My Little Hero

My Little Hero
12


__ADS_3

Sepanjang perjalanan kedua pipinya menggembung lucu, Pasalnya setelah meminta mereka berdua untuk bersama kembali. Bubunya hanya diam seribu bahasa, sedangkan sang ayah? sudahlah. Menurutnya apa susah nya jika mereka bersama kembali? Bukan kah mereka juga terlihat masih saling mencintai satu sama lain?, lantas mengapa mereka belum memutuskan untuk kembali? membuatnya harus bekerja ekstra untuk kembali memikirkan sebuah cara.


Mereka pun tiba ditempat kerja Aulina, meski sempat canggung akhirnya Aulina menerima tawaran Aldan untuk mengantarnya pergi bekerja. Ia melepaskan sabuk pengaman lalu menoleh kebelakang tempat putranya berada


" Apa kamu mau ikut Bubu? "


Juju mendengus seraya memalingkan wajahnya." Aku mau ikut ayah saja."


Aulina menghela nafas." Sayang, apa kamu masih marah dengan bubu? "


Mulutnya bungkam seribu bahasa, tak ingin menjawab


" Kalau begitu bersenang-senanglah, jangan buat repot ayah mu, mengerti? "


"...."


Aulina kembali menghela nafas melihat sikap anaknya yang keras kepala seperti dirinya, ia bukan nya tak ingin rujuk. Hanya saja ia belum siap apalagi mantan suaminya belum mengetahui tentang rahasia anak mereka


" Kamu tak perlu cemas, aku akan menjaga nya dengan baik. Pergilah, jangan risau, kan ada aku,"


" Kalau begitu aku titip Juju...dan juga terima kasih sudah mau mengantarku," Katanya. lalu melangkah keluar dari mobil.


Aldan mengangguk seraya tersenyum, lalu pergi melanjutkan perjalanannya ke tempatnya bekerja. Sesekali melirik wajah putranya dari kaca spion.


" Apa kamu masih marah? "


"....."


"Jika kamu bersikap seperti ini. Bagaimana ayah bisa berkonsultasi denganmu, tentang ibumu. "


"...."


Menghela nafas " Baiklah, sepertinya kamu tak ingin ayah kembali bersama ibumu,"


" Tentu saja aku ingin kalian bersama," serunya. " ayah tahu? butuh usaha keras agar aku bisa kesini dan aku selalu memimpikan kalau kita bertiga bisa hidup bersama seperti keluarga, "


Ada perasaan sakit setelah mendengar penuturan dari putranya, jika saja mereka saling terbuka mungkin semuanya tak akan terjadi.


" Maaf kan ayah,...kalau begitu maukah Juju membantu ayah untuk mendapatkan kembali Bubu mu? "


" Benarkah? ,"

__ADS_1


" Tentu saja ".


Melihat putranya yang kembali bersemangat membuatnya senang sekaligus bahagia.


" Oh iya,bagaimana kalau kita jalan-jalan sebentar? sekaligus ayah ingin membelikan sesuatu untuk Bubu mu nanti ,"


Juju menganggukkan kepala menyetujui perkataan ayahnya. Setelah memarkirkan mobil mereka disebuah tempat perbelanjaan. Mereka memutuskan untuk berjalan menyusuri trotoar untuk menghirup udara pagi, tangannya mencengkram tangan ayahnya yang besar.


Tiba-tiba terdengar teriakan seorang wanita yang meminta tolong, teriakan nya membuat orang-orang berhamburan berlarian penasaran. Termasuk sepasang ayah dan anak ini.


Setibanya di tempat kejadian. Mata mereka terbeliak, melihat seorang anak laki-laki tengah tenggelam namun tak ada yang berniat menolongnya, mereka terlalu sibuk untuk mengabadikan momen tersebut dengan ponsel mereka.


Tangan Juju mengepal kuat, melihat kerumuan yang tak manusiawi. Bagi mereka merekam lebih penting dari pada menyelamatkan nyawanya..


Tanpa di duga, dia melangkahkan kakinya, dan masuk ke dalam sungai menyelamatkan anak itu, dan membawanya kedaratan. Sang Ayah. Aldan tertegun dengan keberanian yang dimiliki putranya. Dengan tubuh yang basah kuyup Juju menatap sang ayah. " Ayah lakukan CPR! "


Aldan masih tertegun.


" AYAH!! "


Sontak membuatnya tersadar kembali.


" Ayah! cepat lakukan CPR"


Aldan pun langsung memberikan pertolongan pertama, tak lama kemudian , anak itu mengeluarkan semu air dari dalam mulutnya, Orang-orang pun mulai bersorak, memberi mereka pujian. Ambulan pun tiba, membawa anak itu beserta ibunya.


