My Little Hero

My Little Hero
11


__ADS_3

Sebelum terlelap sepenuhnya Juju mendengarkan semua perkataan ayahnya yang dia bisikkan padanya, ia semakin bertekad untuk menyatukan keduanya. Matahari mulai muncul cahayanya mengusik mata Juju yang masih betah dengan alam tidurnya. Tiba-tiba ia terperanjat ketika sebuah aroma enak menusuk indera penciumannya. Ia bangun dari tidurnya dan membawa kakinya pergi mencari sumber aroma tersebut.


"Selamat pagi,"


"Selamat pagi Ayah," timpalnya, berjalan kearah meja makan dan menaiki sebuah kursi. Matanya berbinar melihat berbagai hidangan lezat yang sudah tertata rapih di atas meja.


"Apa Ayah yang membuat semuanya?,"


"Bukan, tapi nenek mu yang membuatkan nya khusus untukmu,"


ia mendongkakkan kepalanya, melirik Neneknya yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Nenek!,benarkah nenek membuat semua ini khusus untuk ku,"serunya.


Berjalan mendekati Juju dan duduk disampingnya. "Tentu saja Nenek membuat semua ini untuk mu. hanya saja nenek tak tahu makanan apa saja yang kamu sukai, jadi nenek memasak kesukaan ayah mu dan ibumu, apa kamu menyukainya?,"


Mengangguk antusias,lalu memberikan pelukan. "Terima kasih banyak Nenek," ujarnya."Juju sangat saaaaaayaaaaang Nenek,banyak -banyak,"


"Bagaimana dengan Ayah?,"


Melepaskan pelukan, turun dari atas kursi lalu berlari kearah ayahnya. "Tentu saja,Juju juga sayang Ayah," memperlihatkan deretan gigi.


"Bagaimana dengan Bibi?,apa Juju tak sayang pada Bibi,"


"lalu Nenek buyut mu?," timpal mereka yang baru keluar dari kamar masing-masing.


Berlari kembali kearah keduanya dan memeluk keduanya. "Tentu saja Juju sayang kalian semuanya,"


Mereka semua tertawa dengan sikapnya yang sangat lucu. Suasana rumah menjadi lebih ramai berkat kehadirannya.


"Sudah sudah kalian berdua, Juju, pergilah mandi supaya kita bisa sarapan bersama,"

__ADS_1


Juju menoleh kearah Neneknya, berbalik badan seperti sedang melakukan upacara, " Siap laksanakan,!" ucapnya lantang, berjalan balik layaknya seorang paskibra. Mereka tertawa kembali melihat tingkahnya.


Sudah mandi,sudah berpakaian rapih, ia berjalan keluar kamar menuju meja makan. Bunyi sendok saling berdenting.


"Juju,setelah kamu selesai makan,kamu nanti ikut ayah, ya. Kamu mau kan?,"


"Benarkah?, tentu saja aku mau,"


"Aldan,mengapa kamu membawanya bekerja?, biar ibu saja yang menjaganya,"


"Tidak Bu, lagi pula aku mau mengajak nya ke taman bermain,"


"Taman bermain?, horeee, apa Bubu juga ikut" Antusiasnya.


Ayahnya tersenyum, "Tentu saja."


"Horeee,"


Setelah menjadi artis dadakan yang di wawancarai oleh banyak orang ,akhirnya ia bersama ayahnya sampai keruang kerja ayahnya. Begitu kakinya melangkah masuk kedalam, matanya berkilau dan takjub mendapati deretan berbagai buku medis, ia tak bisa berhenti mengagumi ayah nya yang begitu hebat memiliki begitu banyak buku dirumah maupun di tempat kerja.


"Juju," panggilnya. ia menoleh "Tak apa kan jika kamu menunggu ayah disini?, kamu boleh lakukan apapun yang kamu mau?,"


Juju hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Anak pintar" pujinya. tangan nya mengusak puncak kepalanya. Lalu pergi meninggalkannya seorang diri.


