
Setelah Thedy mematikan panggilan secara sepihak, Juju, menatap tajam ke arahnya mengabaikan rasa sakit yang baru saja diterimanya. " Sebenarnya apa yang kamu ingin kan dari Bubu ku? " tanyanya
" Tentu saja aku ingin dia kembali padaku. " jawabnya santai
" Jika kamu memang menyukainya kenapa kamu melakukan hal kejam padanya? "
" Karena itu adalah caraku, anak kecil sepertimu tak akan pernah mengerti. "
Percakapan mereka pun berakhir begitu saja.
Satu jam kemudian.
" JUJU!! "
Kepala Juju mendongkak, kedua matanya terbeliak, mendapati sang ibu tengah berdiri dengan nafas terengah-tengah, " Bubu. " gumamnya.
Kedua mata Aulina terbeliak mendapati keadaan putra tercintanya yang sangat mengenaskan, tubuhnya yang di ikat keras di kursi, seluruh wajahnya sudah babak belur, dengan satu kaki yang diperban secara asal, tampak darah merembes keluar dari sana, kedua tangannya mengepal kuat, matanya melotot marah ke arah pria di samping putranya, ia perlahan berjalan maju.
Dor! Thedy menembakkan satu peluru di depan Aulina membuatnya langkahnya terhenti.
" Jangan bergerak. atau kepala putra tercinta mu akan aku tembak. " Ancam Thedy seraya meletakkan pistolnya di kepala Juju.
" Sebenarnya apa yang inginkan dari ku? keluarga ku sudah bertanggung jawab atas adik mu dengan menyerahkan seluruh kekayaan kami padamu, apa itu masih kurang? "
" Adik? dia hanyalah seorang adik yang selalu menyusahkan ku, aku menyuruhnya mendekatimu untuk memantau mu, tapi siapa sangka? dia malah jatuh cinta kepada kakak mu." ungkapnya. " sejujurnya aku tak butuh uang mu, aku menginginkan mu. " sambungnya
Aulina mendengus. " Kau gila! bukan kah kamu yang mencampakkan ku dulu? "
" Bukan kah aku sudah bilang? aku menyesal. "
" Maaf, tapi rasa sesal mu tak akan membuatku mencintai mu kembali, apalagi tindakan mu ini membuatku sangat kecewa. "
Sorot matanya menjadi gelap, " Kalau begitu, ucapkan selamat tinggal pada anak jenius mu. "
Kedua mata Aulina terbeliak, ia bersujud memohon. " Tolong jangan lakukan apapun pada putraku. "
" Bubu! jangan dengarkan dia, dia adalah seorang bajingan. . .
" Tutup mulut mu!! " Bugh. kakinya kembali memukul perut Juju.
" JUJU! KAU! BERANINYA KAU!, tunggu dan lihat saja suami dan polisi sedang dalam perjalanan mereka akan segera sampai. "
__ADS_1
Thedy tergelak. " Kamu pikir aku tak tahu? kamu pergi tergesa-gesa untuk menemui putra tercinta mu, kamu bahkan melupakan ponsel mu. "
Aulina tertegun, ' Bagaimana bisa dia tahu? ' batinnya.
" Kamu pasti berpikir, bagaimana aku bisa tahu kan? Tentu saja aku tahu karena aku sangat mengenal dirimu. " ucapnya. " Sekarang, hanya ada kita bertiga. Kita buat kesepakatan, aku akan melepaskan putramu, tapi sebagai syarat, ceraikan suami mu, "
Juju menatap kedua mata sang ibu, kepala nya menggeleng, seraya bergumam. " Jangan. "
Aulina terdiam sesaat, keduanya tangannya mengepal erat, sesekali melirik wajah putranya yang sangat memprihatinkan, hatinya teriris-iris, bagaimana bisa ia menyebut dirinya seorang ibu? sedangkan dirinya tak bisa melindungi putranya sendiri. Kedua matanya menatap dingin pada Thedy. " Okeh, tapi lepaskan dulu putra ku. "
Juju menatap sedih pada sang ibu, menyesal, andaikan saja ia lebih terbuka dengan bubu nya, meminta penjelasan darinya. Mungkin, mereka berdua tak akan pernah ada dalam kondisi menyedihkan seperti ini.
Setelah ikatan di tubuhnya terlepas, sang ibu berjalan perlahan menghampiri.
Thedy tersenyum penuh kemenangan, ia merentangkan kedua tangannya, menunggu seseorang untuk memeluknya.
