
Bian keluar dari mobilnya dan menatap kesegala arah. Tempat yang sangat jarang di lalui seseorang, bahkan beberapa hewan terlihat bermunculan dengan cepat lalu pergi bersembunyi.
Bangunan yang tidak terselesaikan, beberapa sampah berserakan, dan debu yang tebal pun ikut menghiasi ruangan tersebut.
Cowo itu duduk dengan tenang di jendela, dan memandang keluar arah. Entah apa yang sedang cowo itu perhatikan, Bian tidak perduli akan hal itu.
Dia menoleh merasakan kehadiran Bian. Tatapan mata tajam bak ingin membunuh mangsanya dan aura yang mencekam menyelimuti tubuhnya.
Bahkan Bian tidak tau namnya bahkan apa hubungan dia dengan Cinta. Bian sangat penasaran akan hal itu, saingannya bertambah seiring waktu.
Bulu kuduk Bian berdiri merinding. Entah bangunan ini yang memang ada sesuatu atau cowo itu lah penyebabnya.
"Jauhin Tata!" Perintah mutlak dan begitu mengintimidasi
"Bukan urusan lo! Lo gak berhak atur-atur gue, lo bukan siapa-siapa Cinta"
Dylan tersenyum remeh, beraninya cucunguk sialan ini membuatnya kesal. Haruskah Dylan mematahkan sebelah kakinya? Atau di mulai dari tangannya terlebih dahulu?
Kita putuskan setelah bertarung!
Dylan mendekat ke arah Bian, dengan sigap Bian memasang kuda-kudanya. Dia siap bertarung saat ini untuk merebutkan Cintanya. Seseorang yang pertama kali meluluhkan hati baja Bian, bisa di bilang Bian tidak pernah jatuh cinta selama ini.
Hanya Cinta lah yang dia cintai. Bian harus berjuang untuk cinta pertamanya, dia sangat menginginkan Cinta.
Dylan berhasil memukul perut Bian sekencang mungkin, terlihat jika Bian sangat kesakitan kali ini. Dia harus bertahan dan mencoba menyerang cowo di depannya.
__ADS_1
Beberapa pukulan sudah di layangkan Dylan, dan Bian belum berhasil melukai Dylan seujung kuku pun. Membuat Bian kesal dengan diri sendiri.
Bagaimana mungkin Dylan tidak memiliki celah untuk di pukul, dan dirinya terus terluka karena pukulan Dylan.
Bian sudah cukup kelelahan saat ini. Padahal waktu berjalan baru lima belas menit, dan Dylan sendiri masih terlihat bugar.
Sedangkan Bian sudah babak belur di hajar oleh Dylan. Memar di wajahnya, luka di tubuhnya tidak membuat Dylan berhenti saat ini. Dia benar-benar ingin membuat Bian patah tulang.
"Lo gak akan bisa kalahin gue! Lo lemah! Pertahanan lo ada 150 celah gue bisa habisin lo! Dan gue udah kasih kesempatan 50 kali buat lo pukul gue. Tapi apa? Lo gak bisa!"
Itu benar adanya, Bian tidak bisa mengalahkan Dylan. Tapi satu pukulan saja rasanya sudah mewakilkan semua yang Bian rasakan.
Dylan melambungkan mukulannya di rahang Bian membuat empunya kesakitan dan terpojok saat ini. Dia sudah tidak bisa berkutik.
"Gue abangnya Tata. Jauhin, atau lo mati sekarang!"
Wajar bukan jika Dylan seperti ini karena adiknya?
Wajar bukan jika Bian babak belur seperti ini?
Ini karena salahnya sendiri! Salahnya karena mempermainkan Cinta
Salahnya karena membuat cewe itu terluka! Inilah balasannya untuk bian
Dia harus menerima ini semua tanpa perlawanan. Ini hukuman baginya
__ADS_1
Dylan berhenti memukul Bian begitu saja, amarah masih terus menyelimuti Dylan. Namun entah apa yang membuat cowo itu berhenti.
"Bangun lawan gue!"
Dylan tipe cowo yang tidak akan mrnyerang jika lawannya tidak memasang kuda-kuda. Dia tidaklah sepengecut itu untuk melakukan eksekusi.
"Gue pantes di pukul, pukul aja sepuas lo. Tapi inget satu hal, gue gak akan jauhin Cinta" putusnya sangat yakin.
Membuat Dylan kalap dan menghantam tembok begitu sajabtampa pikir panjang. Tampak darah keluar dengan bebasnya, namun Dylan tampak tidak merasakan sakit sedikit pun.
"Jauhin Cinta *******!" Triaknya menggebu-gebu dan sangat mengintimidasi
"Gak akan gue jauhin Cinta! Gue akan lindungin dia sebisa gue dan gue akan bikin dia bahagia apa pun caranya! Gue sayang sama dia sampe gua jatuh cinta sama dia. Gila gue benaran suka sama dia!"
Kesalnya Bian pada dirinya sendiri karena telah mempermainkan Cinta. Bagaimana bisa dia sebego ini, dia tidak akan melakukan kedalahan kedua kalinya.
Dia benar-benar ingin menjaga cewe itu. Walau akhirnya dia akan bersama orang lain, namun Bian akan tetap manjaga dan membuatnya bahagia.
Dylan melihat sorot mata Bian yang serius akan hal itu. Terlihat jika Bian sangat jujur saat ini dan Dylan mempercayai itu semua. Namun jika Cinta terluka kembali karena Bian, dia tidak segan-segan untuk membunuh cowo itu.
Dylan pun meninggalkan Bian dan pergi begitu saja. Dan Bian tetap merenungi apa yang telah ia lakukan kepada Cinta.
****
See you next time
__ADS_1
-Red Eyes