My Little Hero

My Little Hero
26


__ADS_3

Ponsel di atas meja itu terus bergetar, sedangkan sang pemilik begitu sibuk dengan dunianya sendiri.


Drrrrttt drrrrt lagi ponsel itu kembali bergetar di atas meja, kali ini sang pemilik sadar dan sedikit terusik, lalu kemudian menjawab panggilan tersebut.


" Halo, ada apa? aku pikir jam makan siang masih lama. "


" Aku tahu, apa kamu waktu luang? " tanyanya.


Hening sesaat, melirik kerjaan yang menumpuk. " Sejujurnya aku sangat sibuk, apa itu penting? jika iya akan aku usahakan. "


" Sangat penting. "


" Baiklah, kalau begitu dimana kita harus bertemu? "


" Aku akan mengirimkan alamatnya pada mu? "


" Baiklah, kalau begitu sampai jumpa. "


" mmm " , panggilan itu berakhir, mengerutkan alis seraya menatap layar pada ponselnya sejenak, ada apa ini? kenapa suaminya menghubunginya secara tiba-tiba, membuatnya berpikir yang tidak-tidak, apalagi dia mengatakan bahwa hal itu penting, apa mungkin suaminya akan membahas tentang anak lagi? tapi kenapa? apa dia begitu tak sabar ingin segera mengetahui hasil dari benih yang dia tanam dalam tubuhnya? bukan kah terlalu dini untuk menanyakan nya? lagi pula ini baru berjalan dua minggu.


Tak ingin banyak berpikir panjang, tangannya menyambar tas, lalu bergegas pergi menuju tempat ke alamat yang baru saja diterimanya.


Di sebuah kafe.


Suaminya Aldan tengah terduduk di pojok cafe, tangannya memangku dagu , seraya menatap keluar jendela dengan secangkir kopi di depannya. Aulina tertegun sejenak melihat pemandangan di depan matanya, meski sama-sama sudah berkepala tiga, namun karisma pada suaminya tak pernah luntur di makan waktu.


Aulina berjalan menghampirinya seraya mendudukkan dirinya didepan suaminya . " Apa kamu sudah lama menunggu ? "


Aldan menoleh, senyumnya mengembang melihat kehadirannya. " Belum, aku juga baru sampai. "


Meski senyuman itu sering dilihatnya, namun tak membuatnya bosan ataupun jenuh sedikitpun, mereka berdua saling bersi tatap. " Jadi, ada hal penting apa? sehingga membuatmu mendesak ku seperti ini, bukan tentang bayi kan ?" tanya nya penuh kehati-hatian.


" Kamu pesanlah sesuatu dulu, baru kita bicara. "


Terdiam sejenak, " Baiklah," melihat buku menu, mengangkat satu tangan. " Mbak? " panggilnya, seorang pelayan wanita datang menghampirinya.


" Ada yang bisa saya bantu? "


" Saya pesan ini dan ini. " menunjuk pada gambar, melirik Aldan. " Pesan apa? "


" Tolong samakan saja. "

__ADS_1


Pelayan wanita itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


" Jadi. . .


" Jika aku meminta mu untuk berhenti bekerja, apa kamu akan melakukannya? " selanya.


Aulina tercengang, " Ada dengan mu? Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu? "


" Jawab saja. "


Aulina tergagap. " A-a- aku, bisakah kamu memberiku sedikit waktu untuk berpikir? "


Tubuhnya bersandar pada kursi, menghela nafas. " Pagi tadi aku tak sengaja mendengar percakapan antara anak kita Juju, dan Direktur. "


" Lalu? "


" Kamu tahu apa yang mereka bicarakan? "


Kepala Aulina menggeleng seraya berkata. " Bagaimana aku bisa tahu? "


" Anak kita mengatakan alasan kenapa dia selalu mendesak kita untuk memberinya adik kembar? "


Aldan berdecak. Menatapnya datar.


Meneguk saliva, " Jadi, apa katanya ? " tanya nya penasaran.


" Dia berkata bahwa dirinya sangat kesepian, saat kalian masih berada di luar negeri, awalnya dia berpikir wajar jika kamu begitu sibuk dan tak memiliki waktu luang untuknya, karena kamu adalah tulang punggung keluarga, sekaligus berperan sebagai seorang ibu rumah tangga. Dia yang tak tega melihat mu yang banting tulang sendiri, membuatnya bertekad untuk menemukan ku dan berharap semoga kamu bisa berhenti dan bisa sepenuhnya memperhatikannya. "


Aulina terdiam mendengarkan.


