
Seperti hari kemarin, hari ini Juju di antar pergi sekolah oleh ayahnya, Karena kondisi sang ibu yang semakin parah akibat terpeleset di dapur, membuat sang ayah menjadi over protective dan mengharuskan nya untuk berbaring di atas ranjang seharian.
Entah jam di rumahnya terlalu cepat, atau dirinya yang terlalu bersemangat untuk memulai sekolah. Sebab belum ada satupun murid pun selain dirinya dan para petugas sekolah. Suasana sekolah begitu hening. Namun Juju tak perduli, dia pun membawa kakinya menuju kelas. Namun langkah kakinya terhenti ketika mendapati suara derap kaki yang cepat dari arah lorong seni.
Meski tak mempercayai hal-hal yang berbau mistis, entah kenapa bulu kuduknya menjadi berdiri? Penasaran, dia pun mengikuti arah dari derap kaki langkah itu.
Berjalan sendiri di lorong yang gelap membuat suasana terasa lebih mencekam
La la la laaaa~.
Terdengar seseorang tengah bersenandung, langkah nya kembali terhenti sesaat, ' Apa ada orang lain selain aku? ' batinnya.
la la la laaaa~
Nyanyian itu semakin terdengar jelas di telinganya, membuatnya semakin penasaran.
Meski ia tak begitu mengerti tentang musik, namun nyanyian itu terdengar sendu.
Dia pun berhenti disebuah ruangan, kepalanya menengadah, tertulis Ruangan Seni Musik, kembali menatap pintu di depannya, jantungnya berpacu cepat.
La la la laaaaa~
Terdengar jelas lantunan nyanyian itu berasal dari dalam sana. Meski tangan dan seluruh tubuhnya gemetar. Namun, rasa penasarannya lebih kuat dari rasa takutnya. Dia pun perlahan memutar kenop pintu itu ke bawah.
Krieeeet~. perlahan pintu itu terbuka, angin berhembus kencang menerpa wajahnya, tangannya menghadang angin itu, nyanyian itu terdengar lebih jelas, suaranya jernih nan menyejukkan hati. Dia pun sedikit tertegun, kepalanya mendongkak dan mendapati Kayla tengah bernyanyi dengan suara merdunya, Meski Juju tak tahu suara malaikat itu seperti apa? akan tetapi untuk pertama kalinya ia merasa tersentuh sekaligus sakit di waktu yang bersamaan, entah lagu apa yang di bawakan oleh Kayla? tapi yang jelas nyanyian nya membuatnya terpana.
Sadar, ada seseorang masuk, Kayla pun menghentikan nyanyiannya lalu menoleh ke arah Juju yang masih tertegun. Kepalanya tertunduk malu. " Jangan bilang siapapun! " Kayla berkata lalu berlari meninggalkan ruangan musik.
*
Sesampainya di sekolah Lingga langsung mencari keberadaan dari sahabatnya. Namun ia tak bisa menemukan keberadaan nya di manapun. Hingga kakinya membawanya ke lorong seni, lalu berhenti di depan ruang musik dan mendapati Zaydan berserta sahabat nya tengah berdiri mematung layaknya sebuah patung.
ia mengernyit heran." Are you oke Juju? " tanyanya pada sang sahabat, namun Juju hanya terdiam tak menjawabnya, membuatnya mengernyitkan alisnya lalu beralih pada Lingga.
Kedua mata mereka menatap kosong kedepan, membuatnya penasaran. Dia pun mengikuti arah tatapan mereka, akan tetapi dirinya tak menemukan apa pun. " What do you see? " tanyanya.
" Aku melihat cahaya ilahi yang membawa kebenaran. " timpal netral Zaydan.
" Huh? apa yang kamu bicarakan? "
__ADS_1
Lingga terdiam.
' Ada apa dengan mereka? kenapa mereka bertingkah seperti itu? ' batinnya.
Dia pun mendekati sahabatnya seraya merangkul bahunya " Sobat, apa kamu tahu apa yang Zaydan bicarakan? " tanyanya lagi.
Seakan jiwanya menghilang, Juju terdiam tanpa ekspresi. Lingga pun menjadi khawatir, ia pun mengguncang tubuh sahabat nya, namun masih tak ada respon apa pun darinya, tubuhnya dingin, tatapan nya kosong.
" Oi Juju! kamu kenapa? kamu nggak kesurupan kan? " tanya nya cemas.
Juju masih terdiam tak ada respon apa pun, membuat Lingga menggaruk kepalanya frustasi.
" Oi Zaydan, tolong aku."
Seakan sama-sama kehilangan jiwanya, berbeda dengan sahabatnya yang terus terdiam. Lingga hanya mengatakan hal yang sama terus menerus.
" Aku melihat cahaya ilahi yang membawa kebenaran. "
Lingga terdiam sejenak, menyadari ada yang tidak beres dengan mereka. ia pun perlahan memundurkan langkahnya, Bruk, sayang iya tak sengaja menabrak Alat musik Harpa hingga terjatuh, seketika Juju dan Zaydan menoleh secar bersamaan. kedua bola mata mereka menjadi putih sepenuhnya.