Setibanya dirumah sakit mereka langsung membawanya keruang operasi karena terdapat luka bada tubuh anak itu. Aldan pun memutuskan untuk menjadi dokter untuk mengoperasinya. Meski begitu tak membuat Juju menjadi tenang.


Melihat putranya yang terlihat cemas, Aldan menghampirinya, Tangannya ia letakkan dia atas kepala putranya seraya menyamakan tingginya.


"Kamu tunggulah ayah di kantor, jangan khawatir. Ayah pasti akan menyelamatkan anak itu, dan juga keringkan tubuh mu ayah tak mau kalau kamu masuk angin, " melirik Bagas di sampingnya, " jika kamu butuh sesuatu kamu bisa meminta paman Bagas. "


Mulut Juju masih bungkam.


" Hey, apa kamu meragukan ayah? "


Kepalanya menggeleng.


" Kalau begitu, pergilah dan tunggu ayah, Mengerti? " kembali melirik Bagas, " Tolong jaga anak ku. "


" Tentu, " melirik Juju. " Ayo, Juju. "

__ADS_1


" Berjanjilah ,ayah akan menyelamatkannya untuk ku," pintanya, air matanya mulai mengalir, dengan telaten, Aldan menghapus jejak air matanya seraya mengangguk tersenyum simpul.


" Ayah akan berjuang sekuat mungkin. "


Juju menganggukkan kepalanya dan membiarkan ayahnya pergi ke ruang operasi. Bagas pun membawanya pergi, serta memberinya pakaian baru untuk di ia kenakan


Sepanjang menunggu kedatangan ayah nya, ia tak henti-hentinya merasa cemas memikirkan anak itu, dirinya bukannya tak percaya dengan kemampuan sang Ayah. Hanya rasa cemas itu datang tak beralasan


Kriet suara pintu terbuka menampakan sosok ayah yang tengah di tunggunya, berlari menghamburkan diri ke arah ayahnya.


Kepalanya mendongkak menatap sang ayah dengan tatapan cemas. " Ayah bagaimana operasinya? apa semuanya berjalan lancar? "


Aldan tersenyum simpul seraya menyamakan tingginya, tangannya yang besar terulur mengusap puncak kepalanya, " kamu tenang saja, sekarang anak itu tengah beristirahat di ruang ICU. "


" Benarkah? "


Aldan pun menganggukkan kepala.


Juju yang merasa senang pun memeluk erat leher sang ayah, seraya berbisik. " Terima kasih Ayah. "


" Iya sama-sama. " melepaskan pelukan. " Juju, bolehkah ayah bertanya sesuatu padamu? "


Juju menganggukkan kepala. " Tentu, memangnya ayah mau menanyakan hal apa? '


Aldan tak segera bertanya, membawa putranya terlebih dahulu untuk duduk di atas kursi, berlutut di depan putranya dan memandanginya dengan serius.


" Juju katakan pada ayah yang sebenarnya, sejak kapan kamu tertarik dengan ilmu Sains? "


Matanya terbeliak, lupa bahwa dirinya sedang menutupi jati dirinya. Juju pun hanya bisa membungkam mulutnya.


Melihat bungkamnya putranya, membuatnya semakin curiga "Apa Bubu mu yang menyuruhmu untuk merahasiakannya? "


Tubuh Juju menjadi kaku layaknya boneka kayu, matanya menatap kosong seperti berada di dimensi lain.


Aldan hanya bisa mendesah pasrah, melihat sikap putranya yang masih enggan untuk memberi tahunya, memaksanya berbicara pun tak akan membuahkan hasil apa pun.


" Baiklah jika kamu tak ingin berbicara, kita bicarakan saja nanti di rumah. "ucapnya, " kalau begitu ayah lanjut kerja, jika kamu bosan, ayah bisa panggilkan paman Andri untuk mengajakmu pergi, "


Juju menggelengkan kepala, " Aku mau disini saja. "


Aldan tersenyum simpul, " Kalau begitu ayah pergi dulu," ucapnya lalu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


Setelah memastikan kepergian ayahnya, seluruh hati dan pikirannya di liputi rasa cemas, giginya mengigit ibu jarinya seraya berjalan mondar mandir. Takut, jika bubu nya mengetahui, bahwa dirinya telah di curigai oleh ayahnya, besar kemungkinan bahwa bubu nya akan mengirimnya kembali ke sana. Kepalanya menggeleng cepat, ia tak mau jika harus berpisah lagi dengan ayahnya.


__ADS_2