" Aku tak menyalahkan pekerjaan mu, karena aku tahu sejak dulu kamu sangat mencintai pekerjaan mu itu, tapi apakah kamu lebih mencintai pekerjaan mu dari pada anak mu sendiri? "


" A-


" Meski gajih ku tak seberapa jika di bandingkan dengan mu, tapi sebisa mungkin aku tak akan membuat kalian kekurangan ataupun menjadi kelaparan, " menatap dengan serius, " jadi bisakah kamu berhenti bekerja? "


" Bisakah kamu memberiku waktu? " timpalnya, mencoba menjelaskan, " kamu tahu sendiri kan. . .


" Kenapa? apa pekerjaan mu lebih penting dari pada anak mu? " selanya.


" Bukan seperti itu, tentu saja anak lebih penting, tapi. . sudahlah. Sayang, aku tahu kamu masih merasa bersalah, tapi, untuk sekarang kamu tak perlu khawatir lagi kalau anak kita akan kesepian, saat ini dia sudah memiliki seorang teman, dan juga aku sudah berniat untuk menyekolahkannya, kebetulan teman ku memberi tahuku bahwa ada sekolah yang bersedia menerima murid yang memiliki kelebihan seperti anak kita." terangnya

__ADS_1


Aldan mengerutkan alisnya, " tunggu, kamu bilang anak kita sudah memiliki seorang teman, kenapa aku tak tahu? "


Aulina mengangguk " Maka dari itu, aku tahu anak kita sangat kesepian, maka dari itu, aku mengenalkannya kepada Lingga anaknya Dara, "


Aldan tertegun sejenak, " Sejak kapan? "


Berpikir sejenak. " Mungkin sekitar seminggu yang lalau. "


Matanya terbeliak. " Seminggu?! kenapa kamu tak memberi tahu ku? "


" Aku bukannya tak ingin, bukan kah akhir-akhir ini kamu selalu sibuk? dan juga aku lupa memberi tahu mu karena kita sibuk memproses si kembar. " cicitnya


Tubuhnya merosot ke bawah, menyadari bahwa semuanya adalah kebodohan dan ketidak pekaannya.


tak tega, Aulina berjalan menghampiri suaminya, merengkuhnya kedalam pelukannya. " Sudah, jangan menyalahkan dirimu sendiri, semua ini sudah takdir " mengelus kepala suaminya.


Dia pun membalas pelukan itu,. " Aku ayah yang buruk. " ucapnya.


" Kamu ayah terbaik. "


Menggelengkan kepala. " Tidak, aku adalah ayah terburuk yang pernah ada."


" Sayang, lihat aku."


Aldan mendongkak menatap wajahnya, Kedua tangannya menangkup kedua pipi Aldan. " Kamu tahu, anak kita Juju, sangat mengagumimu serta profesi mu, dia bahkan bercita-cita ingin menjadi dokter yang hebat sepertimu, "


" Tapi aku tetaplah ayah yang buruk. "


" Siapa bilang kamu adalah ayah yang buruk? kamu tahu? baginya kamu adalah ayah terbaik yang di milikinya, kamu bagaikan pahlawan semua orang terutama untuknya dan tentunya untukku, jika bukan karena kamu, mungkin aku masih tertidur di atas ranjang rumah sakit sampai sekarang. "


" tapi. .


cup , Aulina membungkam bibir suaminya. " Tak ada tapi-tapian, mulai sekarang aku nggak mau kamu terus mengeluh apalagi menyalahkan diri sendiri lagi, jika tidak, jangan harap pintu kamar akan terbuka untuk mu? "


Hening sesaat , matanya menatap lekat wajah istrinya, tubuhnya mendekat mempersempit jarak di antara keduanya.


" Maaf kak, ini pesanan nya.? " kata pelayan itu yang mengantarkan pesanan mereka, wajahnya merah seraya tersenyum malu-malu. lalu pergi, membuat Aulina tersadar, bahwa mereka tengah berada di cafe, dan kini mereka menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung kafe, semua mata tertuju ke arahnya, beberapa orang berpikir bahwa mereka berdua tengah melakukan sebuah syuting film.


Namun tangan suaminya masih setia melingkar di pinggangnya. seraya berbisik. " Bisakah kita mencari tempat untuk melanjutkannya.? "


Aulina menatap suaminya dengan tatapan tak percaya.

__ADS_1


__ADS_2