
Andai kata waktu bisa di ulang kembali, Aulina lebih memilih diam dan membiarkan sang putra untuk terus mengabaikannya, mungkin dengan seiring berjalannya waktu, mereka pasti bisa berbaikan seperti semula. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur, apa yang sudah keluar dari dalam mulutnya tak bisa ia tarik kembali, sang putra pun kini menghilang entah kemana.
Satu bulan telah berlalu, namun mereka belum menemukan sedikit pun jejak dari keberadaannya. Segala upaya telah mereka lakukan, seperti hal nya melapor pada polisi, mereka bahkan meminta bantuan dari anak Dara, Lingga yang di ketahui bahwa dia adalah salah satu anak yang memiliki kelebihan di bidang teknologi, tak hanya meretas data saja ia bahkan mampu meretas CCTV di seluruh penjuru negeri hanya dalam hitungan menit saja.
Meski mereka memiliki otak Lingga, akan tetapi mereka tak bisa menemukan keberadaan Juju yang seakan hilang di telan bumi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Menjadi penyebab menghilangnya sang putra, membuat ***** makannya menjadi hilang, rasa bersalah terus menyelimuti hatinya, selama satu bulan itu pula ia tak berhenti dan tak mengenal lelah dengan terus mencari keberadaan nya.
Sang suami, Aldan. merasa cemas dan khawatir dengan kondisinya, pasalnya dia tengah mengandung anak kembar mereka. Dan mereka masih mencari keberadaan putra sulung mereka, rona wajah nya yang sudah berubah warna menjadi pucat pasi, membuat sang suami semakin khawatir, " Sayang, tolong jangan paksakan dirimu, "
Kepala Aulina menggeleng. " Aku tak pernah memaksakan diri. "
" Apa kamu lupa? aku ini seorang dokter dan kamu tak bisa membohongiku. " paparnya.
Kepalanya menunduk. " Tapi ini semua adalah salahku, seharusnya aku tidak berkata kasar padanya, seharusnya aku menunggunya sampai tenang, seharusnya. . .
" Sssttt. " Aldan menghentikan laju kendaraannya di tempat aman, dia merengkuh tubuh sang istri ke dalam pelukannya. " Aku tahu, mungkin karena kamu tengah mengandung si kembar, jadi perasaan mu menjadi sensitif. dan tidak bisa mengendalikan emosi mu, putra kita sangat pintar, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja. " ucapnya berusaha menenangkan
" Tapi. .
" Ssstt, " menangkup wajah sang istri. " Lihatlah kedua mataku. " mereka berdua bersitatap. " Dulu kamu pernah bilang padaku untuk tidak menyalahkan diriku sendiri, sekarang adalah giliran ku untuk mengatakannya padamu. " Mereka terdiam sejenak. " Jangan terus menyalahkan dirimu sendiri, ini bukan salah mu. "
Aulina terdiam seraya menatap wajah sang suami yang sangat kelelahan, kondisinya tak jauh berbeda dengan dirinya.
" Pergilah beristirahat, sebagai gantinya, aku akan terus mencari keberadaan putra kita sampai ketemu. "
" Bukan kah kamu juga lelah? lihat kedua kantung mata mu. "
Aldan tersenyum simpul. " Tentu saja aku lelah, tapi fisik ku lebih kuat dari mu, apalagi kamu tengah mengandung si kembar."
Aulina menundukkan kepalanya.
" Pergilah beristirahat, kamu tak mau kan, jika kita sudah menemukan putra kita, dan dia tahu bahwa Bubunya memperlakukan ke dua calon adiknya dengan buruk, aku yakin dia akan sangat marah padamu, kamu juga tak mau kan kalau kamu berkelahi lagi dengannya."
__ADS_1
Kepala Aulina menggeleng.
" Kalau begitu, pergilah beristirahat, biar aku dan teman-teman lain nya yang akan terus mencari keberadaanya. "
Aulina pun pasrah seraya menganggukkan kepalanya, Sang suami yang melihat hal tersebut tersenyum lega, dia pun kembali melajukan kendaraanya untuk mengantar sang istri pulang ke rumah terlebih dahulu setelah itu ia akan kembali melanjutkan pencariannya.