Setelah memastikan ayah nya sudah pergi,ia kembali berfokus pada rak buku yang ada di hadapannya. Ia menelusuri tiap judul buku hingga tatapan nya berhenti pada suatu buku yang mencuri perhatiannya. Ia meraih buku itu dan mengambilnya kemudian membawanya kemeja kerja ayahnya untuk dijadikannya tempat untuk ia membaca. Ia pun hanyut dalam buku itu hingga tak menyadari keberadaan Bubunya yang sedang menatapnya marah kemudian merebut buku itu yang sedang ia baca.


"Apa yang kamu lakukan?,"pekiknya.


"Bukan kah Bubu sudah bilang,jangan memperlihatkan kejeniusan mu sembarangan termasuk ayah mu,bagaimana jika dia tahu?,"marahnya.

__ADS_1


Berkat perkataan Bubunya membuatnya sadar sudah terbuai oleh buku- buku ayahnya hingga ia melupakan janjinya."Bu-bubu hiks maafkan hiks aku," ia menangis tersedu-sedu merenungi kesalahan yang telah ia perbuat


Bubunya mendekat dan mendekapnya. "Maaf kan Bubu,"sesalnya."Apa Bubu terlalu keras memarahi mu...maaf Bubu hanya terlalu takut ,karena akhir-akhir ini ada beberapa hal yang membuat Bubu merasa cemas dan juga takut akan terjadi sesuatu berbahaya yang menghampirimu kapan saja,"


Ia menggelengkan kepala, "tidak Bubu,ini memang salah ku,seharusnya aku tidak tergoda dengan buku-buku ini,maaf sudah membuat mu cemas," ia tertunduk memainkan kesepuluh jari tangannya.


Tiba-tiba ayahnya datang, ia pun langsung merubah ekspresinya seperti tak terjadi apa-apa. ayahnya perlahan masuk dan membuka bajunya didepan mereka dengan santainya, ia hanya terdiam melihat interaksi ayahnya, lalu matanya berpaling melihat ibunya yang sedang menganga. Ia menepuk dahinya melihat tingkah Bubunya yang sangat memalukan . Ia mencubit tangan Bubunya agar membuatnya tersadar. tak menyangka ternyata Bubunya sangat bodoh hingga bisa di bodohi oleh ayahnya begitu mudah.


Untuk pertama kalinya Juju menginjak kan kakinya yang mereka sebut surga bermain,dulu ia hanya bisa melihat tempat ini di sebuah acara tv atau di serial drama favorit Bubunya. Terkadang ia penasaran bagaimana rasa nya pergi ke taman bermain, pernah sekali Bubunya mengajak nya untuk pergi ke sana, tapi ia menolak dan lebih memilih membaca buku dari pada harus berkeringat setelah itu Bubunya tak lagi menawarinya. Jika Ia bisa mengulang waktu mungkin ia akan memikirkan menerima tawaran Bubunya, tapi, ketika ayahnya yang mengajak nya. Anehnya ia tak bisa menolak melainkan perasaannya sangat menggebu-gebu dan membuatnya bersemangat memainkan berbagai jenis permainan, dan untuk pertama kalinya ia berkeringat sangat banyak membuatnya sangat kelelahan dan tertidur sampai pagi,ia bahkan tak ingat bagaimana ia bisa berakhir di kamar bersama Bubunya.


"Pagi Bubu," sapanya. Tangannya masih mengucek matanya sambil berjalan ke meja makan.


"Selamat pagi Juju," sapa ayahnya.


"Ayah!," serunya ,"kenapa ayah bisa disini?,"


"Kenapa?,apa kamu tak suka ayah asa disini?,"


menggelengkan kepala "tentu saja aku suka melihat ayah,apa ayah akan tinggal disini?,"


ayahnya menghampirinya dan meletakkan tangan kanannya dipuncak kepalanya " lebih baik kamu tanyakan saja pada Bubu mu," ucapnya, menunjuk kearah Bubunya yang baru datang dari arah luar,ia berbalik lalu menghadap kearahnya dengan tatapan memohon.


"Ada apa,? kenapa dengan wajahmu?,"tanyanya penasaran.


"Bubu, apa ayah boleh tinggal disini bersama kita?,"


uhkhuk uhkhuk dia tersedak udara ",apa maksudmu Juju?,"


"Bisakah kalian bersama kembali?,"

__ADS_1


Mereka terdiam mendengar perkataannya lalu saling bertukar pandang.


__ADS_2