Jleb! tanpa di duga, Aulina menusuk pundaknya dengan pisau dapur yang ia siapkan di balik bajunya, ia pun berlari membawa putranya, menjauh dari Thedy.
Tangannya mencabut pisau di pundaknya hingga mengeluarkan banyak darah, ia lalu membuangnya sembarangan. Kedua matanya melotot marah. " LINA!! BERANI NYA KAMU MENIPU KU!! "
Aulina terus berlari, menghiraukan Thedy yang terus berteriak memanggil namanya dengan marah.
Namun sayang, karena dirinya yang terlalu panik membuatnya mengambil jalur yang salah, pada akhirnya dia tersudut, tak bisa pergi kemana-mana lagi. Saat dirinya ingin berbalik, Thedy sudah berada di depannya, dengan baju yang sudah berlumuran oleh darahnya sendiri.
Dor! tubuh Thedy ambruk kebawah, tembakan itu melukai kakinya, dia pun meringis kesakitan. " Jauhi anak dan istriku, jika tidak, aku akan menembak kepalamu. "
" Aldan! " seru Aulina.
" kalian baik-baik saja? "
Keduanya mengangguk secara bersamaan. " kami baik-baik saja. " timpal Aulina, seraya berlari menghampiri sang suami.
Tubuh Thedy bergetar, Aulina dan Aldan terdiam memperhatikan. " Ini sangat menyenangkan, " gumamnya, ia berdiri seraya menodongkan senjatanya.
" Letakkan senjata mu, atau aku tembak. "
Thedy terkekeh pelan " Kau pikir. . .
*Dor!
" Kau pikir aku becanda*? "
__ADS_1
" Apa seorang dokter boleh menembakkan senjata pada seseorang yang tengah terluka? "
Aldan terdiam tak menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Theddy.
Thedy terkekeh kembali, " kalian tahu? kalian sudah memilih jawaban yang salah. "
" Apa maksud mu? " timpal Aulina seraya memeluk erat tubuh sang putra.
Thedy berdiri dengan susah payah, berjalan menuju ujung gedung, lalu berdiri disana dengan kakinya yang terluka.
" Kalian tahu? selama anak kalian tinggal bersama ku, aku sudah memberinya racun dalam makanan nya. Racun itu perlahan akan menggerogoti tubuhnya. "
uhuk uhuk uhuk, tiba-tiba Juju memuntahkan darah, Aldan dan Aulina terkejut, suhu tubuhnya tiba- tiba menjadi sangat panas.
" Hahahaha lihat, obat nya sudah bereaksi, hidup putra kalian tidak akan lama lagi, " Thedy tergelak mengabaikan rasa sakit yang menderanya. " dan juga penawar itu hanya aku yang tahu saja. "
Aulina dan Aldan, menjadi cemas, putra mereka sudah tak sadarkan diri.
Mereka lalu berbalik, dan tak mendapati Thedy di sana, mereka berdua pun mencari keberadaannya. Betapa terkejutnya mereka, ketika mendapati tubuh Thedy yang sudah tak bernyawa di bawah sana, dia sengaja menjatuhkan dirinya untuk bunuh diri.
" Mas, bagaimana ini? "
" Kamu tak perlu khawatir, yang penting kita bawa anak kita kerumah sakit terlebih dahulu. "
Mereka berdua pun pergi menuju rumah sakit, tak lama kemudian polisi datang beserta ambulan membawa jasad Thedy beserta Juju yang kini mengalami kritis.
Sesampainya di sana, Aldan langsung membawa tubuh sang putra ke UGD.
Aulina hanya bisa menunggu cemas di ruang tunggu, Dara dan Lingga datang beberapa saat kemudian.
" Bagaimana kondisinya? "
Aulina menggelengkan kepalanya, hatinya begitu kacau dan sakit, jika terjadi apa-apa dia tak bisa memaafkan dirinya sendiri.
Setelah menunggu 24 jam, akhirnya Aldan keluar.
" Bagaimana putra kita? apa dia baik-baik saja? "
" Ku harap kamu tak menyalahkan dirimu, "
" Kenapa? apa kamu tak bisa mengeluarkan racun di tubuhnya, bukankah kamu dokter terbaik di seluruh negeri ini? BAGAIMANA BISA KAMU TIDAK BISA MENGELUARKAN RACUN DARI TUBUH ANAK KU SENDIRI! " histerisnya.
__ADS_1
" Lina tenangkan dirimu, aku hanyalah dokter, bukan Dewa ataupun Tuhan, kamu pikir hati ku tak sakit melihatnya seperti itu? "
Tubuh Aulina merosot kebawah, rasa sesal terus memenuhi hatinya.