My Lemot Girl

My Lemot Girl
39.0 | Putri Tidur


__ADS_3

Sudah satu tahun sejak kejadian tersebut. Tidak ada senyum yang tercetak di wajah semua orang. Begitu suram dan tak dapat di gambarkan.


Mata panda Ayu yang mendominasi sudah menjelaskan apa yang menimpa wanita paruh baya tersebut. Dylan yang sekarang berada di samping ibundanya, tampak tidak tega.


"Ma, biar Dylan yang jagain Tata. Mama pulang aja" lembutnya


Tampak jika Ayu tidak setuju akan hal tersebut, dia ingin terus berada di samping putri kecilnya itu. Hatinya terasa teriris-iris melihat putrinya itu terbaring tak berdaya selama satu tahun terakhir.


Dia ingin kembali melihat putrinya tertawa dan bahagia seperti dulu lagi. Ayu merindukan saat-saat tersebut.


Dia sangat enggan menjauh dari putri kecilnya tersebut. Dia selalu ingin berada di sampingnya dan terus menjaganya. Dia tidak ingin Cinta terluka kembali.


Namun dengan berat hati Ayu pun meninggalkan ruangan tersebut. Dia harus mengisi tenaganya kembali untuk menjaga Cinta.


Dylan duduk di tempat yang Ayu duduki barusan. Dylan menggenggam telapak tangan Cinta dengan sangat hati-hati, takut jika Cinta akan terluka oleh aktifitasnya tersebut.


"Ta, kakak kangen. Bangun dong, entar kakak beliin semua yang Tata mau. Abang janji" sendunya pasrah dengan keadaan Cinta saat ini.


Tak lupa alat-alat untuk menyongkok hidupnya pun melekat di tubuh mungil itu.


Trouble sedikit saja, nyawa Cinta lah yang menjadi taruhannya. Tanpa alat tersebut, Cinta tidak dapat bertahan sampai sejauh ini.


Dylan meratapi wajah cantik Cinta yang seperti sedang tertidur dengan lelapnya.


Alih-alih, memori tentang kebersamaan Dylan dan Cinta berputar di otak Dylan. Jujur, dia benar-benar merindukan adik manisnya ini. Dia ingin semua kembali seperti semula sebelum Cinta mengalami kecelakaan.


Dia sangat bodoh!


Air mata Dylan lolos tanpa ada suatu penghalang apa pun, hatinya benar-benar terpukul selama Cinta berbaring lemah di tepat tidurnya. Penyesalan, amarah tak terbendung lagi.

__ADS_1


Hanya karena dia tidak dapat melindungi Cinta adalah bumerang bagi Dylan untuk tetap bersikap dewasa atau dia akan berakhir.


Jari-jari Cinta mulai bergerak sedikit demi sedikit, walaupun mata Cinta belum terbuka sedikit pun.


Dylan mengusap air matanya kasar, dia kembali melihat Cinta dan menggenggam telapak tangannya.


Dylan sadar dan langsung menekan tombol darurat, agar dokter dapat segera datang ke ruangan Cinta.


Benar saja, dokter terlihat baru saja berlari menuju ruangan Cinta. Dengan segera menanyakan apa yang terjadi dan terus memeriksa keadaan Cinta.


Dylan pun di suruh menunggu di luar ruangan, dia berharap jika Cinta akan bangun hari ini. Dia sudah tidak sanggup lagi melihat ibundanya murung, apa lagi melihat Cinta yang terus berbaring tidak ada perubahan selama ini.


Dokter pun keluar dari ruangan tersebut, namun Cinta tetap tidak ada perubahan sedikit pun. Tapi dokter memarahi Dylan karena memencet tombol seenaknya sendiri, tombol itu hanya di gunakan dalam keadaan yang benar-benar darurat.


Rasa senang Dylan hanya sementara saja, dia sudah sangat frustasi saat ini. Dia tidak tau akan melakukan apa.


Dia pun masuk kembali untuk menjaga Cinta. Hari semakin larut membuat Dylan tertidur begitu pulas....


Dia mendongak kearah jam dinding, ternyata sudah jam setengah delapan. Bagaimana bisa dia bangun begitu siang, bolos kuliah adalah jalan ninjanya.


"Kak" cicitan suara lembut dan sangat pelan, membuat Dylan tidak yakin dengan apa yang ia dengar saat ini.


Cinta masih tertidur, namun dia memanggil dirinya, dia harus memastikannya dengan benar.


"Tata, abang disini sayang. Bangun udah siang"


Cinta pun membuka matanya perlahan-lahan, matanya menyipit karena sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela.


Dylan kaget akan hal tersebut, langsung saja dia menekan tombol darurat untuk kedua kalinya. Tidak perduli jika dia akan dimarahi dokter seperti kejadian tadi malam.

__ADS_1


Kejadian tadi malam pun terulang kembali, namun Dylan sangat berharap hasil kali ini berbeda dari tadi malam. Dia yakin jika Cinta sudah sembuh.


Begitu juga Ayu yang saat ini sudah berada di samping Dylan. Dia menceritakan apa yang terjadi dan membuat Ayu untuk cepat datang ke rumah sakit. Mereka sangat senang saat ini.


Dokter keluar dari ruangan tersebut, dan membawa kabar baik untuk Dylan, Ayu dan juga Zick ayahanda Cinta.


"Keadaan Cinta sudah membaik saat ini, dia akan segera di pindahkan ke bangsal" 


Rasa senang itu menyeruak di hati mereka, hari yang mereka tunggu-tunggu selama satu tahun terakhir, akhirnya datang juga. Cinta sudah pulih, dan akan kembali kepada mereka.


Air mata bahagia mengalir deras di pipi Ayu. Putri kecilnya telah kembali, akan kembali mewarnai hidupnya.


Dan Dylan sudah tidak sabar akan bertemu dengan adik kesayangannya itu, dia akan lebih memanjakan dan mengabulkan semua keinginan Cinta.


Sedangkan Zick, hanya diam dan tersenyum. Dia tidak tau harus melakukan apa, pada dasarnya dia sangat senang. Begitu senang.


Mereka pun sampai di ruangan Cinta, dan dokter mengatakan jika Cinta akan terbangun kembali saat jam dua belas siang.


Waktu terus berjalan, Ayu sudah tidak sabar melihat Cinta terbangun. Dia terus mondar-mandir di dalam ruangan Cinta.


Cinta-pun membuka matanya perlahan, Ayu yang melihat hal tersebut pun langsung mendekat kearah Cinta.


"Erick" panggil Cinta sangat pelan


"Erick"


****


See you next time

__ADS_1


-Red Eyes


__ADS_2