Cinta agar cewe itu tenang. Dia tidak tega melihat adiknya menangis seperti ini. Dia tidak tau harus melakukan apa.
"Iya Ta, kakak percaya sama Tata. Tata gak mungkin boongin kakak, istirahat ya"
"Cinta mau ketemu mereka. Pokoknya Cinta mau ketemu mereka sekarang!" Bentak Cinta
Dia terus meronta-ronta agar Dylan melepaskan pelukannya. Cinta ingin mencari sahabatnya sendiri, dia ingin bertemu dengan mereka semua.
Semua seakan nyata
Semua seakan bahagia
Tapi kenapa ini hanya ilusi semata?
Sangat menyesakan bagi Cinta untuk kehilangan semuanya. Ini adalah mimpi buruk terbesar Cinta, dia ingin semuanya kembali seperti dulu lagi. Dia ingin waktu dimana dia bercanda dengan teman-temannya.
Seorang cowo masuk kedalam ruangan cinta dengan nafas yang tidak beraturan, hal tersebut sudah menjawab pertanyaan di benak Dylan. Jika dia baru saja berlari.
Cinta semakin meronta dan terisak, dia ingin mendekat kearah Galuh saat ini. Namun Dylan tidak membiarkan hal tersebut.
"Galuh! Erick dimana?" Teriak Cinta tak lupa dengan isakannya
Cowo tersebut pun meninggalkan ruangan Cinta. Entah kemana dia pergi, namun Dylan tau apa yang akan cowo itu lakukan saat ini.
"Galuh jangan tinggalin Tata" tanggisnya semakin pecah saat ini
"Kakak kenapa sih, Tata mau ketemu sama Galuh itu kak. Tata mau tanyain temen-temen ada dimana"
Dokter-pun datang dengan tergesa-gesa, mereka langsung saja menyuntik Cinta dengan obat penenang. Dan membuatnya tertidur....
\=My Lemot Girl\=
"Putri tidur udah bangun" ucap cowo itu sangat lembut seraya mengacak rambut Cinta.
Cinta membenarkan posisinya menjadi duduk, lebih tepatnya sekarang swdang memeluk kedua kakinya.
"Galuh, Erick dimana?" Ekpresinya sangat sedih saat ini, membuat cowo itu benar-benar tidak tega.
"Dari mana lo tau tentang Erick?"
Sebenarnya Galuh sudah sejak tadi kaget sewaktu Cinta tidak terkendali. Dia pikir dia salah mendengar, namun ternyata Cinta benar-benar mencari Erick.
__ADS_1
Erick adalah kakak tiri Galih, karena ibu Galih menikah kembali dengan
"Galuh, dimana Erick? Tata mau ketemu"
Mata Cinta mulai memanas, air matanya pun mengalir bebas tanpa ada suatu halangan. Namun cowo itu tidak mengerti, bagaimana Cinta salah menyebut nama cowo itu.
"Ta, gue bukan Galuh. Gue Galih. Dan Erick udah gak ada, dia udah meninggal sejak lama"
Galih menunduk, dia tidak tega melihat air mata Cinta terus mengalir semakin deras. Dia ingin sekali memeluk cewe dihadapannya saat ini. Tapi keberaniannya tidaklah sebesar itu.
"Gak mungkin.. Erick udah janji sama Tata.. dia gak akan ninggalin Tata, akan selalu sama Tata... Dia juga bilang akan selalu jagain Tata, gak mungkin dia ninggalin Tata. Ini boong, Tata gak percaya"
Air mata, raungan dan isakan berpadu menjadi melodi yang menyesakan bagi Cinta saat ini. Bagaimana mungkin ini terjadi begitu saja, Cinta masih ingin bersama Erick. Dia ingin melakukan banyak hal dengan Erick. Tapi kenapa?
Kenapa?
Semua berakhir begitu saja.....
Galih-pun memeluk Cinta dengan sangat erat, bahkan melonggarkan sedikit saja Galih enggan. Dia ingin mencoba memenenangkan tunangannya itu. Dia tidak ingin melihat Cinta seperti ini.
Waktu terus berjalan. Detik demi detik, menit demi menit, dan jam demi jam terus berlalu. Namun Cinta seperti tertahan oleh waktu. Dia terlihat sehat, dia terlihat senang jika sedang bersama orang lain.
Walau pada dasarnya, hati dan pikiran tidak berada di tempatnya. Bagaikan zombie. Mental Cinta benar-benar down saat ini, tidak ada yang bisa mengobatinya.
Saat ini Cinta tengah terduduk di kursi taman rumah sakit, dia duduk dengan tatapan kosong. Sesekali air matanya mengalir di iringi isakan.
Cinta sedang tidak ingin diganggu, membuat Galih mengawasi Cinta dari jauh.
Dokter mengatakan jika tubuh Cinta tidak dapat menerima pembullyan yang terjadi waktu lalu. Otaknya seperti di program untuk menciptakan sahabat impiannya secara imajinasi ketika koma.
Pada saat koma, Cinta seperti merasakan berada di tempat impiannya. Itulah yang membuat Cinta bingung dengan keadaan sekarang ini. Dia bingung membedakan mana halusinasi dan mana realita.
Hujan turun begitu derasnya. Membuat Dylan yang baru saja tiba di samping Galih ingin mendekati Cinta. Namun hal tersbut galih tahan, Cinta tidak akan terkena demam. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri.
Rintikan air hujan sudah membasahi tubuh mungil Cinta, namun cewe itu tidak bergeming dari duduknya sama sekali. Tatapannya terus kosong, semangat hidupnya seperti sudah berakhir saat ini.
Air yang menetesi tubuh Cinta seakan berhenti, namun hujan masih belum reda. Cinta pun mendongakan kepalanya keatas.
Di lihatnya payung merah yang ia kenali, cowo yang memegang panyung tersebut tersenyum dengan sangat lebar.
Sangat tampan dan begitu mempesona. Membuat Cinta menangis sejadi-jadinya saat itu juga. Dia sangat merindukan cowo di hadapannya saat ini, dia tidak ingin melepaskannya.
"Erick Tata kangen banget" serunya dengan sangat lantang di iringi isakan tangisnya.
Cowo itu hanya diam membeku tidak mengerti apa yang terjadi dengan cewe di hadapannya itu.
.....Takdir memang suka bercanda...
********************
Terimakasih yang sudah membaca My Lemot Girl dan mendukung cerita ini.
Salam manis
__ADS_1
-Red Eyes