
Hari ini adalah hari pertamanya menginjakkan kakinya kembali di negara tempatnya lahir sekaligus memulai kembali karirnya sebagai perancang busana di butik milik Andri, Ia bertemu dengannya saat berada di luar negeri. Waktu itu Aulina masih mencari pekerjaan namun nyatanya mencari pekerjaan bukanlah hal yang mudah, ia sudah mencoba melamar kemana- mana namun hasilnya nihil, apalagi uang dalam tabungannya sudah mulai menipis.
kruyuk~ perutnya berbunyi, ia memegang perutnya dan menyadari bahwa ia belum makan apa-apa sejak pagi tadi. Ia kemudian melihat sebuah toko swalayan yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
slurp ~ ia menyeruput mie cup dengan nikmat, lalu ia teringat akan masa lalunya saat mengejar cinta mantan suaminya, Aldan.
Ketika itu disebuah swalayan, Aldan yang baru selesai bekerja menyempatkan diri untuk mampir ke sana. Di sana ia membeli sebuah mie cup lalu menyeduhnya untuk ia santap di meja depan yang disediakan oleh toko. Aulina yang kebetulan lewat langsung menghampirinya. Dengan langkah anggun nya ia duduk didepan Aldan. Namun sepertinya Aldan tak menghiraukan keberadaan Aulina yang sedang menatapnya intens.
" Apa kamu tak bosan menyantapnya setiap hari ?" tanyanya penasaran ,kedua tangannya ia lipat di dada.
Aldan mendongkak lalu meletakkan kedua sumpitnya di atas meja seraya membalas tatapannya, ia mengikuti gestur Aulina lalu bertanya, " Apa kamu juga tak bosan terus mengikuti aku setiap hari ?,"
Aulina menaikkan kedua alisnya sembari mencondongkan tubuhnya ke depan. Dagunya bertumpu pada kedua tangannya ,
" Aku tak akan pernah bosan sampai bisa mendapatkan mu.,"
Aldan mengikuti gesturnya, " MIMPI !" sungutnya, sembari kembali menyantap mie instan nya.
Namun bukan Aulina namanya jika ia menyerah begitu saja. Tanpa aba-aba ia merebut mie yang tengah Aldan santap lalu memakannya. Begitu mie itu masuk kedalam tenggorokannya ia terdiam menatap wajah Aldan. Lidahnya beberapa kali mengecap rasa dari mie instan itu. ' Enak' batinnya.
Aldan menatapnya tajam lalu merebut kembali mie nya dari tangan Aulina.
" Kenapa? apa ini terasa enak?," godanya. Dengan sengaja ia menyeruput mie itu dengan nikmat hingga habis tanpa sisa.
Aulina menatapnya datar namun tenggorokan nya beberapa kali naik turun ketika melihat Aldan menyeruput mie tersebut. Jauh dalam lubuk hatinya ia menginginkan mie itu, namun gengsinya lebih tinggi.
Setelah menghabiskan mie nya Aldan pergi meninggalkannya seorang diri, wajar nya Aulina akan mengejarnya, namun ia hanya terdiam membatu di sana tanpa beranjak sedikitpun, membuat Aldan sedikit lega sekaligus heran dengan tingkahnya yang labil.
Setelah memastikan Aldan sudah pergi, ia bangkit dari duduknya kemudian memasuki toko itu dan membeli mie yang Aldan makan tadi, ia pun berhasil menghabiskan tiga cup sekaligus dalam satu waktu.
Sejak saat itu Aulina menjadi penggemar mie instan no satu, saking sukanya ia membeli semua jenis mie instan, namun sebulan kemudian ia merasakan sakit perut dan dokter menyatakan kalau ia tak boleh memakan mie instan lagi membuat hatinya meraung kesakitan menerima kenyataan pahit. Mengingat hal tersebut membuatnya tersenyum geli. Bosan, ia pun mengeluarkan secarik kertas dari tas nya, dan mulai menggambar asal untuk membuang waktunya.
__ADS_1
" Wow, apa kakak seorang designer, aku memiliki sebuah toko Mau bekerja sama dengan ku," tiba-tiba seorang pria muda berusia sekitar 25 tahunan datang menghampirinya sembari memuji karya yang ia buat secara asal. Aulina menatap pria muda itu curiga.
Pria muda itu menatap karya nya dengan mata yang berkilauan seperti menemukan sebuah harta karun. ia kemudian menoleh kearahnya, " Kakak gambar mu sangat bagus," pujinya. " Tolong bekerjalah denganku," pintanya, kedua tangannya meraih tangan Aulina, menatapnya dengan tatapan memohon.