Kedua bola mata Lingga terbeliak, tubuhnya menggigil ketika mereka berdua mulai berjalan gontai ke arahnya dengan mata putih mereka.
Namun mereka berdua mengacuhkan nya, Lingga pun menjadi panik, lalu mengambil biola di sampingnya, mengayun-ngayunkannya di depan mereka seraya menutup kedua kelopak matanya hingga. . .
' Bugh . Lingga merasa telah memukul sesuatu, ia pun mengintip sedikit, dan mendapati kepala sang sahabat mengeluarkan banyak darah. Kedua bola mata nya kembali terbeliak. " Ma-maaf kan aku sobat, a-aku tak sengaja, salah mu sendiri . . .
Krak, krak, krak. Terdengar suara patah tulang.
Lingga pun mematung, melihat kepala sang sahabat yang memutar tiga ratus enam puluh derajat.
" Aaaaaaaaaaaaakhhhhh . " teriaknya dengan lantang , memukul kembali kepala sang sahabat, beserta Zaydan yang tengah menghadangnya. Setelah berhasil menumbangkan dua orang di depannya, ia pun berlari sekuat tenaga meninggalkan ruangan itu, kakinya berlari dengan kencang dan terus berlari.
Nafasnya terengah-engah, memasuki ruangan laboratorium. Tubuhnya kembali menggigil, " Apa yang sebenarnya telah terjadi? " batinnya. Lingga pun mencari tempat untuk bersembunyi, dan ia pun memutuskan untuk bersembunyi di dalam lemari bersama krangka manusia buatan.
Tap tap tap, terdengar pelan dua langkah kaki.
Krieeeeeet ~ pintu laboratorium di buka.
Dari balik celah lemari ia bisa melihat keduanya tengah berjalan gontai menelusuri ruangan, karena kondisi ruangan begitu gelap, mereka berdua menabrak benda apa pun di depannya.
__ADS_1
Lingga pun membungkam mulutnya dengan kedua tangannya berharap mereka tak bisa menemukan keberadaannya. " Ku mohon siapa pun tolong aku? " jeritnya dalam hati.
" Keeeeteeeemuuuuuuu. "
Kedua bola mata Lingga kembali terbeliak, melihat sebuah bola mata putih mengintip dari celah lemari.
Pintu lemari pun terbuka, menampakan sosok Zaydan dengan darah di sekujur tubuhnya. entah dari mana dia mendapat darah di sekujur tubuhnya, satu hal yang pasti. Lingga sangat ketakutan.
" Aaaaaaaaaaakhhhhhhh. " Lingga kembali berteriak, lalu menjatuhkan kerangka manusia itu kepada Zaydan, ia pun kembali berhasil melarikan diri, layaknya di sebuah film dirinya tak sengaja menginjak tali sepatunya membuatnya terjatuh tersungkur di atas lantai, di belakangnya Zaydan dan Juju tengah mengikutinya dari belakang
Seakan kakinya menjadi lumpuh, ia pun hanya bisa merayap, sayang seribu sayang, jalan yang di pilihnya adalah jalan buntu, mulutnya terbuka menganga.
Tap tap tap~ langkah mereka sudah semakin dekat hanya butuh beberapa langkah agar mereka berdua sampai padanya.
" Tolong ampuni aku, aku janji akan jadi anak baik ,jadi , tolong lepaskan aku, jika kalian melepaskan ku, akan ku berikan Game baru yang akan segera di luncurkan pada kalian berdua secara cuma-cuma. "
Mereka berdua tak mendengar perkataannya, Lingga pun menyadari
" ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ aku lupa kalau kalian bukan manusia, bagaimana bisa kalian tergoda dengan game ðŸ˜ðŸ˜? " Lingga pun menangis dengan kencang sampai tubuhnya di terkam oleh kedua temannya.
" Lingga! bangun. "
" Huaaaaaa huhuhu. "
" LINGGA!!! "
Sontak Lingga pun terbangun dengan keringat membasahi seluruh tubuhnya. "Momiiiiiiiii " rengeknya.
" Ada apa? apa kamu mimpi buruk? '
Lingga pun mengangguk.
" Bukankah sudah Momi bilang? berhenti menonton film horor sebelum tidur. "
" Huaaaaaaaa. "
" Sudah, sudah Momi ada di sini, jadi kamu mimpi apa barusan? " ucap sang ibu, menepuk lembut punggung anaknya.
" Aku di kejar oleh hantu, tapi hantunya mirip teman ku, saat mereka mau menangkap ku, aku bilang pada mereka, jika mereka mau melepaskan ku maka aku akan memberi mereka game keluaran terbaru dari perusahaan kita secara cuma-cuma . . . tapi, aku lupa kalau mereka adalah hantu ðŸ˜ðŸ˜. "
__ADS_1
Dara yang mendengar hal tersebut, kesal. Dan berujung menjewer telinga Lingga dan menyeretnya masuk ke dalam kamar mandi