" Berjanjilah padaku, jika kalian sudah menemukan nya segera hubungi aku. "
" Iya sayang, kamu tak perlu khawatir, setelah kami menemukan putra kita, aku akan segera memberi mu kabar, jadi tenangkan dirimu, okeh? "
Aulina pun menghela nafas pasrah, melangkah keluar dari dalam mobil dan membawa ke dua kakinya, masuk kedalam rumah.
Sesampainya di dalam kamar, ia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan terlelap begitu saja.
Entah sudah berapa lama dirinya tertidur? namun yang pasti suara dering dari sebuah ponsel yang berada di atas meja, membangunkannya dari tidur lelapnya.
Kedua alisnya mengernyit, mendapati sebuah nomor yang tidak di kenal, namun jarinya menggeser ikon hijau pada layarnya dan menempelkan nya ke daun telinganya, berharap bahwa dirinya mendapatkan keajaiban.
" Juju, kamu di mana sayang? kenapa dengan suara mu? kenapa suara mu terdengar begitu lemas. " tanya nya beruntun dengan nada cemas
" Apa kamu merindukan ku? "
Kedua bola matanya melotot marah, mengenali suara pria di sebrang sana. " KAU!!! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA PUTRA KU?! " teriak marah.
terdengar suara cekikikan di seberang sana. " Datang lah ke tempat biasa yang sering kita kunjungi dulu. "
" Bubu! jangan datang ini jebakan. " Teriak sang Putra di iringi suara pukulan.
" JUJU! apa yang dia lakukan padamu? " cemasnya, namun tak kunjung ada jawaban. " Halo! halo! . " Aulina menatap layar di ponselnya dan melihat bahwa panggilan itu telah terputus.
Dengan tangan gemetar, ia kembali menekan nomor itu.
' *Nomor yang ada tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi. '
__ADS_1
' Sial* 'umpatnya.
Aulina yang panik, langsung menyambar tas beserta kunci mobilnya, hingga lupa memberitahu info penting kepada sang suami
Di tempat lain, Di sebuah Taman Hiburan yang sudah terbengkalai, Juju tengah terikat kuat, di seluruh tubuhnya terdapat lebam, kedua sorot matanya menatap tajam pada Thedy yang berada di depannya.
" Kenapa kamu menipu ku? "
Thedy terkekeh. " Menipu? aku tak menipu mu, hanya saja aku tak memberitahu mu semuanya. Kau tahu? setiap kali aku melihat wajah mu, aku selalu ingin menghancurkannya, tapi karena aku baik hati, jadi aku tak melakukannya. "
Cuih.
Bugh. Thedy kembali menendang perut Juju, sehingga membuatnya terbatuk-batuk meringis kesakitan.
Sebelumnya.
Juju yang baru keluar dari mobil sang ibu, langsung mendapati sosok Thedy yang tengah menunggunya, seakan-akan dia sudah tahu bahwa hal ini akan terjadi.
" Masuk lah, tak baik jika seorang anak kecil berkeliaran di tengah hujan seperti ini, lagi pula aku tak akan menyakiti mu. "
Meski enggan, tapi Juju tak punya pilihan lain selain mengikutinya. Sesampainya di rumah Thedy, ia mendapati Yuda yang tertegun melihat keberadaanya.
" Ambilkan dia handuk, dan beri dia beberapa pakaian Ganti. "
Tanpa menjawab, Yuda pun melenggang pergi, beberapa saat kemudian, ia kembali dengan membawa handuk dan satu set pakaian ganti untuknya.
" Terima kasih. "
Tanpa mengatakan apa pun Yuda pergi meninggalkan Juju yang terheran -heran dengan sikapnya yang sangat berbalik saat berada di sekolah.
" Kamu tak perlu menghiraukannya, dia memang seperti itu jika berada di rumah. "
Tak ingin mencampuri kehidupan orang lain, Juju pun bergegas menuju kamar mandi untuk sekedar membersihkan diri.
__ADS_1