Aulina memicingkan matanya seraya bertanya, " Kamu Siapa ?,"
Pria muda itu tiba-tiba berdiri ," Ah aku lupa memperkenalkan diri. Nama ku Andri pemilik toko Blue Rose ," ujarnya
" Blue Rose?"
" iya apa kakak tertarik, aku akan memberi kakak upah yang besar ," katanya.
Mendengar kata upah membuat senyumnya mengembang , tanpa pikir panjang ia menerima tawaran Andri, Andri pun di buat senang olehnya. Ia kemudian membawa Aulina ke tokonya.
Setelah melewati banyak jalan gang-gang sempit, mereka akhirnya sampai kesebuah bangunan kecil, kusam dan sangat tersembunyi dari jangkauan kota. Aulina terperangah melihat kondisi bangunan yang sudah termakan usia. diatasnya bertuliskan Blue Rose
" Apa ini toko yang kamu maksud? "tanyanya.
Aulina mengernyitkan dahinya, " kamu yakin?,"
" Tentu saja aku sangat yakin, kakak jangan melihat tampilan dari luarnya saja. Meski tempat ini bobrok namu aku selalu mendapat pelanggan setiap hari meski hanya 1 orang dan itu adalah kakak ku sendiri," gumamnya. " Lupakan, aku jamin kakak akan menyukai tempat ini ,"
" Memangnya bisnis apa yang sedang kamu jalani ?,"
" Aku belum menemukan bisnis yang cocok, tapi setelah melihat keterampilan kakak, bagaimana kalau kita buka butik ,"
" APA?!!, kamu gila yah, ini namanya penipuan dan aku tak mau bekerja disini," putusnya, lalu membawa kakinya pergi namun kedua tangan Andri menghentikan langkahnya. ia berlutut seraya memohon, " kakak tolong bekerja lah disini, baru kali ini aku bisa menghirup udara bebas, jika ayah ku tahu dia akan menyeret ku dan membawaku untuk menjadikan aku seorang artis, dan aku tak mau jadi artis,".
Aulina mengernyitkan dahinya. " Kenapa? bukan kah lebih menjamin dari pada kamu mengelola tempat buruk ini?"
Mendengar perkataan dari Aulina, membuatnya semakin gencar memohon padanya , ia memeluk kakinya erat agar Aulina tidak pergi darinya.
__ADS_1
" Tolong jangan pergi!, aku akan melakukan apa pun ,yang kakak inginkan"
Aulina menoleh , " Apapun?," tanyanya memastikan
Andri mengangguk-anggukan kepalanya.
" Ekhem " Aulina berdeham, ia melirik Andri yang masih memeluk kakinya. " Baiklah tapi ada syaratnya.,"
Andri kembali mengangguk-anggukkan kepalanya.
" Pertama kita bagi keuntungan aku 70% dan kamu 30%, bagaimana?,"
Andri terdiam lalu menghitung dengan ke sepuluh jarinya, lalu berfikir sangat lama.
Aulina memutar bola matanya jenuh, " jika kamu tak mau, tak apa aku akan pergi mencari tempat lain ," katanya mencoba pergi. Namun langkahnya kembali terhenti. " Baiklah, asalkan kamu bisa mengajariku bagaimana cara berbisnis ? call ? " katanya sembari mengulurkan tangannya.
Aulina meraih tangan itu , " okeh call, tapi kita mungkin harus merenovasi tempat ini terlebih dahulu, apa kamu punya toko online? "
Andri menggeleng.
" Lalu bisnis apa yang ingin kamu buka di tempat seperti ini?,"
Andri terdiam sesaat, lalu kemudian berkata " aku serahkan semuanya pada kakak,"
" kamu yakin, kita baru saja kenal, bagaimana bisa kamu mempercayakan bisnis mu pada orang yang baru dikenal? apa kamu tak takut? aku bisa saja membawa kabur semua milikmu, termasuk menjual toko ini, meski mungkin harga nya akan sangat rendah ," gumamnya.
Andri menggelengkan kepalanya seraya berkata, "aku yakin kakak punya hati yang baik ,"
" Bagaimana bisa kamu memutuskan aku baik atau tidak, memangnya kamu indera ke enam ?,"
Andri hanya tersenyum bodoh ," feeling," katanya ," tapi selama ini feeling ku selalu benar kok jadi kakak tak perlu khawatir ,"
__ADS_1
Aulina menatapnya. ' seharusnya kamu mengkhawatirkan dirimu sendiri, aku takut di masa depan ia bisa di manfaatkan oleh orang dewasa bahkan anak kecil ' batinnya.