My Little Hero

My Little Hero
29


__ADS_3

Aulina tak pernah menyangka bahwa hari ini adalah hari di mana sang putra bisa memakai seragam sekolah, dan pergi ke sekolah layaknya anak-anak yang sebaya dengannya, karena pada dasar nya dia tak ingin memberitahu dunia bahwa sang putra memiliki kejeniusan yang tak di miliki oleh anak lain pada umumnya.


Pernah sekali dirinya iseng bertanya pada salah satu pelanggan setianya, menanyakan apakah ada sekolah khusus untuk anak-anak yang memiliki kegeniusan yang berbeda dengan anak lain pada umumnya, namun sang pelanggan malah mengatakan. " Mana ada sekolah seperti itu, jika benar anak teman mu itu memiliki otak yang genius , kenapa tak memasukannya ke universitas ternama? aku yakin mereka pasti akan menerimanya. " Aulina terdiam mendengar pernyataan dari pelanggannya.


Memasukan putra kecilnya ke universitas? jangan bercanda, dari pada memasukkannya ke universitas, dirinya lebih memilih home schooling. Dia tak akan pernah memasukkan putranya ke lingkungan anak dewasa. Takut, jika orang dewasa akan mempengaruhi otaknya yang polos.


Beruntung dia bisa bertemu dengan teman lamanya, Dara. Disebuah toko perbelanjaan, Dara yang kaget serta bahagia, kemudian menyeretnya kesebuah kafe terdekat, dan menanyainya seribu pertanyaan, Dara pun memarahinya habis-habisa karena pergi tanpa memberi kabar sedikit pun.


Akhirnya Aulina menceritakan semua Kronologi yang di alaminya serta menceritakan bahwa dirinya melahirkan seorang putra yang memiliki kejeniusan di atas rata-rata pada anak yang seusia dengannya. Awalnya dia mengira bahwa temannya akan terkejut atau apa pun, namun Dara bersikap biasa, seakan-akan apa yang baru saja di dengarnya bukanlah hal aneh lagi di telinganya, Dara malah menyarankan kepadanya sebuah sekolah khusus untuk anak yang memiliki otak yang jenius, yang kebetulan putranya pun bersekolah di sana. Membuat kedua matanya terbeliak, tak menyangka jika teman tengilnya ini bisa melahirkan putra yang jenius seperti dirinya, namun berkat dirinya dia bisa memberikan kehidupan sekolah yang normal untuk putra tercintanya.


" Bagaimana hari pertama mu di sekolah? " tanyanya yang tengah mengendarai mobil,


" Biasa saja, " timpalnya netral. " Oh iya bubu, untuk besok jangan pergi menjemput ku, "


" Kenapa? "


" Karena besok, Lingga mengajak ku untuk pergi bermain lagi kerumahnya. "


Aulina sedikit tertegun, lalu kemudian dia tersenyum penuh arti,


Juju memicingkan matanya. " Kenapa bubu tersenyum seperti ini? membuat bulu kuduk ku berdiri, "


" Kamu pikir, bubu ini hantu, "


" Mungkin, tapi bagiku lebih menyeramkan bubu dari pada hantu. " timpalnya seraya terkekeh pelan.


" Kamu ini semakin mirip sekali dengan ayah mu, "


" Tentu saja, aku kan anaknya. "


" Iya iya, kalian memang pasangan ayah dan anak yang serasi. "


Juju kembali terkekeh, " oh iya bubu, apa bubu pernah dengar penyakit chunibyou? "

__ADS_1


Aulina terdiam, kedua alisnya mengerut. " Chunibyou? bubu baru pertama kali mendengarnya, kenapa kamu menanyakan hal itu? "


" Tadi di sekolah. . . .


Kriiiiiiing kriiiiing ,bel istirahat berbunyi, sang guru pun mengakhiri pelajarannya, para murid berhamburan keluar kelas menyerbu kantin, untuk mengisi perut mereka yang sudah kelaparan.


" Hari ini menu makanan kantin adalah roti kare, kita tak boleh kehabisan, ayo Juju! kita harus pergi secepat mungkin, karena hari ini kantin pasti akan penuh dengan darah. " Ajak Lingga penuh semangat.


Alisnya terangkat sebelah, " Apa maksudmu kantin penuh darah? "


Tanpa menjawab pertanyaan dari Juju, Lingga berjalan menuju kantin seraya menyeret tangannya.


Setibanya di sana semua murid terlihat mengantri dengan tertib mengambil makanan, membuat Juju menatap tajam Lingga. " Bukankah tadi Kamu bilang, bahwa kantin. . .


