
Debaran jantung begitu kuat
Diri ingin pergi
Namun perasaan terus ingin menetap
____________________
"Kita mau kemana?" Tanya Ines bingung dengan jalan yang belum pernah dia lalui sebelumnya.
"Cari sesuatu yang menarik" jawab Galuh datar dan terus fokus menyetir mobil tersebut.
Apakah ini bisa di sebut kencan?
Entahlah namun saat ini jantung Ines tidak bisa diam sedikit pun. Sampai Ines takut jika Galuh sampai mendengarnya. Itu sangat memalukan
Pipi Ines terus merona dan jantungnya tak henti-hentinya berdebar dengan cepat. Bagaimana bisa ini terus berlanjut. Padahal Galuh tidak melakukan apa pun kepada Ines.
Ines pun memainkan benda pipih miliknya. Semoga saja itu membuat dia sedikit tenang. Ines pun mulai chattingan dengan Bella.
》Bellek《
Bell gw g deg"an bgt dari tadi Bell
Inikah cinta?
Lo idup *****
Kn gw lg sama Galuh dih. Gara" dia ini-,
Gw jamin dia gk ngapa"in lo, jgn kepedean
Butuh 1000thn lg dia suka sama lo. Ini masih kecepeten
__ADS_1
Kuping gw blur
Nyesel gw chat lo panu monyet
Ines pun menutup ponsel miliknya dan menyimpan kedalam tas lagi. Dia agak sebal dengan Bella, bagaimana mungkin dia mengatakan Galuh tidak menyukai dirinya.
Sebenarnya sebelum kencan ini terjadi. Ines sudah menceritakan semuanya kepada Bella dan Cinta. Reaksi mereka sangat menyebalkan tentunya.
Bella yang tertawa sangat kencang dan Cinta yang berekpresi srius seraya menenangkan Ines, karena Galuh tidak mungkin menyukainya.
Harusnya Bella dan Cinta mendukungnya. Itu yang namanya teman. Ya, benar seperti itu.
Mobil itu terus melaju kearah tempat yang begitu sepi di pinggiran kota. Galuh tidak mengatakan sepatah katapun selama perjalanan.
Tak lama Galuh menghentikan mobil di sebuah cafe yang tak ramai pengunjung. Perjalanan tersebut memakan waktu selama 1 jam.
Ines dan Galuh duduk di pojok cafe tersebut. Nuansa disana elegan dan romantis tentunya. Membuat Ines senang dan tegang.
Jantungnya tidak ada tanda-tanda akan tenang untuk saat ini.
Dengan ragu-ragu Galuh memulai percakapan dan Ines pun menatap Galuh dalam-dalam. Seakan mengalihkan pandangan seperkian detik saja, membuat Galuh menghilang dari hadapannya saat ini juga.
"Gue tau apa yang lo pikirin" terlihat Galuh sangat srius kali ini. "Sorry, gue anggep lo gak lebih dari adek gue. Gue sayang sama lo tapi sekedar kakak ke adeknya"
Kaget? Ya.
Bagaimana bisa Galuh mengetahui semua ini? Apakah ada yang membocorkannya? Entahlah Ines tidak dapat berfikir saat ini.
"Gue tau sendiri kalo itu yang lo pikirin. Gue gak tau perhatian dan sayang gue ke lo bikin lo suka sama gue. Gue anggep lo sebagai adik gak lebih"
Sorot mata Galuh sangat teduh dia benar-benar tidak tau jika perlakuannya terhadap Ines bisa membuatnya salah paham.
"Gue punya seseorang yang gue sukai. Tapi butuh waktu 10.000 tahun buat gue bisa sama dia. Jadi sorry kita sebatas kakak dan adek doang, gak lebih"
__ADS_1
Galuh tampak sangat bersalah saat ini. Dia tidak ingin Ines terluka karenanya. Dia sudah menjaga Ines dengan baik dan tidak ada yang berani melukainya. Tapi saat ini Galuh sendirilah yang melukai Ines.
Dan itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Galuh ucapkan dan begitu menyakitkan bagi Ines. Sangat menyakitkan. Ines hanya bisa diam dan menahan tangis saat ini.
_______________________________
Perhatian bisa di salah artikan
Karena sayang bukan berarti cinta
_______________________________
Galuh pergi ke tempat dimana ada cowo sedang duduk sendirian. Entah apa yang sedang mereka berdua katakan. Namun terlihat begitu serius.
Atau mungkin dia adalah orang yang Galuh sukai. Jika benar seperti itu Galuh adalah seorang gay. Ines menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Jadi selama ini dia menyukai cowo gay?
Dia tidak habis pikir. Ines sangat *****
Galuh pun kembali dan menghabiskan makanan yang baru saja di sajikan tidak ada percakapan lagi di antara mereka saat ini. Sangat canggung
Ines berjanji pada dirinya sendiri jika dia akan menjaga rahasia terbesar Galuh saat ini.
"Gue dapet info soal Bian" srius Galuh
********
●| Ines Narandy
●| Galuh Diawang
__ADS_1
See you next time
-Red Eyes