" Sudahlah jangan banyak bicara, lebih baik kita mengantri, cacing di perutku sudah menjerit, meronta ingin di isi. " Selanya, seraya berjalan mendahului Juju yang termenung, darah? darah apa? beraninya Lingga mempermainkannya.


Setelah mengantri dan mendapat teman duduk, entah datang dari mana? Diandra sudah berada di depan mereka dengan seporsi makanan di tangannya, " Aku boleh gabung? "


" Okeh terima kasih. " timpal Diandra, lalu duduk di depan mereka, Mulut Lingga berusaha mengatakan sesuatu, namun di hentikan oleh Juju yang menyikut tubuhnya, membuatnya menghela nafas dan menusuk-nusuk makanannya dengan kasar seraya menatap sinis kepada Diandra, sedangkan Diandra mengabaikan tatapan itu dengan mulai memakan makan siangnya dengan anggun.


" Arjuna, apa kamu tak menyukai kacang? " tanya Diandra melihat Juju yang tengah memisahkan kacang merah dari makanannya dan menyimpannya di bagian sisi piringnya


Juju menoleh seraya bergumam. " Mmm, "


" Bolehkah aku mengambilnya? kebetulan. .


Ucapannya terputus, ketika kacang merah yang berada di sisi piring milik Juju, di ambil oleh Lingga dan memakan semuanya sekaligus.


Tanganya mengepal Ingin rasanya Diandra memukul wajahnya dan mengatakan kata-kata kasar, namun dia harus menjaga sikap di depan orang yang di sukai nya, " Ah lain kali, jika . . .


" Malam ini akan terjadi tsukuyomi, " kata anak laki-laki yang memotong kembali perkataan Diandra, membuat Diandra merasa sangatbkesal dengannya.


kedua mata anak laki-laki itu menatap lurus kedepan, raut wajahnya terlihat sangat serius dengan kedua tangan yang saling terkait di depan wajahnya

__ADS_1


Membuat Juju terheran-heran sekaligus penasaran, " suku apa? "


' Brak ' anak laki-laki itu memukul atas meja dengan keras, Juju terlonjak kaget, semua mata menoleh kearahnya, namun kembali mengabaikannya, seakan-akan hal itu bukanlah hal yang aneh lagi.


" Bukan suku, tapi tsukuyomi. Itu adalah fenomena dimana langit berubah gelap, dan bulan berubah menjadi berwarna merah. " terangnya.


" Oh bukan kah itu ger . . .


" Ssstt, " anak laki-laki itu menaruh jari telunjuknya di bibirnya, " kalian manusia biasa tak akan mengerti, tapi kalian jangan khawatir atau pun risau , karena aku akan menyelamatkan kalian semua. Tapi meski begitu, kalian jangan sampai lengah, jangan sampai kalian terkena jurus Genjutsu. "


" Gen apa? " tanya Juju kembali.


Namun anak laki-laki itu mengabaikan Juju. " Kalau begitu aku pergi, untuk meningkatkan cakra dalam tubuhku, ingat! jangan sampai lengah, kalian mengeri? " tanpa menunggu jawaban anak laki-laki itu pergi seraya berteriak, " HIRAISHIN NO JUTSU. " lalu pergi berlari dengan cara yang aneh.


" Dia siapa? dan ada apa dengannya? "


" Dia Zaydan, dia seorang otaku, dan dia mengidap sindrom chunibyou. " jelas Diandra.


Kedua alis Juju mengernyit. " Chunibyou? jenis penyakit apa itu? kenapa aku baru mendengarnya? apa itu berbahaya? "


Lingga membuka mulutnya, " Kamu tak tahu chunibyou? " kepala Juju menggeleng. " Iya tentu saja, kamu tak akan mengetahuinya, karena kamu terlalu sibuk berpacaran dengan buku, chunibyou adalah . .


' perhatian untuk seluruh siswa dan siswi untuk kembali segera kembali ke kelas, karena dalam lima menit lagi waktu istirahat usai. '


Suara pemberitahuan itu memotong perkataan Lingga, dan membuat Juju penasaran.


*


" Begitu, jadi aku belum sempat mendengar apa maksudnya "


" Oh, maaf kan bubu yang harus mengecewakan mu, bubu tidak tahu artinya, coba kamu tanyakan pada ayahmu, dia pasti lebih tahu dari pada bubu. "


Juju pun terdiam menyetujui saran dari bubu nya, pokonya setibanya di rumah, dia akan langsung menanyai ayahnya

__ADS_1


__ADS_2